Sihal-sihal dalam Masyarakat Batak-Toba
Ditulis oleh Bernandus Sigalingging
PENGANTAR
Hubungan antar manusia dalam kehidupan orang Batak-Toba diatur dalam sistem patuturan (kekerabatan) Dalihan Natolu. Hubungan berdasarkan sistem kekerabatan ini telah disosialisasikan kepada anak sejak dia mengenal lingkungannya yang paling dekat. Secara perlahan, seorang anak diperkenalkan dengan sistem kekerabatan Dalihan Natolu. Bersama dengan itu diperkenalkan kepada marga dan nilai yang terkandung dalam pengertian marga dan silsilah keluarga hula-hula, boru dan marga Batak pada umumnya. Dalam proses pengenalan ini terjadi pengenalan tutur (kerabat), panggilan kekerabatan terhadap orang lain berdasarkan sistem Dalihan Natolu.
Sebagian besar orang Batak-Toba atau secara umum berpandangan bahwa lembaga Dalihan Natolu merupakan satu-satunya sistem yang mengatur kehidupan sosial Batak-Toba. Anggapan ini memang benar karena orang Batak-Toba umumnya hanya mengenal tiga kaki dalihan yang membentuk segi tiga yang digunakan untuk memasak. Dalihan ini menjadi lambang struktur sosial Batak-Toba yaitu Hula-hula, Boru, Dongan sabutuha. Orang Batak-Toba memandang bahwa derajad sosial dalam masyarakat ketiga unsur itu sama. Ketiga unsur itu punya kesamaan tingkat sosial; tak ada yang lebih tinggi satu dari yang lain. Meskipun dianggap berderajat sama, dalam kenyataan hidup sehari-hari, tempat hula-hula ternyata punya peran yang lebih tinggi. Hula-hula dianggap sebagai “debata na tarida” (Allah yang kelihatan), pemberi berkat, pemberi anugerah, pemberi rejeki, pengantar do’a permohonan dan banyak lagi peran yang lain. Peran hula-hula yang lebih tinggi ini mempunyai nilai religius. Kedudukan/jabatan yang tinggi, kekayaan yang melimpah, umur, tidak dapat menjadi alasan dari pihak parboru untuk tidak taat pada perintah pihak hula-hula.
Ketiga unsur dalam dalihan natolu ini mengatur kehidupan orang Batak-Toba dalam menjalin relasi satu sama lain. Dalihan Natolu menjadi dasar kehidupan bermasyarakat bagi seluruh warga masyarakat Batak-Toba. Lembaga Dalihan Natolu ini berfungsi menentukan kedudukan, hak dan kewajiban seseorang atau kelompok orang atau mengatur dan mengontrol tingkah laku seseorang atau kelompok dalam kehidupan adat bermasyarakat. Lembaga ini juga berfungsi sebagai dasar untuk bermusyawarah dan mufakat orang Batak-Toba. Pendek kata, lembaga Dalihan Natolu menjadi landasan hidup sosial masyarakat Batak-Toba. Tetapi sekarang muncul pertanyaan kepada kita, memang hanya inikah yang menjadi landasan hidup masyarakat Batak-Toba?
Dalihan Natolu sebagai landasan sistem sosial Batak-Toba tidak berdiri sendiri. Menurut sebagian orang tua Batak-Toba, lembaga ini merupakan bagian mutlak dari Dalihan Natolu tetapi sering dilupakan orang yaitu Lembaga sihal-sihal. Apa itu sihal-sihal dan apa itu pengertian sihal-sihal?
PENGERTIAN
Menurut Kamus Budaya Batak-Toba karangan MA Marbun dan IMT Hutapea (Balai Pustaka, 1987: 156), arti sesungguhnya sihal-sihal ialah batu yang dipakai sebagai penyela di antara suatu perangkat dalihan (tungku). Ketiga batu dalihan tetap pada tempatnya sementara sihal-sihal selalu diangkat-angkat. Apabila periuk atau kuali yang akan dijerangkan (diletakkan pada posisinya) tidak sesuai besarnya dengan dalihan yang telah ada sebagai landasannya, maka sihal-sihal diletakkan disela dalihan, sehingga periuk atau kuali seimbang posisinya dan menjadi kokoh. Bila periuk atau kuali telah seimbang karena dalihan sebagai landasannya berdiri seimbang, sihal-sihal tidak diperlukan lagi.
Sihal-sihal sebagai istilah dipakai dalam kaitan dengan Dalihan Natolu. Musyawarah masyarakat Dalihan Natolu sering diketengahi oleh pihak sihal-sihal apabila musyawarah tersebut mengalami kemacetan/kebuntuan dalam pengambilan suatu keputusan. Fungsi sihal-sihal biasanya dipegang atau diwakili oleh raja yang kedudukannya tidak terikat pada salah satu unsur Dalihan Natolu.
Sihal-sihal merupakan suatu fungsi dalam masyarakat Batak-Toba yang berada di luar Dalihan yang berperan sebagai penjamin keseimbangan, bila suatu waktu harmoni antara Dalihan Natolu terganggu. Sebab itu, dalam setiap musyawarah Dalihan Natolu, kehadiran sihal-sihal selalu diperlukan.
SIHAL-SIHAL DAN PERMASALAHAN
Kita sudah melihat bahwa sihal-sihal berfungsi sebagai penyeimbang baik sebagai penyeimbang pada kaki dalihan (tungku) maupun dalam musyawarah Dalihan Natolu. Sihal-sihal ini kadangkala disebut juga Solot-solot yaitu solot-solot suatu dalihan. Sihal-sihal adalah batu kecil yang diselipkan di salah satu kaki dalihan. Bila periuk atau kuali yang berada di atas dalihan untuk memasak makanan tidak stabil karena tidak seimbang, sihal-sihal dibutuhkan sehingga kedudukan periuk atau kuali kokoh. Dengan demikian makanan dapat masak dengan baik. Inilah fungsi praktis sihal-sihal dalam kehidupan sosial masyarakat Batak-Toba dalam kaitan dengan lembaga Dalihan Natolu?
Masyarakat Batak-Toba mengenal ungkapan yang berkaitan dengan Dalihan Natolu, “Somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu”. Ungkapan tersebut bila dihubungkan dengan sihal-sihal berbunyi demikian, “Somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu, sorta marale-ale”. Ale-ale (teman karib, sahabat karib) memang mempunyai kedudukan penting dalam konteks pergaulan hidup masyarakat Batak-Toba. Ale-ale penting karena memang manusia tak dapat hidup tanpa ale-ale. Demikian pentingnya ale-ale sehingga orang Batak-Toba mengungkapkan demikian: hansit na matean ina, hansitan na sirang marale-ale (sedih ditinggal ibu tetapi lebih sakit, putus hubungan dengan teman karib). Lalu muncul pertanyaan, apakah ale-ale dapat digolongkan sebagai unsur sihal-sihal? Bila ale-ale merupakan wujud nyata dari sihal-sihal, siapakah yang dimaksud dengan ale-ale itu?
Dalam masyarakat Batak-Toba pada zaman dahulu, sebelum modernitas mempengaruhi kehidupan masyarakat, tidak ada ditemukan orang yang berkedudukan sebagai ale-ale dalam suatu huta atau kampung. Kampung atau huta dihuni oleh orang-orang semarga (sampai sekarang kita masih bisa lihat sisanya seperti barisan Sinaga, Nainggolan, Lumban Sihombing, dll, meskipun tidak lagi murni di desa itu dihuni oleh marga yang bersangkutan). Bila ada marga lain di kampung itu, biasanya orang itu berstatus boru dan mereka itu biasanya sulit untuk memperoleh hak untuk memiliki sawah atau lading. Hubungan di desa itu diungkapkan dengan sebutan amang uda, amang tua, ompung, anggi, amang boru. Jadi tak ada yang disebut sebagai ale-ale. Ale-ale mungkin ada di antara orang yang berlainan huta dan lain marga.
Ada kemungkinan terjadi ale-ale di antara dua atau lebih kampung yang berlainan marga melihat keadaan hubungan sosial orang Batak-Toba di jalan yang lampau.
Penciptaan persahabatan di antara dua kampung atau lebih sering terjadi mengingat bahwa dahulu sering terjadi perang antar kampung (huta). Persahabatan itu menyangkut hubungan membela nyawa sahabat. Persahabatan antar kampung menyangkut hubungan membela keselamatan huta sahabat beserta isinya. Dengan demikian kedudukan ale-ale sangat tinggi dikalangan orang Batak-Toba dan mempunyai peranan penting dalam adat-istiadat.
Hal ini ditunjukkan dengan pemberian penghormatan tertinggi selain kepada hula-hula oleh suhut kepada seseorang yang dianggap berjasa padanya pada hari-hari yang lalu. Demikianlah terjadi bahwa ale-ale bukanlah teman semarga atau teman sekampung.
Sebenarnya ada banyak permasalahan untuk menentukan siapakah yang dapat dimasukkan dalam lambang sihal-sihal. Kita sudah melihat bahwa orang Batak-Toba menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan. Hal ini ditunjukkan dengan istilah ale-ale. Ale-ale adalah istilah yang dipakai kepada golongan orang-orang atau pihak atau relasi atau sahabat karib di luar Dalihan Natolu. Jadi ale-ale bukan dongan sabutuha, boru ataupun hula-hula.
Tetapi kita tidak bisa memastikan apakah ini yang termasuk dalam lambang sihal-sihal. Ada juga yang berpendapat bahwa sihal-sihal adalah lambang dari golongan pariban istri (dari marga lain). Mereka punya tugas sebagai suhut dalam bidang praktis. Mereka turut bertanggung-jawab serta berperan dalam menentukan sukses tidaknya pesta suhut. Tetapi ada juga pendapat yang mengatakan bahwa yang termasuk dalam lambang sihal-sihal adalah dongan sahuta karena peran penting mereka dalam pelaksanaan adat Batak-Toba. Dongan sahuta dianggap sebagai sejajar dengan suhut.
PENUTUP
Kaum muda Batak-Toba dewasa ini, khususnya yang tinggal diperkotaan, mungkin hamper tidak lagi mengenal apa itu sihal-sihal. Hal ini dapat dimaklumi mengingat bahwa kebanyakan orang pada zaman ini (masa sekarang) tidak lagi menggunakan dalihan untuk sebagai tungku pemasak (memakai kompor minyak tanah atau kompor gas). Di kampung-kampung pun modernitas sudah masuk sehingga kita bisa melihat bahwa kebanyakan orang ini menggunakan alat-alat modern untuk memasak seperti alat pemasak yang menggunakan listrik atau gas dari berbagai merek dagang yang kita kenal sekarang. Ini berhubungan dengan alasan-alasan praktis. Gampang digunakan dan cepat proses masak-memasaknya.
Orang tidak menggunakan dalihan yang terbuat dari batu untuk memasak. Selain tidak praktis, menggunakan batu sebagai dalihan harus memperhitungkan keseimbangan lagi sehingga merepotkan. Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari. Sihal-sihal sebagai suatu istilah dalam kehidupan sosial mungkin sudah dilupakan.
Sihal-sihal bukan bagian integral dari ketiga kaki dalihan. Sihal-sihal tak mungkin ada bila dalihan tidak ada. Sihal-sihal dibutuhkan di atas salah satu kaki dalihan karena kedudukan salah satu kaki dalihan itu lebih rendah dari yang lain. Bila kaki dalihan sudah seimbang, sihal-sihal tidak diperlukan. Sihal-sihal itu hanya diperlukan bila terjadi ketidak-seimbangan. Bila periuk atau kuali stabil posisinya di atas dalihan, sihal-sihal sama sekali tidak diperlukan. Agar dalihan dapat menjadi sandaran yang kokoh dan memberi keseimbangan pada periuk atau kuali diatasnya, ketiga batu tungku harus sama tinggi dan sama kuatnya. Untuk itu perlu memilih dan meletakkan batu dalihan secara tepat.
Dalam kehidupan masyarakat budaya Batak-Toba, sihal-sihal pun mempunyai peran penting khususnya bila musyawarah dalam masyarakat Dalihan Natolu mengalami kemacetan dalam mengambil suatu keputusan. Kita sudah melihat ada beberapa persoalan untuk menentukan siapa yang termasuk dalam lambang sihal-sihal ini, tetapi yang jelas fungsi sihal-sihal ini biasanya dipegang atau diwakili oleh raja yang kedudukannya tidak terikat pada salah satu unsur Dalihan Natolu.
Sihal-sihal ini berperan sebagai penjamin keseimbangan bila suatu waktu terjadi disharmoni dalam Dalihan Natolu. Bila sihal-sihal diperlukan ketika kaki dalihan tidak seimbang, tidak demikian halnya fungsi sihal-sihal dalam lembaga Dalihan Natolu.
Sihal-sihal sangat diperlukan sebagai pihak yang netral dalam musyawarah Dalihan Natolu. Begitu penting sebenarnya peranan sihal-sihal sehingga kedudukan sihal-sihal sehingga kedudukan sihal-sihal itu sangat diperlukan dalam setiap musyawarah Dalihan Natolu.
Tetapi perlu kita ingat bahwa sihal-sihal dalam lembaga Dalihan Natolu hanya berfungsi untuk hal yang baik. Bila sihal-sihal justru tidak membuat keadaan menjadi lebih baik, sihal-sihal tidak diperlukan. (f)
(Dipublikasikan untuk kepentingan pendidikan)
Sabtu, 01 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
apa ada literatur lain soal sihal-sihal?
BalasHapus