Minggu, 09 Mei 2010
BORJUIS DAN PROLETAR
Ditulis oleh Karl Marx dan Engels (1)
Sejarah semua masyarakat yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas. Sejarah perjuangan kelas orang-orang yang diperbudak melawan orang-orang merdeka, plebejer melawan patrisir, hamba melawan tuan bangsawan, buruh magang melawan pemilik gilda, pendeknya: si tertindas melawan si penindas, mereka semua senantiasa ada dalam pertentangan satu dengan yang lainnya, melakukan perjuangan yang tiada putus-putusnya, kadang-kadang dengan sembunyi-sembunyi, kadang-kadang dengan terang-terangan, setiap perjuangan yang bisa saja diakhiri dengan penyusunan-kembali masyarakat umum, atau kelas-kelas yang saling bermusuhan tersebut sama-sama binasa. Dalam zaman permulaan sejarah, hampir di mana pun, kita dapati suatu susunan rumit masyarakat yang terbagi menjadi berbagai golongan, menjadi banyak tingkatan kedudukan sosial, misalnya, di Roma purbakala terdapat kaum patrisir, kaum ksatria, kaum plebejer, dan kaum budak serta, dalam Zaman Tengah, terdapat kaum feodal, kaum vasal, kaum pemilik gilda, kelas buruh magang, kaum malang, dan kaum hamba; dalam hampir semua kelas tersebut terdapat lagi tingkatan-tingkatan bawahannya. Masyarakat borjuis moderen, yang tumbuh dari runtuhan masyarakat feodal, tidak lah menghilangkan pertentangan-pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru, syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru, sebagai pengganti yang lampau. Zaman kita, zaman borjuis, mempunyai sifat yang istimewa: ia telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas. Masyarakat seluruhnya semakin lama semakin terpecah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan satu dengan yang lainnya –borjuis dan proletar.
Dari kaum hamba pada Zaman Tengah timbullah wargakota (dari kota-kota yang paling permulaan) yang berhak-penuh. Dari warga kota-kota ini berkembang lah anasir-anasir pertama borjuis. Ditemukannya benua Amerika dan dikelinginya Tanjung Harapan di Afrika Selatan memberikan lapangan baru bagi borjuis yang sedang tumbuh; pasar-pasar di Hindia Timur dan Tiongkok, kolonisasi atas Amerika, perdagangan dengan tanah-tanah jajahan, bertambah banyaknya alat pertukaran dan barang dagangan pada umumnya, memberikan kepada perdagangan, kepada pelayaran, kepada industri, suatu dorongan yang tak pernah dikenal sebelumnya, dan bersamaan dengan itu mendorong (maju dengan lebih cepat) anasir-anasir revolusioner dalam masyarakat feodal yang sedang runtuh tersebut.
Sistim industri feodal, dalam arti produksi industri yang semata-mata dimonopoli oleh gilda-gilda, sekarang tidak lagi mencukupi kebutuhan-kebutuhan pasar-pasar baru yang semakin bertambah. Sistim manufaktur lah yang kemudian menggantikannya. Pemilik-pemilik gilda didesak keluar oleh kelas menengah manufaktur; pembagian kerja di antara berbagai gabungan gilda hilang dengan lahirnya pembagian kerja di setiap bengkel pertukangan yang memisahkan dirinya masing-masing. Sementara itu pasar-pasar senantiasa semakin meluas, kebutuhan senantiasa bertambah. Sistim manufaktur itu pun tak lagi mencukupinya. Segera sesudah itu uang dan mesin-mesin merevolusionerkan produksi industri. Kedudukan manufaktur diambil alih industri modern raksasa, kedudukan kelas menengah industri digantikan oleh milyuner-milyuner industri, pemimpin-pemimpin kesatuan (lengkap) pasukan industri, kelas borjuis modern. Industri modern telah menciptakan pasar dunia, yang telah dibukakan jalannya dengan ditemukannya Amerika. Pasar tersebut kemudian memberikan kemajuan mahabesar pada perdagangan, pada pelayaran, pada perhubungan darat. Kemajuan ini, pada gilirannya, bereaksi terhadap meluasnya industri. Dan sebanding dengan meluasnya industri, perdagangan, pelayaran, perbubungan kereta api, maka borjuis pun semakin maju, kapitalnya bertambah dan mendesak ke belakang setiap kelas peninggalan Zaman Tengah. Oleh sebab itu, tahu lah kita bagaimana borjuis modern itu sendiri adalah hasil dari perjalanan perkembangan yang lama, dari suatu rangkaian revolusi-revolusi dalam cara produksi dan cara pertukaran.
Tiap langkah dalam perkembangan borjuis diikuti pula oleh suatu kemajuan politik yang sesuai dengan kelas tersebut. Masyarakat yang memiliki ciri-ciri yang kelas tertindasnya berada dibawah kekuasaan bangsawan feodal, yang memiliki suatu perserikatan bersenjata, dan yang memerintah komune Zaman Tengah secara mandiri --dalam hal ini adalah berupa republik-kota yang merdeka (seperti di Italia dan Jerman), di lain tempat berupa 'pangkat ketiga' wajib-pajak dalam monarki (seperti di Perancis)-- kemudian bergerak ke masa manufaktur yang sebenarnya, namun yang masih mengabdi pada monarki setengah-feodal, atau pada monarki absolut. Kekuatan baru pada masa manufaktur tersebut mulai menjadi kekuatan pengimbang terhadap kelas bangsawan --dalam kenyataannya, merupakan batu pijakan titik berangkat monarki-monarki besar pada umumnya-- dan pada pada akhirnya menjadi masyarakat borjuis, sejak berdirinya industri modern dan pasar dunia, karena telah merebut demi dirinya sendiri segenap kekuasaan politik negara konstitusionil modern. Badan eksekutif negara modern hanyalah merupakan sebuah komite untuk mengatur urusan-urusan bersama seluruh borjuis.
Borjuis, secara historis, telah memainkan peranan yang sangat revolusioner.
Borjuis, di mana saja, telah memperoleh kekuasaannya, telah mengakhiri semua hubungan feodal patriarkal, telah mengakhiri hubungan feodal pedesaan. Borjuis dengan tak kenal belas kasih telah merenggut putus pertalian feodal yang beranekaragam, yang mengikat manusia pada 'atasan alamiahnya', dan tak meninggalkan ikatan lain antar manusia selain kepentingan dirinya semata, selain daripada 'pembayaran tunai' yang kejam. Ia telah menghanyutkan getaran-suci damba keagamaan yang paling memabukkan sekalipun, menghanyutkan gairah kekesatriaan, menghanyutkan sentimentalisme filistin, ke dalam air dingin perhitungan egois. Ia telah menukar harga diri dengan nilai-tukar dan, sebagai gantinya, diperoleh lah tumpukan fakta kebebasan yang tak terhitung jumlahnya, yang telah disahkan undang-undang yang tak boleh semena-mena dibatalkan, suatu kebebasan yang tidak didasarkan pada akal sehat—perdagangan bebas. Pendek kata, penghisapan yang diselimuti oleh ilusi-ilusi keagamaan dan politik digantikan oleh penghisapan yang terang-terangan, tak kenal malu, langsung, ganas.
Borjuis telah menanggalkan anggapan mulia terhadap setiap jabatan yang selama ini dihormati dan dipuja dengan penuh ketaatan. Ia telah mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana menjadi buruh-upahannya yang ia bayar.
Borjuasi telah merobek-robek selubung perasaan kekeluargaan, dan memerosotkannya menjadi hubungan-uang belaka. Borjuis telah membongkar makna pertunjukan kekuatan secara kasar pada Zaman Tengah, yang begitu dikagumi oleh kaum reaksioner itu, dengan julukan imbangan: kemalasan yang paling lamban. Borjuis lah yang pertama-tama menunjukkan apa yang dapat dan seharusnya dihasilkan oleh kegiatan manusia. Ia telah melahirkan keajaiban-keajaiban yang jauh melampaui piramida-piramida Mesir, saluran-saluran-air Roma dan katedral-katedral gotik; ia telah melakukan ekspedisi-ekspedisi yang sangat berlainan ketimbang sekadar perpindahan-perpindahan bangsa-bangsa dan perang-perang salib di masa lalu.
Borjuis tak dapat hidup tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas-perkakas produksinya dan, karenanya, merevolusionerkan hubungan-hubungan produksi, dan dengan itu semuanya merevolusionerkan segenap hubungan dalam masyarakat. Sebaliknya, mempertahankan cara-cara produksi lama, dalam bentuknya yang tak berubah, adalah sarat hidup pertama bagi segala kelas industri yang lama. Senantiasa merevolusionerkan produksi, kekacauan segala kondisi sosial yang tiada putus-putusnya, ketiadaan kepastian dan kegelisahan abadi, adalah hal-hal yang membedakan zaman borjuis dengan semua zaman terdahulu. Segala hubungan yang telah ditetapkan, yang telah beku dan berkarat, dengan rentetan prasangka-prasangka serta pendapat-pendapat kuno yang disegani, disapu bersih, segala yang tadinya baru segera bisa dibentuk menjadi usang sebelum membatu. Segala yang padat menguap ke udara, segala yang suci dinodai dan, pada akhirnya, manusia terpaksa menghadapinya dengan hati tenang semua syarat-syarat hidupnya yang sebenarnya, juga syarat-syarat hubungan-hubungannya dengan sesamanya.
Kebutuhan untuk senantiasa memperluas pasar bagi barang-barang hasil produksi merupakan dorongan di kalangan borjuis untuk merangkul muka bumi dengan barang-barangnya. Ia harus berada di mana-mana, bertempat di mana-mana, menjalin hubungan-hubungan di mana-mana.
Melalui penghisapannya atas pasar dunia, borjuis telah memberikan sifat kosmopolitan kepada produksi dan konsumsi di tiap-tiap negeri. Kaum Reaksioner meratap sedih karena borjuis telah menyeret dari bawah kakinya pijakkan bumi industri bangsanya.
Setiap harinya, Semua industri bangsanya yang sudah lapuk dihancurkan atau sedang dalam proses penghancuran. Semuanya diganti oleh industri-industri baru yang pelaksanaannya memang menjadi masalah hidup-mati bagi semua bangsa yang akan menjadi beradab, diganti oleh industri-industri yang tidak lagi mengerjakan bahan mentah dari negerinya sendiri, tetapi bahan mentah yang didatangkan dari wilayah-wilayah-dunia yang paling jauh letaknya sekalipun, diganti oleh industri-industri yang hasil-hasilnya tidak saja dipakai di dalam negeri tetapi di setiap pelosok dunia. Sebagai pengganti kebutuhan-kebutuhan masa lampau, yang hanya dipuaskan oleh produksi negerinya sendiri, muncul lah kebutuhan-kebutuhan baru, yang dipuaskan oleh hasil-hasil dari negeri-negeri serta daerah-daerah beriklim berbeda, yang sangat jauh letaknya. Sebagai pengganti keadaan lama yang terasing, keadaan yang hanya mencukupi-kebutuhan-sendiri secara lokal maupun secara bangsa, muncul lah hubungan ke segala jurusan, keadaan saling-tergantung yang universal di antara bangsa-bangsa. Dan, seperti halnya dengan produksi material, demikian juga lah keadaannya dalam hal produksi intelektual. Ciptaan-ciptaan intelek dari satu bangsa kemudian menjadi milik bersama. Kesepihakan serta kesempitan pandangan kebangsaan menjadi makin tidak mungkin dan, dari sejumlah besar literatur bangsa dan lokal, timbul lah suatu literatur dunia.
Borjuis, dengan perbaikan-cepat segala alat produksi, dengan makin sangat dipermudahnya kesempatan menggunakan alat-alat perhubungan, menarik segala bangsa, sampai yang paling biadab pun, kedalam peradaban. Harga-harga murah barang dagangannya merupakan artileri berat yang memporak-porandakan segala tembok Tiongkok, yang menaklukkan kebencian-kepala batu kaum biadab terhadap orang-orang asing. la memaksakan cara produksi borjuis kepada semua bangsa, dengan ancaman akan musnah; ia memaksakan ke tengah-tengah lingkungan mereka apa yang olehnya disebut peradaban, yaitu, supaya mereka sendiri menjadi borjuis. Pendek kata, ia menciptakan suatu dunia menurut bayangannya sendiri.
Borjuis menundukkan, menaklukan, desa kepada kekuasaan kota, la telah menciptakan kota-kota yang hebat, telah sangat menambah penduduk kota dibanding dengan penduduk desa, dan dengan demikian telah melepaskan sebagian besar penduduk dari kedunguan kehidupan desa. Sebagaimana halnya ia telah menjadikan desa bergantung kepada kota, begitu pun ia telah menjadikan negeri biadab dan setengah-biadab bergantung kepada negeri yang beradab, bangsa kaum tani kepada bangsa borjuis, Timur kepada Barat.
Borjuis senantiasa makin bersemangat menghapuskan keadaan penduduk yang terpencar-pencar dari alat-alat produksinya, dan dari hak pemilikannya. Ia telah menimbun penduduk, memusatkan alat-alat produksi, dan telah mengkonsentrasikan hak pemilikan ke dalam beberapa tangan. Akibat yang seharusnya dari hal tersebut adalah pemusatan politik. Provinsi-provinsi yang merdeka atau yang mempunyai hubungan tak begitu erat dengan kepentingan-kepentingan, undang-undang, pemerintah dan sistim pajak yang berlain-lainan, menjadi terpadu sebagai satu bangsa, dengan satu pemerintah, satu undang-undang, satu kepentingan kelas, satu bangsa, satu perbatasan dan satu tarif pabean.
Borjuis, yang kekuasaannya belum genap seratus tahun itu, telah menciptakan: tenaga-tenaga produktif yang lebih teguh dan lebih besar ketimbang yang telah diciptakan oleh generasi-generasi sebelumnya dijadikan satu. Ditundukkannya kekuatan-kekuatan lama kepada manusia, mesin-mesin, pelayaran kapal api, penerapan ilmu kimia pada industri dan pertanian, jalan kereta api, pembukaan benua-benua untuk tanah garapan, telegrafi listrik, penyaluran irigasi-sungai, semuanya sepertinya (merupakan kekuatan sihir) yang menyeret sejumlah besar penduduk dikeluarkan dari dalam tanah—abad terdahulu manakah yang dapat menduga adanya tenaga-tenaga produktif yang sedemikian dasyat itu, yang tertidur dalam pangkuan kerja masyarakat?
Jadi, tahu lah kita: alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, landasan pijak borjuis untuk berkembang, ditimbulkan di dalam masyarakat feodal. Memang, pada suatu tingkat tertentu dalam perkembangan alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, terdapat syarat-syarat hidup bagi masyarakat feodal, yang juga menghasilkan dan mengadakan pertukaran, suatu organisasi feodal pertanian dan industri manufaktur-kecil, pendek kata, hubungan-hubungan pemilikan feodal yang, namun, tidak lagi dapat disesuaikan dengan tenaga-tenaga produktif yang sudah berkembang; semuanya itu merupakan belenggu-belenggu yang terlalu banyak; semuanya itu harus dipatahkan, dan mereka memang dipatahkan.
Sebagai gantinya, datanglah persaingan bebas, disertai oleh susunan sosial dan politik yang diselaraskan dengannya, oleh kekuasaan ekonomi dan politik kelas borjuis.
Suatu gerakan serupa sedang berlangsung di hadapan mata kepala kita sendiri. Masyarakat borjuis modern, dengan hubungan-hubungan produksinya, dengan hubungan-hubungan pertukarannya, dengan hubungan-hubungan pemilikannya, dan merupakan suatu masyarakat yang telah menjelmakan alat-alat produksi serta alat-alat pertukaran yang begitu raksasa, adalah seperti tukang sihir yang tidak dapat mengontrol lagi tenaga-tenaga alam gaib yang telah dipangil oleh mantera-manteranya. Sudah sejak berpuluh-puluh tahun, dalam sejarah industri dan perdagangan, isinya hanya lah sejarah pemberontakan tenaga-tenaga produktif modern melawan syarat-syarat produksi modern, melawan hubungan-hubungan pemilikan yang merupakan syarat-syarat hidup bagi borjuis dan kekuasaannya. Cukup lah menyebut krisis-krisis perdagangan yang dengan terulang terus secara periodik, setiap kali lebih berbahaya, mengancam kelangsungan hidup seluruh masyarakat borjuis. Krisis-krisis ini tidak saja menimpa sebagian besar barang-barang hasil produksi yang ada, tetapi juga menimpa tenaga-tenaga produktif yang telah diciptakan sebelumnya, semuanya dihancurkan secara periodik. Dalam krisis-krisis tersebut berjangkit lah wabah yang di dalam zaman-zaman terdahulu merupakan suatu kejanggalan—wabah kelebihan produksi. Tiba-tiba masyarakat mendapatkan dirinya terlempar kembali dalam suatu keadaan kebiadaban sementara; nampaknya seakan-akan suatu kelaparan, suatu perang pembinasaan umum yang telah memusnahkan persediaan segala bahan keperluan hidup; industri dan perdagangan seakan-akan dihancurkan; dan mengapa? Karena terlampau banyak peradaban, terlampau banyak bahan-bahan keperluan hidup; terlampau banyak industri, terlampau banyak perdagangan. Tenaga-tenaga produktif yang tersedia bagi masyarakat tidak lagi dapat melanjutkan perkembangan syarat-syarat milik borjuis; sebaliknya, mereka telah menjadi terlampau kuat bagi syarat-syarat ini, membelenggu mereka, dan segera setelah mereka mengatasi rintangan belenggu-belenggu ini, mereka mendatangkan kekacauan ke dalam seluruh masyarakat borjuis, membahayakan milik borjuis. Syarat-syarat masyarakat borjuis terlampau sempit untuk memuat kekayaan yang diciptakan olehnya. Dan bagaimana kah borjuis mengatasi krisis-krisis tersebut? Pada satu pihak, dengan memaksakan penghancuran sejumlah besar tenaga-tenaga produktif, pada pihak lain, dengan merebut pasar-pasar baru, dan menyulap pasar-pasar yang lama dengan cara yang lebih sempurna. Itu artinya, membukakan jalan bagi krisis-krisis yang lebih luas dan lebih merusakkan, dan mengurangi syarat-syarat yang dapat mencegah krisis-krisis itu.
Senjata-senjata yang digunakan oleh borjuis untuk menumbangkan feodalisme sekarang berbalik kepada borjuis itu sendiri.
Tetapi, tidak saja borjuis tersebut memproduksi senjata-senjata yang mendatangkan mautnya sendiri; ia juga telah melahirkan manusia-manusia yang akan menggunakan senjata-senjata itu—kelas buruh modern—proletar.
Dibandingkan dengan perkembangan borjuis, artinya, perkembangan kapital, maka dalam derajat yang sama proletariat, kelas buruh modern, juga berkembang—suatu kelas buruh yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerja mereka memperbesar kapital. Kelas buruh tersebut, yang harus menjual dirinya sepotong-sepotong layaknya suatu barang dagangan seperti semua barang dagangan lainnya, karenanya menyerahkan dirinya mentah-mentah kepada segala perubahan persaingan, kepada segala perguncangan pasar.
Disebabkan oleh pemakaian mesin-mesin secara luas dan, karenanya, pembagian kerja pun semakin meluas, hilanglah segala sifat perseorangan pekerjaan proletar, dan karena itu pula hilang lah segala kegairahan si buruh. Ia menjadi semata-mata lampiran-tambahan dari mesin dan dengan demikian, kecakapannya menjadi paling sederhana, paling menjemukan dan paling mudah didapat --itu lah semua yang dibutuhkan dari dia-- ketimbang mesin. Karena itu, biaya produksi seorang buruh terbatas semata-mata setara dengan nilai bahan-bahan keperluan hidup yang diperlukan untuk hidupnya dan untuk pembiakan keturunannya. Tetapi harga sesuatu barang dagangan, oleh sebab itu, juga harga kerjanya, akan sama dengan biaya produksinya. Oleh sebab itu, sederajat dengan makin tidak menyenangkannya kerja tersebut, turun lah upahnya. Bahkan lebih dari itu, dalam derajat setara dengan pemakaian mesin-mesin dan pembagian kerja yang bertambah, dalam derajat yang itu itu pula beban kerja bertambah, baik dengan memperpanjang jam kerja, dengan menambah banjaknya pekerjaan dalam waktu tertentu, atau dengan mempertinggi kecepatan mesin-mesin, dan sebagainya.
Industri modern telah mengubah bengkel kecil kepunyaan majikan patriarkal menjadi pabrik besar kepunyaan kapitalis industri. Massa kelas buruh yang dikumpulkan dalam pabrik diorganisir seperti serdadu. Sebagai serdadu biasa pasukan industri, mereka diatur di bawah perintah suatu susunan-kepangkatan yang rapi, terdiri dari opsir-opsir dan sersan-sersan. Mereka tidak hanya menjadi budak kelas borjuis dan budak negara borjuis saja; mereka setiap hari dan setiap jam diperbudak oleh mesin-mesin, oleh mandor-mandor, dan terutama sekali oleh tuan pabrik borjuis, orang-seorang itu sendiri. Semakin terang-terangan kelaliman tersebut menyatakan bahwa keuntungan adalah tujuan dan maksudnya, maka semakin dan semakin membencikan dan memarahkan lah borjuis itu.
Semakin kurang kecakapan dan semakin kurang pemakaian tenaga kerja badan yang diperlukan maka dengan kata-kata lain, itu berarti industri modern menjadi semakin sempurna. Semakin banyak kerja lelaki yang digantikan oleh kerja perempuan. Perbedaan umur dan perbedaan jenis kelamin tidak lagi mempunyai arti kemasyarakatan yang penting bagi kelas buruh. Semuanya merupakan perkakas kerja, jenis kelamin mereka sekadar dinilai kurang atau lebih mahalnya mereka dipakai untuk produksi.
Jika penghisapan buruh oleh pengusaha sudah sampai sedemikian jauhnya, sehingga ia menerima upahnya dengan tunai, maka diterkam lah ia oleh bagian-bagian lain borjuis, siapapun borjuis itu, pemilik tanah kah, pemilik toko kah, pemilik pegadaian kah, dan sebagainya.
Lapisan rendahan dari kelas antara/tengah—kaum pengusaha kecil, pemilik toko kelontongan dan tukang riba umumnya, pengrajin dan kaum tani --semuanya berangsur-angsur terjengkang menjadi proletariat, sebagian oleh karena kapitalnya yang kecil, tidak cukup untuk menjalankan industri besar, menderita kekalahan dalam persaingan dengan kelas kapitalis besar, sebagian juga oleh karena keahlian mereka menjadi tidak berharga dalam tiap-tiap produksi yang baru. Begitu lah proletariat terbentuk dari segala kelas penduduk.
Proletariat melalui berbagai tingkat perkembangan. Bersamaan dengan lahirnya, dimulai lah perjuangannya melawan borjuis. Mula-mula perjuangan tersebut dilakukan oleh kelas buruh orang-seorang, kemudian oleh buruh suatu pabrik, kemudian oleh buruh dari satu macam perusahaan di satu tempat melawan burdjuis orang seorang yang langsung menghisap mereka. Mereka tidak mengerahkan serangan-serangannya terhadap syarat-syarat produksi borjuis, tetapi terhadap perkakas-perkakas produksi itu sendiri; mereka merusakkan barang-barang impor yang menyaingi kerja mereka, mereka menghancurkan mesin-mesin, mereka membakar pabrik-pabrik, dengan paksa mereka mencoba mengembalikan kedudukannya sebagai pekerja Zaman Tengah yang telah lenyap itu.
Pada tingkat tersebut kelas buruh merupakan suatu massa lepas yang tersebar di seluruh negeri dan terpecah belah oleh persaingan di kalangan mereka sendiri. Jika di suatu tempat mereka bersatu membentuk badan-badan yang lebih erat terhimpun, hal tersebut belum lah merupakan akibat dari persatuan yang aktif dari mereka sendiri, tetapi karena persatuan borjuis, kelas yang untuk mencapai tujuan politiknya sendiri terpaksa menggerakkan seluruh proletariat, namun hanya untuk sementara waktu saja mereka masih bisa berbuat demikian. Oleh karena itu, pada tingkat tersebut proletar tidak bisa melawan musuh-musuhnya, tetapi melawan musuh-musuhnya borjuis, yaitu sisa-sisa monarki absolut kelas pemilik tanah, borjuis bukan-industri, borjuis kecil. Dengan demikian seluruh gerakan yang bersejarah tersebut berpusat di tangan borjuis; tiap-tiap kemenangan yang dicapai dengan cara demikian adalah kemenangan borjuis.
Tetapi dengan berkembangnya industri, proletariat tidak saja bertambah jumlahnya; mereka terkonsentrasi menjadi massa yang lebih besar, kekuatannya bertambah besar dan ia semakin merasakan kekuatan tersebut. Kepentingan-kepentingan dan syarat-syarat hidup yang bermacam ragam dalam barisan proletariat semakin lama semakin menjadi sama, sederajat dengan dihapuskannya segala perbedaan kerja oleh mesin-mesin dan dengan diturunkannya upah hampir di mana-mana sampai pada tingkat yang sama rendahnya. Persaingan yang semakin menjadi-jadi di kalangan kelas borjuis dan krisis-krisis perdagangan yang diakibatkannya, menyebabkan upah kelas buruh senantiasa berguncang. Perbaikan mesin-mesin yang tidak henti-hentinya itu senantiasa berkembang dengan lebih cepat, menyebabkan penghidupan mereka makin lama makin tidak menentu; bentrokan-bentrokan antara buruh orang-seorang dengan borjuis orang-seorang semakin lama bersifat bentrokan-bentrokan antar dua kelas. Sesudah itu kelas buruh mulai membentuk perkumpulan-perkumpulan menentang kelas borjuis; mereka berhimpun untuk mempertahankan upah-kerja mereka; mereka mendirikan perserikatan-perserikatan yang permanen untuk mempersiapkan diri menyongsong perlawanan sewaktu-sewaktu ini. Di sana-sini perjuangan tersebut meletus—menjadi huru-hara.
Kadang kelas buruh memperoleh kemenangan, tetapi hanya untuk sementara waktu. Buah yang sebenarnya dari perjuangan mereka tidak terletak pada hasil yang langsung, tetapi pada semakin meluasnya persatuan kelas buruh. Persatuan ini dibantu terus oleh kemajuan alat-alat perhubungan yang dibuat oleh industri modern dan yang membawa kelas buruh dari berbagai daerah berhubungan satu dengan yang lainnya. Justru perhubungan inilah yang diperlukan untuk memusatkan perjuangan-perjuangan lokal yang banyak itu, yang kesemuanya itu mempunyai sifat yang sama, menjadi satu perjuangan bangsa antara kelas dengan kelas. Tetapi, setiap perjuangan kelas adalah perjuangan politik. Dan persatuan ini, yang untuk mencapainya warga kota-kota pada Zaman Tengah, dengan jalan-jalan mereka yang sangat buruk, memerlukan waktu yang berabad-abad lamanya, namun berkat adanya jalan-jalan kereta api, dicapai oleh proletar modern dalam beberapa-tahun saja.
Terorganisirnya proletar menjadi kelas, yang dengan demikian akan menjadi partai politik, senantiasa dirusak kembali oleh persaingan di kalangan kelas buruh sendiri. Tetapi ia selalu bangun kembali, lebih kuat, lebih teguh, lebih perkasa. Ia memaksakan pengakuan undang-undang atas kepentingan-kepentingan tertentunya dengan jalan menggunakan perpecahan di kalangan borjuis sendiri. Maka lahir lah undang-undang sepuluh-jam kerja di Inggris.
Kesimpulannya, bahwa bentrokan-bentrokan antara kelas dengan kelas di dalam masyarakat lama, dengan berbagai cara, mendorong maju perkembangan proletariat. Borjuis terlibat dalam perjuangan terus-menerus. Mula-mula dengan aristokrasi; kemudian dengan bagian-bagian dari borjuis itu sendiri, yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan kemajuan industri; dan dengan borjuis negeri-negeri asing, semuanya. Di dalam segala perjuangan tersebut borjuis merasa terpaksa berseru kepada proletariat, meminta bantuannya, dan dengan begitu menarik proletariat kedalam gelanggang politik. Oleh karena itu, borjuis sendiri membekali proletariat dengan anasir-anasir politik dan pendidikan-umumnya sendiri, dengan perkataan lain, ia melengkapi proletariat itu dengan senjata-senjata untuk melawan borjuis.
Selanjutnya, sebagaimana yang telah kita ketahui, golongan-golongan seluruh kelas yang berkuasa, dengan majunja industri, tercampak menjadi proletariat, atau setidaknya terancam syarat-syarat hidupnya oleh syarat-syarat hidup yang ada sekarang ini. Hal ini juga memberikan kepada proletariat anasir-anasir kesedaran dan kemajuan yang segar.
Akhirnya, ketika perjuangan kelas mendekati saat yang menentukan, proses kehancuran yang berlaku terhadap kelas yang berkuasa, atau pada hakekatnya terhadap seluruh masyarakat lama seutuhnya, mencapai watak yang sedemikian keras dan tegasnya, sehingga segolongan kecil kelas yang berkuasa memutuskan hubungannya dan menyatukan diri dengan kelas yang revolusioner, kelas yang memegang hari depan di tangannya. Oleh karena itu, sama seperti ketika zaman terdahulu, saat segolongan kaum bangsawan memihak borjuis, maka sekarang segolongan borjuis memihak proletariat, terutama segolongan ideolog borjuis yang telah mengangkat dirinya sampai pada taraf memahami teori gerakan yang bersejarah tersebut secara menyeluruh.
Dari semua kelas yang sekarang berdiri berhadapan dengan borjuis, hanya proletariat lah satu-satunya kelas yang betul-betul revolusioner. Kelas-kelas lainnya melapuk dan akhimya lenyap ditelan industri besar, hanya proletariat lah yang hasilnya istimewa dan hakiki.
Kelas antara/tengah rendahan, pemilik pabrik kecil, pemilik toko kelontongan, pengrajin, petani, semuanya berjuang melawan borjuis, untuk menyelamatkan hidup mereka sebagai golongan kelas antara/tengah agar terhindar dari kemusnahan. Oleh karena itu mereka tidak revolusioner, konservatif. Bahkan lebih dari itu, mereka itu reaksioner, karena mereka mencoba memutar kembali roda sejarah. Jika secara kebetulan mereka itu revolusioner, maka mereka berlaku demikian itu hanya lah karena melihat bahaya yang sedang mendekat, berupa kehancuran mereka menjadi proletariat, jadi mereka tidak membela kepentingan-kepentingannya yang sekarang, tetapi kepentingan-kepentingannya di masa datang, mereka meninggalkan pendiriannya sendiri untuk menempatkan dirinya pada pendirian proletariat.
Proletariat-gelandangan (lumpen-proletariat), massa yang membusuk secara pasif dari kalangan lapisan terendah masyarakat lama, disana-sini terseret kedalam gerakan revolusi proletar; akan tetapi, karena syarat-syarat hidupnya, menjadikan ia lebih condong melakukan peranan sebagai perkakas yang dapat disuap untuk mengadakan huru-hara reaksioner.
Syarat-syarat hidup masyarakat lama dihancurkan oleh syarat-syarat hidup proletariat. Proletar tidak mempunyai hak pemilikan; hubungannya dengan isteri dan anaknya tidak ada persamaannya dengan hubungan keluarga borjuis; kerja industri modern, penundukan modern di bawah kapital, yang sama saja baik di Inggris maupun di Prancis, di Amerika maupun di Jerman, telah menghilangkan segala bekas-bekas watak bangsanya. Undang-undang, moral, agama, baginya adalah sama dengan segala prasangka borjuis, yang dibelakangnya bersembunyi segala macam kepentingan-kepentingan borjuis.
Semua kelas terdahulu, yang sudah memperoleh kekuasaannya, berusaha memperkuat kedudukan yang telah diperolehnya dengan menundukkan masyarakat keseluruhannya kepada syarat-syarat pemilikan mereka. Proletar tidak dapat menjadi tuan atas tenaga-tenaga produktif masyarakat kecuali dengan menghapuskan cara pemilikannya, dan dengan begitu menghapuskan juga segala cara pemilikan lain yang terdahulu. Mereka tidak mempunyai sesuatu apa pun yang harus dilindungi dan dipertahankan, tugas mereka ialah menghancurkan segala perlindungan dan jaminan yang terdahulu atas milik perseorangan.
Semua gerakan sejarah yang terdahulu adalah gerakan dari minoritas-minoritas, atau untuk kepentingan minoritas. Gerakan proletar adalah gerakan yang sedar-diri dan berdiri sendiri di antara mayoritas yang melimpah, namun juga mengabdi pada kepentingan majoritas yang melimpah. Proletariat, lapisan yang paling rendah dari masyarakat kita sekarang, tidak dapat bergerak, tidak dapat mengangkat dirinya ke atas, tanpa hancur luluhnya seluruh lapisan atas masyarakat yang resmi.
Walaupun tidak dalam isinya, tetapi dalam bentuknya, perjuangan proletariat melawan borjuis adalah mula-mula suatu perjuangan di satu bangsa. Proletariat di masing-masing negeri tentu saja pertama-tama harus membuat perhitungan dengan borjuisnya sendiri. Dalam melukiskan fase-fase paling umum perkembangan proletariat, kita bisa mengurut jejak peperangan di dalam negeri, yang lebih atau kurang tersembunyi, yang bergolak, di dalam masyarakat yang ada, sampai pada titik di mana peperangan itu meletus menjadi revolusi terang-terangan, dan akhirnya penggulingan borjuis dengan kekerasan guna meletakkan landasan bagi kekuasaan proletariat.
Hingga kini, sebagaimana yang telah kita ketahui, segala bentuk masyarakat didasarkan atas antagonisme antara kelas dengan kelas, antara kelas yang menindas dengan kelas yang ditindasnya. Tetapi untuk dapat menindas suatu kelas, harus lah dijamin syarat-syarat tertentunya, setidaknya dapat melanjutkan hidupnya sebagai budak. Si hamba, dalam zaman perhambaan, meningkatkan dirinya menjadi anggota komune, seperti juga halnya dengan si borjuis kecil, di bawah penindasan absolutisme feodal, mengembangkan dirinya menjadi borjuis. Sebaliknya, buruh modern bukannya terangkat naik dengan adanya kemajuan industri, tetapi bahkan senantiasa makin jatuh merosot di bawah syarat-syarat hidup kelasnya sendiri. Ia menjadi orang melarat, dan kemelaratan berkembang lebih cepat dari pada penduduk dan sumber kekayaan. Dan, dengan demikian, menjadi terang lah bahwa borjuis tidak pada tempatnya lagi untuk menjadi kelas yang berkuasa dalam masyarakat, sudah tidak mampu lagi untuk memaksakan syarat-syarat hidupnya kepada masyarakat sebagai undang-undang yang menentukan. Ia tidak cakap memerintah karena ia tidak mampu menjamin penghidupan bagi budaknya di dalam rangka perbudakannya itu, karena ia terpaksa membiarkan budaknya tenggelam ke dalam keadaan yang sedemikian rupa sehingga ia harus memberi makan kepada budaknya, dan bukannja ia diberi makan oleh budaknya. Masyarakat tidak dapat lagi hidup di bawah borjuis seperti ini, dengan perkataan lain, keberadaan borjuis tidak dapat didamaikan lagi dengan masyarakat.
Syarat terpokok untuk hidup dan berkuasanya kelas borjuis adalah terbentuknya dan bertambah besarnya kapital; syarat untuk kapital ialah kerja-upahan. Kerja-upahan semata-mata bersandar pada persaingan di kalangan kelas buruh sendiri. Kemajuan industri, yang pendorongnya dengan tak sengaja adalah borjuis, merubah keterpencilan kelas buruh yang disebabkan oleh persaingan, hingga ia kini bergabung secara revolusioner karena perserikatan. Perkembangan industri besar, karenanya, merenggut dari bawah kaki borjuis landasan borjuis untuk menghasilkan dan memiliki hasil-hasil produksi. Oleh sebab itu, apa yang dihasilkan oleh borjuis ialah, terutama sekali, penggali-penggali liang kuburnya sendiri. Keruntuhan borjuis dan kemenangan proletariat adalah sama-sama tak dapat dielakkan lagi.
****
(1) Karl Marx dan Engels: Manifesto Komunis bagian I.
(Dipublikasikan untuk kepentingan pendidikan)
Sabtu, 08 Mei 2010
Materialisme, Dialektika, Sejarah, dan Perspektif Teoritik (Materialisme-Dialektik-Historis)
Produksi Material: Basis Kehidupan Sosial
Oleh: Doug Lorimer (1)
perkembangannya yang paling jeneral. Langkah awal untuk menemukan hukum-hukum tersebut: meletakkan peranan produksi material dalam kehidupan masyarakat. Bisa dimengerti, karena tanpa produksi barang-barang material (yang dibutuhkan bagi kehidupan manusia) masyarakat tak dapat hidup. Proposisi tersebut telah lama diungkapkan dan diakui bahkan jauh sebelum masa Marx dan Engels. Tapi, Marx dan Engels tak berhenti sampai di situ saja; mereka berhasil menemukan hukum (yang mengaturnya): bahwa hubungan-hubungan manusia—saat terlibat dalam produksi barang-barang material—merupakan landasan bagi seluruh hubungan-hubungan sosial yang ada.
Dalam proses produksi, manusia tak saja sekadar menciptakan produk-produk material, produksi tak sekadar memberikan sumber-sumber kehidupan bagi manusia. Dalam proses produksi barang-barang material, manusia memproduksi dan mereproduksi hubungan-hubungan sosial mereka. Studi tentang produksi sosial, strukturnya, elemen-elemen pembentuknya, dan saling hubungan di antaranya, oleh karenanya, memungkinkan untuk memahami esensi proses historis, sehingga bisa mengungkapkan mekanisme sosial yang berjalan dalam kehidupan masyarakat.
1. Interaksi Masyarakat dengan Alam
Produksi material merupakan kunci pelengkap untuk menjelaskan baik itu struktur internal masyarakat maupun saling-hubungannya dengan lingkungan luar alam sekitarnya. Produksi pada dasarnya merupakan proses interaksi antara masyarakat dengan alam. Dalam proses interaksi tersebut, manusia mendapatkan, dari alam sekitarnya, sumber-sumber kehidupan yang dibutuhkan.
Dalam karyanya, The Part Played by Labour in the Transition from Ape to Man, Engels berhasil membuktikan bahwa kerja merupakan motor penggerak, landasan, bagi evolusi manusia.
Pertama-tama, leluhur (pra-manusia) kita, dengan tangannya, menggunakan beberapa obyek sederhana untuk melindungi dirinya dari binatang buas, untuk menangkap binatang itu sendiri dan untuk, secara regular, memperoleh buah-buahan, kacang-kacangan serta makanan sayuran lainnya. Aktivitas tersebut termasuk dalam kategori “bentuk-bentuk kerja instingtif pertama yang masih dalam tingkatan binatang”. (2) Tapi, bentuk-bentuk aktivitas primitif nenek moyang manusia tersebut merupakan tonggak bagi perkembangan kerja manusia itu sendiri—menjadi bentuk kepemilikan manusia yang unik.
dari penggunaan obyek-obyek kerja sederhana (yang diberikan oleh alam), yang kadang-kadang masih dilakukan oleh manusia-kera modern (ape), nenek moyang kita secara bertahap mulai membuat perkakas kerjanya sendiri—faktor penting yang menimbulkan kerja manusia. Aktivitas kerja telah menghasilkan dua hal. Pertama, kehidupan leluhur manusia bisa berjalan bukan sekadar dengan menyesuaikan dirinya pada kondisi-kondisi lingkungan sekelilingnya tapi juga dengan aktivitas kerjanya. Gambaran khusus bentuk fisik manusia—berjalan tegak, pembedaan fungsi-fungsi bagian muka dan bagian belakangnya, perkembangan tangan dan otaknya—berkembang seiring dengan proses adaptasinya pada kehidupan yang lama, yang membentuk operasi-operasi kerjanya. Kedua, karena aktivitas kerja merupakan gerak menyeluruh, maka aktivitas kerja mendorong kemunculan dan perkembangan kemampuan bicara—atau bahasa, alat komunikasi—yang merupakan akumulasi, transmisi, dari aktivitas kerja dan pengalaman sosial.
Ada dua tahap penting dalam proses pembentukan manusia. Pertama, ditandai oleh dimulainya penggunaan perkakas kerja secara regular dan, kemudian, mulai membuat perkakas kerja tersebut. Itu lah tahap dalam proses pembentukan manusia (Australopithecus africanus, Homo habilis dan Homo erectus). Bukti paling tua penggunaan perkakas kerja (pada 2,5 juta tahun yang lalu), yang terbuat dari batu, ditemukan di Hadar, Ethiophia. Sisa-sisa leluhur manusia yang tertua, Australopithecine dan Homo habilis, hidup pada periode ini. Hal tersebut diperkuat dengan bukti adanya hubungan intrinsik antara perkembangan kerja dengan evolusi manusia.
Tahap kualitatif kedua (yang paling utama) adalah kemunculan manusia modern (Homo Sapiens—’manusia rasional’) di Afrika sekitar 100.000 tahun yang lalu, dalam abad pertengahan Paleolithic. Sejak kemunculan Homo Sapien, tak ada lagi perubahan mendasar yang terjadi dalam bentuk fisik manusia. Dalam periode tersebut terjadi perubahan-perubahan utama dalam produksi, termasuk pembuatan berbagai macam perkakas kerja (yang terbuat dari kayu, batu, tulang dan tanduk).
Tahap-tahap evolusi manusia dan perkakas kerjanya terjadi sejalan dengan tahap-tahap proses pembentukan masyarakat manusia itu sendiri dalam bentuk primitifnya—masyarakat kesukuan (tribal society). Manusia, sebagai mahluk sosial, tak pernah hidup dan tak bisa hadir tanpa masyarakatnya atau sebelum masyarakatnya terbentuk. Masyarakat tak bisa terbentuk sebelum manusia hadir, dan bentuk-bentuk hubungan baru di antara individu hanya bisa berkembang saat leluhur manusia telah menjadi komunitas.
Segala macam gambaran di atas membedakan manusia dari binatang-binatang lainnya. Hal pertama, yang paling penting, dari perbedaan tersebut: manusia memproduksi perkakas kerja (3); kedua, manusia berbicara dengan baik dan berpikir. Perbedaan pertama lah yang paling utama. Menurut Marx dan Engels, manusia “…mulai membedakan dirinya dari binatang seketika mereka mulai memproduksi perkakas subsisten mereka.” (4) Paleontologis modern melakukan cara yang sama, mengklasifikasikan kerangka-kerangka fosil primata, termasuk manusia, untuk membedakannya dari garis evolusi monyet (simian) lainnya, dan mereka menemukan bukti-bukti adanya aktivitas kerja—penggunaan dan pembuatan perkakas untuk maksud tertentu. Setetap apa pun gambaran fisik bentuk-bentuk transisional awal manusia-kera tersebut, mereka sudah mampu mencapai taraf yang lebih tinggi: tidak sekadar menggunakan organ-organ biologisnya saja untuk mencari makan, tapi juga sudah menggunakan perkakas kerja sehingga membedakannya dari keluarga monyet (simian) lainnya.
Dalam pengertian bentuk-bentuknya yang paling umum, proses produksi adalah apa yang manusia lakukan pada obyek-obyek dan tenaga-tenaga alam untuk mendapatkan serta memproduksi sumber-sumber kehidupan mereka—makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya. Proses tersebut mensyaratkan aktivitas manusia—kerja—untuk merubah obyek-obyek kerja. Tidak seperti bentuk-bentuk spontan aktivitas manusia, kerja manusia, dalam makna yang sebenarnya, merupakan aktivitas yang memiliki maksud tertentu: hasil-hasil ciptaannya terhadap obyek tertentu, seperti Marx uraikan, telah ada dalam imajinasi seseorang, yakni dalam bentuk ide. Bandingkan dengan kebiasaaan lebah yang, bagai aktivitas seorang arsitek, sangat akhli membangun sarang madunya dari lilin. Menurut Marx: arsitek (manusia) yang paling jelek pun adalah lebih superior dibandingkan dengan lebah yang paling ahli tersebut. Sebelum ia (arsitek) membangun sebuah rumah, manusia telah merencanakan ciptaannya dalam pikirannya. Aktivitas kerja bisa berjalan dengan dibantu oleh peralatan yang dapat mempengaruhi obyek kerjanya, yakni dibantu perkakas kerja. (5) Itu lah peralatan utama dalam aktivitas kerja manusia.
Peralatan kerja bisa merubah obyek dengan serta merta, langsung, layaknya yang dilakukan binatang, namun dengan karateristik berbeda—binatang menggunakan organ-organ dasar mereka (kuku-kuku, gigi dan lain sebagainya), sedangkan aktivitas manusia dibantu oleh peralatan (perkakas kerja). Akhirnya, organ-organ alami manusia mengalami pembentukan: pada awalnya, fungsi-fungsinya memang sama seperti organ-organ awal tapi, kemudian, perannya menjadi lebih meningkat.
Masyarakat mungkin bisa digambarkan sebagai sebuah tipe organisme khusus. (6) Organisme biologis memiliki sebuah sistem organ-organ dasar yang membentuk fungsi-fungsi tertentu yang dibutuhkan untuk kehidupannya, sedangkan perkembangan masyarakat manusia mensyaratkan perbaikan alat-alat bantunya—peralatan, perkakas kerja manusia.
Dengan alasan-alasan tersebut, kriteria perkembangan manusia dilihat terutama dari perubahan organ-organ sosialnya—perkakas kerja—yang perkembangannya tak terbatas. Dalam proses kerjanya, tak seperti binatang, manusia secara aktif mempengaruhi lingkungan sekitarnya, merubahnya dan menyesuaikannya pada kebutuhan mereka.
Kesimpulannya: Aktivitas kerja manusia berbeda dengan aktivitas kerja binatang yang paling berkembang sekali pun. “Pertama”, aktivitas kerja manusia menghasilkan suatu pengaruh aktif terhadap alam, sedangkan binatang hanya menyesuaikan diri pada alam; “kedua”, aktivitas kerja manusia mensyaratkan penggunaan secara sistematik (pada dasarnya penciptaan) perkakas produksi; “ketiga”, aktivitas kerja manusia memiliki maksud tertentu, merupakan suatu aktivitas yang sadar; “keempat”, aktivitas kerja manusia, sejak awalnya, bersifat sosial dan tak bisa dipahami tanpa masyarakatnya.
Dengan alasan-alasan tersebut, perkembangan sosial berbeda dengan perkembangan biologis. Perkembangan manusia, sebagai mahluk sosial, tak merubah (secara radikal) dasar biologisnya. Di situ lah terletak baik perbedaan karakter maupun perbedaan landasan proses-proses perkembangan biologis dan sosialnya. Perubahan-perubahan radikal dalam kehidupan sosial terjadi dalam periode-periode yang lebih singkat, waktu yang tak akan cukup untuk memberikan perubahan-perubahan penting dalam perkembangan spesies biologis (tentu saja tak terhitung jumlah perubahan yang terjadi di alam sebagai reaksi atas aktivitas manusia). Jadi, manusia bisa saja mengembangkan kemampuannya (misalnya untuk bisa membuat pesawat terbang) dalam lima puluh tahun evolusi teknologi, tapi evolusi biologis baru bisa dicapai dalam waktu lima puluh juta tahun (untuk menghasilkan genetika yang berbeda).
Perubahan yang singkat dalam perkembangan sosial, bila dibandingkan dengan rata-rata perubahan dalam bentuk bologis kita, menjadi semakin singkat lagi dengan ditemukannya mekanisme baru dalam perkembangan sosial lebih lanjut, tidak demikian halnya dengan mekanisme evolusi biologis, lebih lama. Dalam dunia organik, pengumpulan dan transmisi informasi dari satu generasi ke generasi lainnya terutama dilakukan melalui mekanisme warisan turun-temurun, dan bentuk-bentuk dasarnya dihasilkan secara spontan sejak lahir. Binatang yang lebih pandai juga meneruskan keahlian-keahlian tertentunya kepada anak-anak (keturunan) mereka. Dalam kehidupan sosial, generasi sebelumnya mewariskan perkakas produksi ciptaannya kepada generasi penerusnya dan, selain itu, juga diteruskan melalui pengalaman sosial dalam wujud bahasa, kebudayaan dan tradisi-tradisi. Sebaliknya, transmisi karakteristik biologis dibatasi oleh pengetahuan yang bisa disimpan dalam ingatan (dalam jen). Sedangkan transmisi pengalaman sosial dilakukan secara terus menerus dan tak punya batasan. Dalam pengertian secara umum, kebudayaan merupakan perwujudan dari pengalaman tersebut—seluruh pengalaman (warisan) nilai-nilai material dan intelektual yang diciptakan dalam kurun waktu tertentu (sejarah manusia).
Setiap generasi memperkaya kebudayaannya (dan kebudayaan generasi penerusnya) dengan penemuan-penemuan baru. Bertentangan dengan dunia biologis, yang seluruh perubahannya terjadi secara spontan, tak sadar. Masyarakat manusia selalu menghasilkan perubahan kondisi-kondisi secara sadar dan direncanakan, baik dalam kehidupan materialnya maupun dalam mengatur interaksinya dengan alam.
Elemen-elemen pembentuk sistim harus (mensyaratkan) dikait-kaitkan dengan suatu jenis hubungan tertentu. Secara khusus, basis kehidupan sosial ditentukan oleh hubungan produksi atau hubungan ekonomi. Seluruh bentuk hubungan sosial yang dibuat, pada kesimpulan akhirnya, tergantung pada hubugan-hubungan proses produksi di antara sesama manusia—yakni hubungan-hubungan produksi yang mengikat kehidupan sosial dan menyatukannya.
Bentuk-bentuk hubungan kwalitatif yang baru tersebut menyusun, membentuk, kehidupan sosial sesuai dengan hukum-hukum perkembangan khusus, yang berbeda dengan hukum-hukum biologis. Marx dan Engels berhasil membuktikan kesalahan orang-orang yang berusaha menerapkan hukum-hukum biologis pada fenomena sosial. Sebagaimana hukum-hukum alam lainnya, hukum-hukum biologis tidak mengatur atau tidak menentukan perkembangan fenomena sosial. Masyarakat ditentukan (dibentuk) oleh hukum-hukumnya sendiri—yang bisa dijelaskan oleh materialisme historis atau ilmu-ilmu sosial lainnya.
Namun demikian, tidak berarti masyarakat berkembang dengan mengisolir diri dari alam. Bahkan, perkembangan masyarakat tak bisa dipahami tanpa prakondisi alam tertentu. Penentu antara masyarakat dengan kondisi alam di sekitarnya biasanya (disebut) lingkungan geografis dan organisasi fisik manusia itu sendiri.
Konsep lingkungan geografis tentu saja bukan lah alam secara keseluruhan, yang tak terbatas, melainkan bagian tertentu alam yang mempengaruhi masyarakat secara langsung atau pun tak langsung, yang membentuk kondisi-kondisi alam kehidupan dan aktivitas manusia. Beberapa penulis mendifinisikan lingkungan geografis sebagai lingkungan alam yang bisa dirubah atau dibentuk oleh masyarakat. Seperti akan kita lihat kemudian, bagian alam yang mengelilingi manusia secara aktual mendukung (kesan) aktivitas kita. Tapi kehidupan manusia juga dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan alam yang berada d iluar kontrol manusia (misalnya, radiasi matahari, energi yang terkandung dalam bumi, yang dinyatakan dalam gerakan kulit bumi, dan lain sebagainya).
Berbagai macam teori tentang alam berusaha menggambarkan bahwa sejarah prakondisi alam tersebut memiliki peran yang menentukan. Pengikut-pengikut determinisme-geografis (seperti filsuf Perancis Charles Montequieu, sejarawan Inggris Henry Thomas Buckle, geografis Perancis Elisee Reclus, dan lain-lainnya) mencoba menghubungan perbedaan-perbedaan sistem sosial (dan sejarah berbagai macam masyarakat) dengan pengaruh dari kondisi-kondisi alam yang mereka huni. Bagaimana pun, dalam realita, ternyata kita bisa menemukan sistem-sistem sosial yang berbeda walaupun dengan kondisi-kondisi geografis yang sama, dan menemukan bentuk sistem sosial sejenis, sama, pada kondisi-kondisi geografis yang berbeda (misalnya, sistem perbudakan ditemukan di Eropa, Asia, Afrika, Amerika dan Australia pada waktu yang berbeda-beda). Tak ada sejarah pergantian formasi-formasi sosio-ekonomi yang bisa dikaitkan dengan pengaruh lingkungan geografis, apalagi ada pergantian formasi sosio-ekonomi yang jauh lebih cepat ketimbang perubahan-perubahan lingkungannya (yang tak mengantungkan pengaruhnya terhadap masyarakat).
Kesalahan mendasar metodelogi teori-teori tentang alam dalam sosiologi: melihat sumber, akar, perkembangan sosial sebagai sesuatu yang berada di luar masyarakatnya. Pengaruh kondisi eksternal terhadap suatu perkembangan sistem, termasuk masyarakat, tentu saja tak bisa ditolak atau diabaikan. Tapi perubahan suatu sistem tidak lah sesederhana sebagai bentukan dari perubahan lingkungan, sebagai hasil pasif terhadap pengaruhnya. Sebuah sistem memiliki logika perkembangan internalnya sendiri, dan perkembangan tersebut memiliki pengaruh terhadap lingkungannya.
Jika kita mengambil klasifikasi sistem-sistem modern, masyakarat bisa dipandang sebagai sesuatu yang memiliki sistem-sistem terbuka, yang timbal-baliknya tak hanya terhadap enerji melainkan juga terhadap benda-benda lingkungannya. Antara masyarakat dan alam terjadi suatu metabolisme regular, suatu timbal-balik elemen-elemennya secara regular, seperti dijelaskan oleh Marx—timbal-balik tersebut terjadi dalam proses kerja suatu produksi. Dari dunia tumbuh-tumbuhan dan binatang, manusia memperoleh kebutuhan-kebutuhan nutrisi dan bahan-bahan mentah guna membuat benda-benda bermanfaat. Sumber-sumber mineral melengkapi manusia dengan perkakas dan bahan-bahan untuk menghasilkan perkakas produksi lagi. Kegiatan produksi membutuhkan penggunaan berbagai macam sumber energi. Pada awalnya menggunakan kekuatan otot manusia itu sendiri, kemudian menggunakan kekuatan binatang yang mereka jinakkan, kemudian lagi menggunakan kekuatan angin dan air dan, akhirnya, menggunakan tenaga uap, tenaga elektrik, proses-proses energi kimia serta energi nuklir.
Dalam berbagai tahap perkembangan masyarakat, lingkungan geografis mempengaruhinya dengan berbagai cara. Tapi pengaruh langsung kondisi-kondisi geografis terhadap alam manusia dan organisasi sosial mereka tak pernah menjadi yang paling penting (seperti yang dipertahankan oleh Montesquieu dan kaum determinis-geografis lainnya). Yang utama adalah pengaruh tak langsung dari alam—melalui kondisi-kondisi produksi. Pada taraf kebudayaan yang rendah, ketika persoalan utama manusia adalah memdapatkan makanan yang tersedia, yang lebih penting adalah mengambil atau memanfaatkan sumber-sumber kehidupan alami: tanah yang subur, ikan yang banyak, dan lain sebagainya. Pada taraf-taraf kebudayaan yang lebih tinggi, ketika industri mekanis sudah berkembang, keberadaan perkakas produksi alami seperti air terjun, sungai yang dapat dilalui, hutan, logam, batu bara, dan minyak, jauh lebih penting.
Perkembangan aktivitas ekonomi tentu saja tak selalu sama di berbagai suku-bangsa berbeda. Perkembangan tersebut lebih besar tergantung pada kondisi-kondisi geografis yang mereka huni. Di kalangan suku-bangsa yang menetap di area-area subtropis utara yang subur—seperti di lembah-lembah sungai Tigris dan Efrata (Euphrates) (Mesopotamia), lembah sungai Nil dan sebagainya—tenaga-tenaga produktif berkembang lebih cepat ketimbang di suku-bangsa yang menetap dengan kondisi-kondisi alam seperti di belahan Utara-Jauh dan Selatan-Jauh.
Pada saat yang sama, tingkat perkembangan produksi yang tak merata juga bisa dikaitkan dengan perbedaan kondisi-kondisi sosial, yakni perbedaan hubungan-hubungan yang terbentuk di antara orang-orang yang berbeda—saling-hubungan atau isolasi di antara mereka, hubungan saling-menguntungkan atau berkontradiksi di antara mereka, dan lain sebagainya.
Pengaruh kondisi-kondisi geografis selalu dimediasi, diatasi, oleh kondisi-kondisi sosial, terutama oleh tingkat perkembangan produksi. Manusia memanfaatkan berbagai kehidupan lingkungannya: semakin lama material-material baru semakin digunakan dalam proses produksi, manusia semakin menembus wilayah-wilayah alam baru (seperti dasar bumi, lautan, luar angkasa, dan lain sebagainya), menguasainya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Itu berarti: hubungan masyarakat dengan alam menjadi semakin luas dan semakin kompleks.
Melalui perkembangan produksi, ketergantungan masyarakat pada kondisi-kondisi alam secara relatif semakin dikurangi. Produksi barang-barang sintetik mengurangi ketergantungan industri pada bahan-bahan mentah alam; aliran listrik, yang menjangkau jarak yang jauh dan luas, mengurangi ketergantungan untuk menempatkan pabrik-pabrik berdekatan dengan sumber-sumber tenaga alam.
Dalam beberapa lingkungan geografis, berkurangnya ketergantungan pada kondisi-kondisi alam dikarenakan peningkatan pengaruh manusia atas alam. Sebaliknya, kondisi-kondisi alam sebenarnya berubah secara lambat jika alam dibiarkan berubah dengan sendirinya, manusia lah yang mempercepat tingkat perubahan alam. Lingkungan alam memberikan kesan aktif terhadap aktivitas produksi manusia.
Kondisi-kondisi geografis di bumi adalah sebuah wilayah penting hasil dari aktivitas organisme kehidupan, yang bertanggung jawab, misalnya, dalam pembentukan kapur, dolomite (7), marmer, batu bara, bahan bakar tanah, tanah yang subur, oksigen atmosfir, dan lain sebagainya. Peran aktif kehidupan bumi bisa dilihat pada konsep biosfir [biosphere (8)] kulit luar planet, tempat organisme dan juga benda-benda mati dirubah serta dibentuk menjadi senyawa hidup. Jika tidak ada kehidupan di bumi, bumi akan terlihat tandus seperti bulan. Dengan kehadiran manusia, ‘tuntutan hidup’ kulit luar bumi menjadi semakin kuat tak terhingga.
Manusia mempengaruhi dunia tumbuhan dan binatang, memusnahkan jenis-jenis (spesies) tumbuhan dan binatang, serta mempengaruhi perubahan lainnya. Suatu area penting dunia tumbuhan telah dibentuk oleh manusia. Di negeri Yunani kuno, awalnya, hanya terdapat beberapa jenis apel; sekarang, terdapat lebih dari sepuluh ribu jenis apel. Area perkebunan berbagai macam tumbuhan telah dikembangkan oleh (pengaruh) manusia. Kentang, pertama kali tumbuh di dataran tinggi di tengah gunung Andes, Amerika Selatan; jagung, pertama kali tumbuh di Amerika, berasal dari Afrika, dan tanaman-tanaman berguna lainnya telah menyebar ke negara-negara lain melalui aktivitas manusia.
Besarnya pengaruh manusia pada lapisan luar planet kita sebanding dengan kekuatan-kekuatan geologis (yang sangat kuat sekalipun). Menurut suatu perkiraan, manusia telah menggali (dari bumi, dalam lima abad terakhir) tak kurang dari 50.000 juta ton karbon, 2.000 juta ton besi, 20.000 juta ton tembaga, 20.000 ton emas, dan lain sebagainya. Aktivitas produksi manusia telah mengeruk tidak kurang dari lima kilometer kubik batu per tahun. Manusia membangun kanal-kanal di antara benua-benua dan menimbun tanah di lautan. Manusia merubah iklim yang buruk bagi kehidupan mereka seperti dengan cara mengairi gurun-gurun pasir, mengeringkan tanah rawa, dan mengalihkan aliran sungai. Keadaan iklim juga dipengaruhi, secara tidak langsung, oleh aktivitas produksi manusia—pembakaran minyak, batu bara dan bahan bakar tanah, telah mengotori udara dengan karbon sekitar 1500 juta ton per tahunnya. Jumlah kabron di udara adalah salah satu faktor yang mempengaruhi temperatur bumi.
Pengaruh alam atas manusia semuanya terjadi secara spontan, tapi pengaruh masyarakat pada alam selalu sebagai hasil dari aktivitas manusia demi kehidupannya, yang dilakukannya secara sadar. Di samping memang bertujuan merubah alam, aktivitas manusia juga memperoleh hasil-hasil yang tak terbayangkan sehingga, dalam banyak kasus, kemudian menyebabkan manusia kehilangan banyak hal. Karl Marx, mewanti-wanti bahwa pengerukan tanah secara tak sadar atau membabi-buta akan menyebabkan tanah di sekelilingnya tandus. (9) Penebangan kayu yang mebabi-buta, misalnya, merusak aliran arus sungai-sungai, memperlebar erosi dan menyebabkan kekeringan (tandus). Area-area tanah luas yang mengalami erosi menyebabkan tak bisa lagi digunakan untuk bercocok tanam. Penggunaan pestisida kimia (obat pembunuh hama), pemusnahan rerumputan, sering kali tak hanya membunuh serangga-serangga dan rumput-rumput liar tapi juga meracuni banyak tanaman dan binatang lainnya. Sejalan dengan meningkatnya aktivitas manusia, bahaya tak terkontrolnya pengaruh manusia atas lingkungan alam juga semakin besar. Salah satu sisi pengaruh aktivitas manusia, misalnya, adalah gangguan terhadap keseimbangan dalam berbagai macam proses alam, polusi udara dan air oleh limpahan limbah industri serta benda-benda radioaktif, dan lain sebagainya. Itu lah awal ancaman bagi kehidupan manusia itu sendiri.
Walaupun demikian, bukan lah hakekat manusia yang harus disalahkan atas ancaman atau bahaya tersebut, melainkan subordinasi aktivitas manusia kepada tujuan untuk mengeruk keuntungan pribadi, atau subordinasi terhadap pikiran yang cupet. Munculnya masalah tersebut menuntut penggunaan sumber-sumber alam yang terencana di seluruh negeri dan benua. Hal tersebut tak mungkin terjadi dalam masyarakat kapitalis; untuk mencapainya, perkakas produksi yang vital harus dimiliki secara sosial. Tentu saja, hal tersebut juga menuntut cara dan perencanaan produksi yang efektif serta pengaturan barang-barang hasil produksinya, yang tak didistribusikan secara semena-mena walaupun dalam kondisi perkakas produksi yang vital dimiliki secara sosial. Hal tersebut mensyaratkan kontrol demokratik dan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan melalui pengetahun ilmiah terbaik yang dapat diterapkan.
Kesimpulannya: pengaruh manusia atas alam tergantung pada tingkat perkembangan tenaga-tenaga produktif, tergantung pada karakter sistem sosial, dan tergantung pada tingkat perkembangan masyarakat serta manusia itu sendiri.
Secara prinsipil, demikian pula halnya dengan kebenaran tentang pra kondisi alam lainnya dalam sejarah manusia—bentuk fisik manusia, karakteristik biologis mereka.(10) Karakteristik biologis tersebut lah yang membuat mereka membutuhkan makanan, pakaian dan sebagainya. Tapi perkakas pemuas kebutuhan tersebut tidak ditentukan oleh faktor biologis melainkan oleh kondisi-kondisi sosial. Reproduksi terjadi sesuai dengan karakteristik biologis manusia. Pertumbuhan populasi merupakan suatu fenomena sosial utama, yang diatur oleh hukum-hukum perkembangan masyarakat.
Dari sudut pandang alamiah, pertambahan penduduk dipandang sebagai faktor yang independen dari hukum-hukum perkembangan sosial dan, bahkan, dipandang justru menentukan perkembangan tersebut. Lebih jauh lagi, beberapa sosiolog memperlakukannya sebagai faktor absolut, memandang pertambahan penduduk sebagai salah satu dari penyebab-penyebab yang mendorong manusia untuk mencari sumber-sumber makanan baru dan, kemudian, memajukan perkembangan produksinya (misalnya saja pandangan sosiolog Russia Kovalevsky). Yang lainnya (seperti ekonom Inggris Thomas Malthus, di penghujung abad 18, dan pengikutnya saat ini, neo Malthusian) memandang bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat merupakan sumber dari masalah sosial seperti lingkungan yang kumuh dan kemiskinan.
Menurut ‘hukum’ Malthusian, sumber-sumber kehidupan (pertanian) tumbuh dalam hitungan aritmatika, sementara pertambahan penduduk berjalan dalam hitungan geometrik. Pertambahan penduduk jauh lebih cepat ketimbang pertambahan pasokkan makanan. Oleh karena itu, Malthus melanjutkan, kemudian muncul kelaparan, pengangguran dan kemiskinan rakyat pekerja. Ia menyimpulkan: untuk memperbaiki keadaan, rakyat pekerja harus mengontrol jumlah kelahiran dalam jumlah keluarga mereka.
Dalam realitas, hubungan antara rata-rata pertumbuhan penduduk dengan produksi perkakas kehidupan bukan lah sesuatu yang tetap selamanya. Bila basis teknologinya konservatif dan perkembangan formasi sosio-ekonominya lambat, seperti pada masa pra-kapitalis, maka bisa terjadi bahaya kelebihan penduduk bila dibandingkan dengan tenaga-tenaga produktifnya, yang sering mengakibatkan migrasi penduduk dalam yang skala besar. Di sisi lain, bila kondisi-kondisi kemajuan teknologi berkembang pesat, maka pertumbuhan produksi sumber-sumber kehidupan akan jauh melampaui rata-rata pertumbuhan penduduk, seperti terlihat, misalnya, dalam peningkatan produksi per kapita. Tapi gambaran-gambaran tersebut gagal untuk membuktikan dengan lebih jelas mengapa terjadi distribusi yang tak merata atas sumber-sumber makanan. Ratusan juta orang di Asia, Afrika dan Amerika Latin menderita kelaparan secara sistematik.Penyebabnya adalah keterbelakangan ekonomi di negeri-negeri tersebut, yang diciptakan oleh warisan kolonialisme, keterbelakangan struktur ekonomi neo kolonial, dan eksploitasi terhadap negeri-negeri terbelakang oleh perusahaan-perusahaan serta bank-bank dari negeri-negeri kapitalis maju.
Dalam negeri-negeri kapitalisme maju, bukan lah kelebihan penduduk yang akan membahayakan tenaga-tenaga produktif melainkan, sebaliknya, tenaga-tenaga produktif lah yang akan membahayakan populasi dan akan menciptakan situasi layaknya kelebihan penduduk (buruh-buruh yang menganggur secara permanen). Itu lah apa yang Marx lihat sebagai hukum populasi terikat pada cara produksi kapitalis.
Kesimpulan yang diberikan Marx, setelah menganalisa masalah penduduk dibawah kapitalisme, merupakan kesimpulan yang sangat penting dalam teori sosial. Kesimpulannya: bahwa setiap kurun sejarah menentukan dan memiliki cara produksinya sendiri—dengan demikian memiliki hukum populasinya sendiri—yang akan menentukan karakter historisnya. Menurut Marx: “hukum tentang penduduk yang abstrak hanya berlaku bagi tetumbuhan dan binatang, serta hanya terjadi ketika tak ada keterlibatan historis manusia.” (11)
Jumlah penduduk, pertumbuhannya, kepadatan dan penyebaran teritorinya pasti lah mempengaruhi perkembangan masyarakat. Misalnya, bila kita hendak menentukan, merencanakan, kemungkinal awal perkembangan produksi dalam sebuah negeri tertentu, kita harus melihat sumber-sumber alam dan penduduknya. Tanpa jumlah dan kepadatan yang tepat, tidak lah mungkin atau sulit (misalnya dalam banyak bagian di Timur-Jauh dan di negeri-negeri tandus) untuk mengolah sumber-sumber alamnya.
Pada saat yang sama, jumlah penduduk aktual yang membentuk masyarakat tergantung pada tingkat perkembangan produksi. Pada permulaan abad Neolitik (sekitar 15.000 tahun yang lalu) suku-suku primitif telah meluas di seluruh benua. Bila dihitung, jumlah mereka hanya beberapa juta orang. Pada permulaan abad sekarang (sesudah Masehi) jumlah penduduk dunia sekitar 150-200 juta orang, sedangkan pada tahun 1.000 (sesudah masehi), jumlah penduduk meningkat menjadi sekitar 300 juta. Jumlah penduduk kemudian meningkat hingga dua puluh kali lipat.
Peningkatan rata-rata pertumbuhan penduduk bukan lah penyebab perubahan dalam cara produksi dan kondisi kehidupan manusia; sebaliknya peningkatan rata-rata pertumbuhan penduduk merupakan suatu hasil dari cara produksi. Peningkatan penduduk tergantung pada perbandingan jumlah kematian dan kelahiran. Kedua proses tersebut dipengaruhi oleh sejumlah besar faktor-faktor sosial seperti: hubungan-hubungan ekonomi, standar hidup, kondisi perumahan, perkembangan kesehatan, pelayanan kesehatan dan lain sebagainya. Rata-rata pertumbuhan penduduk juga tergantung pada kondisi-kondisi sosial dan ekonomi.
Gambaran situasi di negeri-negeri maju saat ini bisa dilihat dari data di bawah ini: tingkat kelahiran rendah hingga menengah (antara 15 sampai 20 orang per 1.000 penduduk); tingkat kematian rendah (sekitar 10 orang per 1.000 penduduk); kecilnya peningkatan alamiah lanjut usia, harapan hidup (usia panjang) tinggi (dari 65 hingga 80 tahun) sehingga konsekwensinya penggantian generasi berjalan lambat. Di banyak negeri semi kolonial Asia, Afrika dan Amerika Latin, kita menemukan tipe reproduksi penduduk yang berbeda: tingkat kelahiran tinggi (20 sampai 50 per 1.000 penduduk); tingkat kematian tinggi (sekitar 20 orang lebih per 1.000 penduduk), harapan hidup (usia panjang) rendah (rata-rata 45 tahun di negeri-negeri Afrika) sehingga konsekuensinya penggantian generasi berjalan cepat. Jadi, faktor penyebab adanya perbedaan kondisi dalam standar kehidupan (pendapatan, jaminan kesehatan, pendidikan, dan jaminan sosial).
Neo Malthusian mempertahankan pendapat bahwa ‘ledakan demografis’ saat ini tidak kurang bahayanya dari pada ledakan bom atom. Ahli biologi AS, Paul Ehlich, membandingkan peningkatan jumlah penduduk di bumi dengan pertumbuhan kanker liar-ganas dan memperkirakan, sejak awal tahun 1970-an hingga sepuluh tahun kemudian, akan terjadi kelaparan besar-besaran di sejumlah area. Seperti Malthusian umumnya, ia pun menolak untuk mengakui penyebab sosial munculnya kelaparan.
Perhitungan ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan penuh tanah pertanian dan peningkatan produksinya akan memungkinkan untuk mencukupi sepuluh kali jumlah manusia yang ada di dunia saat ini. Tidak ada keragu-raguan bahwa penggunaan sumber-sumber makanan yang besar yang berasal dari samudera, lautan, dan produk-produk makanan sintetik yang lebih maju (menggunakan bahan-bahan kimia) akan memberikan harapan dalam mencukupi kebutuhan manusia secara besar-besaran. Realisasi harapan tersebut, bagaimanapun juga, tergantung tak hanya pada penemuan perkakas produksi, yang akan membuat biosfir lebih rasional, melainkan juga tergantung pada penyelesaian masalah-masalah sosial: mengatasi keterbelakangan ekonomi dan kebudayaan pada banyak negeri serta penghapusan (super) eksploitasi imperialis terhadap rakyat pekerja di negeri-negeri berkembang.
Adalah salah, menganggap Marxisme selalu dan dimana pun, mengabaikan kekhususan kondisi-kondisi tempat dan waktu serta menuntut, menginginkan, peningkatan jumlah bayi yang lahir. Tuduhan tersebut adalah pemutarbalikkan pendapat yang vulgar atas pertentangan antara Malthusianisme dan Marxisme—yang perbedaannya bukan pada pengakuan atau penolakan kontrol pertumbuhan penduduk, melainkan pada (keseluruhan) cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yang ada.
Perkembangan masyarakat harus dijelaskan dalam bahasanya sendiri; kunci bagi perubahan masyarakat terletak dalam masyarakat itu sendiri. Untuk memahami kebenaran penyebab internal perkembangan masyarakat, kita harus meneliti peranan produksi material—yang merupakan basis, landasan, bagi kehidupan sosial dan bagi kemajuan sosial.
2. Tenaga-tenaga Produktif Masyarakat
Produksi material merupakan basis bagi lingkaran kehidupan sosial karena produk material yang dihasilkan tersebut selanjutnya akan dikonsumsi oleh masyarakat secara keseluruhan—untuk produksi lebih lanjut atau oleh individu-individu.
Tak persoalan seberapa tinggi derajat perkembangannya, suatu masyarakat tak bisa eksis dan tak bisa berkembang tanpa produksi material. Seseorang bisa membayangkan pengaruh dari peristiwa berhentinya produksi. Toko-toko roti, pabrik-pabrik sepatu dan kain berhenti beroperasi, kereta-kereta api mogok, tak ada aliran listrik berjalan, tak ada pasokkan air, dan sebagainya. Penghentian produksi yang menyeluruh akan menyebabkan kehancuran masyarakat. Jadi, tak ada masyarakat tanpa produksi material.
Meskipun produksi merupakan suatu kondisi permanen kehidupan masyarakat, namun cara produksi masyarakat berbeda-beda dalam berbagai macam tahap perkembangan masyakatnya.
Dalam proses produksi, orang-orang berinteraksi dengan alam dan berinteraksi satu dengan yang lainnya. Kedua tipe hubungan tersebut merupakan aspek hubungan yang tak terpisahkan dalam suatu cara produksi yang ada—tenaga-tenaga produktif dan hubungan-hubungan produksi. Konsekwensinya, analisa terhadap cara produksi (dalam bentuk umumnya) mensyaratkan meneliti: apa tenaga-tenaga produktifnya, bagaimana hubungan-hubungan produksinya, dan bagaimana saling berhubungan keduanya.
Tenaga-tenaga produktif adalah tenaga-tenaga yang digunakan masyarakat untuk mempengaruhi alam dan merubahnya. Tenaga-tenaga tersebut menunjukkan hubungan antara masyarakat dengan alamnya. Tapi alam sendiri, tentu saja, tidak termasuk dalam kategori tenaga-tenaga produktif masyarakat.
Alam adalah obyek kerja universal. Tentu saja tidak seluruh alam seketika adalah obyek kerja, tapi hanya bagian tertentunya saja yang bisa diolah dalam produksi, karena memang bagian tersebutnya saja yang bisa digunakan oleh manusia.
Dari alam, manusia menggali bahan-bahan mentah yang, kemudian, dalam proses kerja, dibuat menjadi benda-benda. Produksi biasanya berhubungan dengan obyek-obyek yang telah dihasilkan (oleh kerja) sebelumnya, kecuali industri penambangan, pembukaan tanah baru, dan lain sebagainya. Jadi, besi yang digunakan dalam pembuatan sebuah perkakas (mesin) adalah besi yang telah dibentuk dan diolah sebelumnya. Bahan-bahan mentah (seperti katun, biji padi, batu) dan bahan-bahan semi manufaktur lainnya adalah obyek-obyek kerja yang telah diproses (dalam produksi) sebelumnya oleh manusia. Orang tidak hanya memperoleh obyek-obyek kerja yang dihasilkan alam tapi juga menciptakan obyek tersebut. Kemajuan industri kian lama semakin melibatkan penggunaan material-material baru. Industri modern menggunakan berbagai macam logam, logam campuran, dan macam-macam material sintetis yang baru—seperti plastik, serat sintetis. Material-material baru telah memperluas lapangan produksi manusia.
Perkakas kerja adalah benda atau berbagai macam benda yang ditempatkan di antara manusia dengan obyek-obyek kerja, dan manusia menggunakannya pada obyek-obyek kerja. Perkakas kerja meliputi: pertama, peralatan kerja (perkakas, mesin, motor dan sebagainya); kedua, bangunan, tempat dilakukan aktivitas kerja; ketiga, fasilitas transportasi dan komunikasi; keempat, gudang dan tangki-tangki untuk menyimpan obyek-obyek kerja.
Obyek-obyek dan perkakas kerja adalah elemen-elemen material bagi proses kerja, yang membentuk alat-alat produksi secara keseluruhan.
Komposisi alat-alat produksi secara ekstrem berbacam-macam dan berubah-ubah dari satu zaman ke zaman lainnya. Produksi industri dan pertanian saat ini menggunakan mesin, motor, dan berbagai macam perkakas produksi tambahan yang dibutuhkan untuk mengangkut, menyimpan, hasil-hasil produksi serta untuk maksud-maksud lainnya. Seluruh alat-alat produksi yang dihasilkan dan digunakan pada masa tertentu akan sesuai dengan zamannya, dan itu lah yang menjadi sasaran konsentrasi telaah Marx karena ia menganggapnya sebagai konduktor yang membantu menyalurkan pengaruh manusia atas alam—peralatan tenaga kerja (“labour”), atau perkakas kerja. Menurut Marx, perkakas kerja lah yang membentuk tulang dan otot sistem produksi, serta merupakan indikator terpenting dalam hubungan antara masyarakat dengan alam atau produktivitas kerja yang dilakukan masyarakat. Pada saat yang sama, perkakas kerja hanya lah merupakan satu satu bagian dari keseluruhan teknologi dan salah satu bagian dari jenis (kecenderungan) teknologi tertentu, karenanya kita harus memandang keseluruhannya memiliki saling-ketergantungan, saling-hubungan, yang kompleks dalam keragaman tersebut.
Perkakas kerja menentukan perkembangan produksi. “Yang membedakan periode-periode ekonomi bukan lah apa yang dihasilkan, melainkan bagaimana dan dengan perkakas kerja apa semuanya dihasilkan.” (12) Bagi setiap generasi baru, perkakas kerja, yang diperoleh dari generasi sebelumnya, menjadi langkah awal untuk perkembangan lebih lanjut dan untuk membentuk landasan bagi kelangsungan sejarah.
Peralatan kerja adalah suatu kekuatan aktif yang bisa merubah obyek kerja dalam aktivitas kerja kehidupan, dalam aktivitas kerja manusia. Rakyat, massa pekerja, adalah tenaga produktif karena pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan mereka dibutuhkan untuk menjalankan produksi.
Kesimpulannya: Tenaga-tenaga produktif sosial adalah gabungan dari: “satu”, alat-alat produksi yang diciptakan oleh masyarakat—yang terpenting adalah perkakas kerja—dengan, “dua”, orang-orang yang menjalankan dan menghasilkan barang-barang.
Walaupun perkakas kerja merupakan elemen penentu dalam tenaga-tenaga produktif, karena perkakas kerja lah yang menentukan karakter hubungan antara masyarakat dengan alam, namun rakyat pekerja lah, dengan pengetahuan dan pengalaman mereka, yang merupakan tenaga produktif yang paling penting dalam masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan mesin-mesin, yang mengoperasikan perkakas kerja, dan menciptakan produksi. Penggunaan perkakas kerja tergantung pada keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman—bagaimana secara tepat mampu menggunakan mesin-mesin dan seberapa tinggi mereka menguasai mesin-mesin tersebut. Pada saat yang sama, kualitas orang-orang tergantung pada peralatan kerja yang tersedia—perkakas, alat-alat, dan mesin-mesin apa yang mereka gunakan.
Ketergantungan pengalaman dan ketrampilan pekerja pada teknologi produksi adalah satu bukti ketergantungan (jeneral) subyek pada obyek, ketergantungan faktor personal pada faktor-faktor materialnya, dalam suatu produksi. Pada masa pengrajin, pengalaman dan keterampilan orang-orang terbentuk secara empiris, mendapatkannya dari tradisi masa lalu, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam abad pertengahan, para tukang merahasiakan penemuan dan pengalamannya agar tak diketahui orang lain. Bila terdapat kondisi-kondisi yang melarang adanya perubahan terhadap perkakas kerja tradisional, atau bukannya dianjurkan untuk diperbarui, maka peningkatan, pengembangan, dalam proses produksi akan terganggu.
Setelah terjadi peralihan ke produksi mesin, maka kebutuhan akan pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan ilmiah semakin meningkat guna melayani pekerjaan yang menggunakan mesin-mesin. Para penambang tak bisa lagi sesederhana menjatuhkan sekop ke tanah dan memulai penggalian. Mereka harus menguasai mesin baru, meskipun penggali (tradisional) masih melakukan pekerjaan yang sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Pada saat yang sama, produksi mesin, khususnya dalam beberapa bidang/bagian (misalnya bidang yang menangani tanda batas), menciptakan atau hanya membutuhkan pekerja yang tak trampil dan semi-trampil.
Manusia tak hanya menggunakan perkakas kerja yang tersedia, tetapi juga menciptakan yang baru. Perkakas kerja merupakan perwujudan kekuatan pengetahuan manusia. Pengalaman, pengetahuan teknis, dan keterampilan manusia sangat penting untuk memperbaiki peralatan produksi, untuk mengerjakan penelitian terhadap obyek-obyek benda, dan untuk merasionalisasi produksi. Perkembangan teknologi sendiri, penggunaannya, tergantung pada pengalaman, keterampilan, pengetahuan teknis, dan kebudayaan manusia.
Perkembangan tenaga-tenaga produktif adalah perkembangan perkakas kerja yang cocok dengan perkembangan, kebudayaan dan dasar-dasar teknik manusia. Tingkat perkembangan tenaga-tenaga produktif diindikasikan oleh produktivitas kerja sosial. Salah satu faktor terpenting dalam pertumbuhan produkttivitas kerja adalah penciptaan perkakas kerja yang lebih produktif, yakni yang lebih maju secara teknis. Perbaikan perkakas kerja yang ada, penciptaan perkakas kerja yang baru—yang lebih produktif karena berteknologi baru—dan pengembangan sumber enerji (yang sejalan dengan pengadaannya kembali bagi seluruh cabang-cabang ekonomi) merupakan dorongan (stimulus) utama bagi pengembangan produksi sosial.
Dalam fase sejarah masyarakat, tenaga-tenaga produktif telah mengalami perkembangan yang pesat. Secara historis, produksi dimulai dengan pembuatan dan penggunaan perkakas batu, tulang, dan kayu yang sangat primitif seperti: ujung batu dan pahat batu; pentungan dan tombak (lembing), jarum dan perkakas kerja lainnya yang dibuat dari tulang. Penemuan dan penggunaan api adalah salah satu karya terbesar dalam tahap awal perkembangan manusia. Penemuan tersebut, seperti yang Engels katakan, akhirnya memisahkan, membedakan, manusia dari kerajaan binatang. Langkah terbesar berikutnya adalah diciptakannya barang-barang tembikar. Kemampuan kerja manusia diperluas oleh penciptaan busur dan anak panah. Manusia kemudian bisa memproduksi sejumlah perkakas kerja primitif, yang memungkinkan mereka untuk berburu, memancing, dan menanam sayur-sayuran. Saat perkakas kerja diperbarui, manusia cenderung menjadi lebih terspesialisasi pada pekerjaan-pekerjaan tertentu. Pada tahap awal masyarakat primitif, manusia hanya memproduksi perkakas kerja untuk mengambil sumber-sumber kehidupan yang disediakan alam (ekonomi dari apa yang tersedia) sehingga mereka sangat tergantung pada kondisi-kondisi alam.
Revolusi besar dalam perkembangan produksi primitif: transisi dari sekadar mengambil apa yang tersedia ke produksi kebutuhan-kebutuhan hidup—dengan ditemukannya teknik pertanian dan peternakan. Transisi tersebut terjadi di Timur Tengah pada awal periode Neolitik (sekitar 12.000 tahun yang lalu). Pembuatan tepung yang dibuat dari gandum liar dan gerst (semacam gandum) persiapannya meliputi kerja: penanaman benih dan pemanenan hasil biji-bijian; dan perburuan kumpulan ternak (rusa-rusa, kambing liar, dombaa, dan sapi) mendorong dimulainya pemeliharaan ternak, peternakan.
Pengolahan tanah dengan tongkat-tongkat penggali dan, kemudian, dengan cangkul primitif, menuntut sejumlah pekerjaan besar—merupakan suatu tahap baru yang fundamental dalam perkembangan manusia sebab mengkondisikan manusia untuk menggunakan alat-alat produksi baru dan lebih besar, yakni: tanah. Perubahan radikal terjadi dalam produktivitas dan bentuk produksi pertanian: ditemukannya pembajak tanah sederhana yang ditarik oleh sapi. Kemajuan berikutnya: penggunaan perkakas kerja logam. Awalnya dibuat dari tembaga dan perunggu, kemudian dari besi. Pertanian dengan bajak, peternakan sapi, dan alat-alat logam meningkatkan produksi dalam jumlah yang baru. Itu lah basis, landasan, bagi pembagian kerja secara sosial—bidang produksi pertanian, bidang produksi pengrajin (akhli) dan, selanjutnya, terbagi ke dalam bidang pekerjaan mental serta pekerjaan fisik. Manusia mulai berproduksi dalam jumlah yang lebih besar dan, dengan demikian, membuka jalan untuk mengumpulkan kekayaan. Semua yang terjadi itu merupakan konsekwensi dan awal transisi dari sistem komunal primitif menuju ke masyarakat (ber)kelas. Kita juga harus mencatat suatu hal yang penting, yakni: diciptakannya bahasa tulisan, yang berguna bagi perkembangan produksi dan bagi peradaban manusia secara keseluruhan.
Dalam masyarakat (ber)kelas, produksi berkembang pada awalnya dengan basis, landasan, perkakas kerja pengrajin. Marx mengatakan bahwa basis produksi pengrajin itu konservatif karena perkakas kerjanya dikhususkan dan, mungkin, dalam bentuk-bentuk yang terbatas perkembangannya—misalnya, pisau, kapak, sekop, dan pacul hanya mengalami perubahan yang tidak signifikan, sulit menyesuaikan diri dengan berbagai macam bentuk aktivitas, perubahannya terbatas.
Setelah menggunakan tenaga binatang, tenaga air dan tenaga angin (kincir angin, roda/kincir air), selanjutnya perkakas kerja menjadi lebih rumit. Kehidupan produksi manusia diperkaya dengan penemuan-penemuan penting yang memainkan peran besar dalam perkembangan teknologi, yakni: jam mekanis, serbuk mesiu, produksi kertas, percetakan dan kompas. Semua penemuaan tersebut mengakumulasikan kondisi-kondisi bagi suatu loncatan kualitatif baru dalam perkembangan tenaga-tenaga produktif—produksi mesin.
Produksi manufaktur menghasilkan pra kondisi teknik bagi produksi mesin-mesin. Kerjasama atau penggabungan orang-orang untuk menyelesaikan berbagai macam tugas dalam suatu derajat yang terbatas—di penggalian-penggalian, di penambangan-penambangan, di bengkel-bengkel, di bangunan-bangunan dan lain sebagainya—mulai menjadi perhatian yang serius. Kerjasama di pabrik berbeda dengan kerjasama sederhana; walau untuk memproduksi satu macam barang tertentu, di pabrik lah pembagian kerja diatur secara lebih detail. Pembagian kerja di pabrik menghasilkan spesialisasi perkakas kerja dan spesialisasi buruhnya sendiri, selama mereka menjadi pelaku fungsi-fungsi khusus tersebut.
Seorang tukang menghasilkan keseluruhan produk namun, sebaliknya, di pabrik, produksi bagian-bagian produknya dipecah dalam proses-proses kerja tertentu, yang dikerjakan oleh buruh-buruh yang berbeda. Pembagian kerja tersebut meningkatkan produktivitas kerja dan menghasilkan pra kondisi untuk menggantikan proses-proses kerja produksi—yang dahulunya dilakukan oleh tenaga individu (buruh), sekarang digantikan oleh kerja mesin.
Produksi industri mesin telah dimulai sejak abad ke-18, saat Inggris ada dalam suasana revolusi industri. Marx menghubungkan revolusi industri tersebut dengan ditemukannya mesin-mesin kerja pemintal dan penenun. Ditemukannya mesin-mesin tersebut telah menggantikan sejumlah besar tenaga kerja (labour) buruh dengan tenaga mesin, menggantikan pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan tangan (manual). Tapi pekerjaan mesin membutuhkan suatu tenaga motor penggerak, dan kebutuhan tersebut bisa dipenuhi setelah ditemukannya mesin uap. Motor penggerak, mekanik pemindah yang dijadikan perkakas kerja, menghasilkan mekanisme produksi industri mesin untuk pertama kalinya.
Revolusi industri, yang telah dimulai di Inggris sejak abad ke-18, meluas, sampai selama abad ke-19, ke negara-negara Eropa lainnya, juga ke Amerika Utara dan, di akhir abad ke-19, ke Russia serta Jepang. Produksi mesin telah memberikan basis material dan teknik bagi kapitalisme.
Berbeda dengan basis pekerja pengrajin, basis teknik produksi mesin, menurut Marx, bersifat revolusioner karena potensi perkembangannya secara praktis tak terbatas, karena kesadaran penerapan ilmu pengetahuan pada produksi akan, tak terelakkan lagi, menyebabkan pembaruan teknik. Perkembangan produksi mesin telah berhasil mengungkapkan enerji (yang luar biasa besarnya) kerja manusia yang bisa disalurkan ke dalam proses kerja.
Sejarah perkembangan produksi mesin terbagai ke dalam empat tahap utama, yakni:
1. Operator mengoperasikan mesin-mesin yang ditunjang oleh tenaga mesin uap yang diproduksi oleh kerja manual. (Itu lah tahap awal revolusi industri dan kapitalisme industri);
2. Operator mengoperasikan mesin-mesin yang ditunjang oleh tenaga mesin uap yang, namun, sudah diproduksi oleh mesin-mesin juga (revolusi teknologi pertama dalam produksi mesin, dimulai pada akhir 1840-an);
3. Bagian perakitan menggabungkan mesin-mesin yang membutuhkan operator mesin semi-trampil dan dijalankan oleh listrik (revolusi teknologi kedua, dimulai pada akhir tahun 1890-an);
4. Mesin-mesin produksi semi-otomatis dijalankan oleh alat-alat elektronik (revolusi teknologi ketiga, dimulai pada akhir tahun 1940-an).
Pada abad ke-19, saat menganalisa prospek-prospek perkembangan (lebih lanjut) tenaga-tenaga produktif, Marx memprediksi bahwa perkembangan produksi mesin akan beregeser dari penggunaan mesin-mesin secara terpisah menjadi penggunaan mesin-mesin yang sistematik dan, di masa depan, akan tercipta produksi otomatis, yang akan menyingkirkan buruh-buruhnya dari proses produksi material secara langsung atau hanya menyisakan tugas pengontrolan, pengaturan, perbaikan mesin-mesin, serta penciptaan mesin yang baru. Kemunculan mikro-elektro—yang sejak akhir tahun 1960-an telah memberikan kemungkinan jeneralisasi sistem produksi semi-otomatis, atau bisa dikatakan sebagai ciri revolusi teknologi ketiga—juga telah mulai menciptakan basis teknik bagi otomasi penuh (‘robotisasi’). Bagaimana pun juga, penerapan besar-besaran produksi (otomatis) mesin-mesin (otomastis) (revolusi teknologi ke-empat dalam produksi mesin) benar-benar telah terhambat karena—seperti juga pernah ditekankan oleh Marx—perkembangannya tak sesuai dengan cara produksi kapitalis (robot tak membeli barang dan jasa atau memproduksi nilai. (13)
Dengan perkembangan produksi mesin, secara umum produksi akan semakin menjadi ruang-lingkup bagi penerapan teknologi ilmu pengetahuan; sementara itu, ilmu pengetahuan dijadikan sebagai tenaga produktif langsung; dan tenaga kerja ilmiah ditransformasikan menjadi suatu bentuk khusus tenaga kerja yang sudah diproletarisasi (yakni, tenaga kerja disubordinasikan pada kebutuhan-kebutuhan kapitalisme dan yang dikontrol oleh kapital). Seperti yang Marx ungkapkan:
“Dalam permesinan, kapital memasukkan tenaga kerja bernyawa (ke dalamnya) hingga mencapai taraf yang paling sesuai dengan realitas, sebagaimana juga bisa dilihat dalam contoh ini: pertama-tama, analisa dan penerapan hukum-hukum mekanis dan hukum-hukum kimia lah yang, secara langsung, meningkatkan ilmu pengetahuan, hingga memungkinkan mesin mencapai hasil tenaga kerja yang sesuai dengan yang sebelumnya dihasilkan oleh tenaga kerja buruh. Bagaimana pun juga, perkembangan permesinan seperti itu hanya bisa terjadi bila industri skala besar telah mencapai taraf yang lebih tinggi, dan bila seluruh ilmu pengetahuan sudah bisa dipaksa melayani kapital; dan, kedua, bila permesinan yang tersedia itu sendiri sudah bisa menghasilkan kemampuan yang tinggi. Penemuan-penemuan kemudian menjadi suatu bisnis, dan penerapan ilmu pengetahuan pada produksi langsung menjadi sebuah prospek yang menentukan dan sangat dibutuhkan.” (14)
Namun, adalah salah bila memahami tesis Marx tersebut dengan pandangan bahwa ilmu pengetahuan secara keseluruhan diterapkan, digabungkan, pada produksi dan kehilangan independensi relatifnya, serta berhenti menjadi ruang-lingkup produksi intelektual.
Transformasi ilmu-pengetahuan menjadi tenaga produktif bermakna: pertama, perkakas kerja, proses-proses teknologi, merupakan hasil dari materialisasi ilmu-pengetahuan ilmiah; teknologi baru tak bisa diciptakan tanpa ilmu-pengetahuan, dan keberadaan teknologi tak bisa berfungsi tanpanya. Kedua, ilmu-pengetahuan ilmiah sudah menjadi sebuah komponen penting dalam pengalaman dan pengetahuan seluruh rakyat pekerja yang mengambil bagian dalam proses produksi. Ketiga, kontrol nyata atas produksi, atas proses teknologi, khususnya dalam sistem otomatik, juga sudah merupakan hasil dari penerapan ilmu pengetahuan. Keempat, konsep produksi sudah meluas dan memasuki tak hanya proses produksi tapi juga penelitian dan pengembangan, oleh karenanya lingkungan ilmu-pengetahuan dan produksi terlibat untuk saling-mendorong satu dengan yang lainnya.
Keseluruhan dampaknya adalah memperluas komponen manusia dalam tenaga-tenaga produktif, yang bukan saja memasukkan (ke dalamnya) komponen buruh manual tapi juga teknisi, insinyur dan ilmuwan yang secara langsung peduli untuk memberikan layanan teknik dan ilmu pengetahuan dalam proses produksi.
Mekanisasi dan ‘pengilmiahan’ produksi menciptakan basis, landasan, untuk menggabungkan kerja fisik dan kerja mental, mendorong intelektualisasi kerja buruh, membuat kerja menjadi lebih berarti dan kreatif, mendorong perubahan penting dalam struktur kerja profesional dan, dengan secepatnya, memperluas jumlah buruh terdidik, personel teknik serta personel permesinan.
Karena jalur produksi terus menerus mengalir maka, secara khusus, individu dituntut memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan-keputusan independen, sehingga bisa menjamin tanggung jawabnya untuk mengkombinasikan kepentingan personalnya dengan kepentingan kolektif. Karena, dalam pabrik (yang produksinya juga mempekerjakan buruh manual), buruh hanya menjadi buruh ‘parsial’, misalnya: setelah produksi perakitan mengalami perkembangan (menggunakan ban berjalan) maka seorang buruh hanya menjadi ‘bagian dari mesin’; perkembangan proses produksi semi-otomatik, yang terus menerus berproduksi, akan membutuhkan peningkatan kemampuan kreatifitas buruh, membebaskan proses produksi dari buruh yang tak-terampil dan monoton. Potensi segenap perkembangan individu—yang merupakan tujuan dari sosialisme—akan terwujud karena, dipandang dari susut produksi semi-otomatis modern, memang merupakan suatu kebutuhan dari tenaga produktif itu sendiri. Dengan demikian, kita bisa melihat salah satu bukti, kenyataan, yang menunjukkan bahwa kecenderungan perkembangan obyektif ilmu pengetahuan dan teknologi: menghendaki kapitalisme diganti oleh sosialisme.
Penulis-penulis Borjuis memboroskan waktu sekian lama sekadar untuk menghasilkan tuduhan: bahwa marxisme hanya memandang manusia sebagai ‘tenaga produktif’, tidak menilainya dari sisi personal individual. Dalam realitas, walaupun manusia merupakan tenaga produktif, namun orang-orang yang bekerja (atau di tempat kerja) adalah individu-individu yang kreatif. Kategorisasi orang-orang sebagai tenaga produktif, tentu saja, tidak identik bahwa status mereka diperkecil atau direduksi menjadi benda. Sebaliknya, kategorisasi tersebut justru menghargai orang-orang sebagai pencipta, menghargai kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu yang bisa menaikkan status mereka (lebih tinggi dari binatang), dan menghargai kerberadaan mereka sebagai pengontrol alam. Kategorisasi orang-orang sebagai tenaga produktif tidak lah menurunkan status mereka; yang menurunkan status mereka adalah penindasan terhadap pekerja (buruh), merubah kerja (mereka) menjadi suatu malapetaka, dan menjadikan buruh menjadi budak-budak. Kondisi-kondisi sosial demikian merendahkan status orang-orang menjadi sekadar barang, dan marxisme menentang segala bentuk penindasan. Keunggulan marxisme justru karena bercita-cita agar manusia, sebagai sebuah tenaga produktif, bisa menjadi pekerja bebas, yang memiliki perkembangan yang tinggi, yang memiliki kreativitas personal. Itu lah humanisme yang nyata, bukan ilusi.
Dalam kondisi-kondisi kapitalisme—yang menyebabkan kemajuan teknologi modern justru bisa membangkitkan dan memperluas antagonisme sosial yang akut—kita temui berbagai macam ‘mitologi teknologi’, yang memberikan peran absolut pada teknologi dan menganggap teknologi sebagai kekuatan yang memusuhi manusia—perkembangan ilmu-pengetahuan dan teknologi menjadi malapetaka bagi manusia. Mereka percaya bahwa teknologi menciptakan berbagai macam bahaya bagi manusia, membuat kehidupan lebih seragam dan impersonal.
Penulis-penulis konsep tersebut memisahkan teknologi dari rakyat, tak percaya pada peranan kelas buruh, massa pekerja secara keseluruhan, dan mengabaikan siginifikansi kondisi-kondisi sosial sebagai faktor utama yang mempengaruhi baik-tidaknya hasil-hasil perkembangan teknologi. Di bawah kapitalisme, secara aktual, kehidupan menjadi lebih distandarisasi dan orang-orang kehilangan individualitas mereka. Penyebabnya bukan lah kemajuan teknologi melainkan dominasi pemilikan pribadi atas alat-alat produksi, yang menerapkan hubungan-hubungan sosial berladaskan eksploitasi.
Oleh karenanya, perkembangan teknologi dan tenaga produktif, kaitan-kaitannya tak boleh dipandang terpisah dari hubungan-hubungan sosial.
3. Hubungan-Hubungan Sosial
Produksi dan hasil-hasil produksi selalu bersifat sosial. Dalam menciptakan dan memproduksi barang-barang, potensi manusia, satu dengan yang lainnya, masuk ke dalam berbagai macam hubungan, dan hanya dalam ikatan-ikatan hubungan-hubungan seperti itu lah hubungan mereka dengan alam bisa eksis.
Manusia tak pernah memproduksi sesuatu sendirian, murni individual, terisolasi total dari yang lainnya. Ide seseorang untuk mampu memproduksi sesuatu secara terisolasi total (di luar masyarakatnya) adalah sebuah fantasi imajinasi. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, manusia mengembangkan dirinya, keluar dari dunia binatang, jika ia berada dalam masyarakatnya, dalam interaksi dengan yang lainnya (dari jenis mereka sendiri). Dalam tahap awal perkembangan masyarakat, produksi bersifat kolektif dalam pengertian semurni-murninya istilah kolektif. Walaupun produksi kehilangan karakter kolektifnya—saat produksi dilanjutkan oleh keluarga-keluarga yang terpisah-pisah—namun hubungan-hubungan produksi di antara mereka tidak menghilang. Hubungan-hubungan produksi tersebut masih dipertahankan bahkan, selanjutnya, diperluas sejalan dengan perkembangan pembagian kerja sosial, sejalan dengan pertumbuhan produksi barang-barang komoditi, dan sejalan dengan pertukaran. Sejak pembagian kerja mulai dikembangkan, ketergantungan setiap produser (terhadap produser lainnya) semakin meluas, misalnya karena ia memperoleh (dari yang lainnya) bahan-bahan mentah dan perkakas kerja atau, sebaliknya, ia menjual perkakas kerja dan produk-produknya (pada yang lainnya). Akhirnya, setelah produksi mesin meluas, saling-hubungan di antara produser bahkan menjadi semakin organik, yang diwujudkan dalam bentuk sosialisasi (proses-proses) tenaga kerja yang semakin meluas.
Berbagai macam hubungan (di antara orang-orang tersebut) diwujudkan dalam bentuk hubungan proses-proses produksi—misalnya saja, hubungan-hubungan yang dikondisikan oleh pembagian kerja teknis (akibat adanya berbagai perdagangan yang terspesialisasi). Itu lah hubungan antar-bengkel dalam pabrik, hubungan antar-buruh yang memiliki saling-kaitan tertentu dalam proses-proses produksi, dan sebagainya. Hubungan-hubungan tersebut digambarkan sebagai hubungan-hubungan kerja (teknis-produksi) atau, lebih tepatnya, pembagian kerja dalam satu unit produksi. Hubungan-hubungan tersebut dikondisikan oleh perkakas kerja (yang ada) yang bisa digunakan oleh para produsernya (buruh) dan, selain itu, dikondisikan oleh pengetahuan serta keterampilan mereka. Tujuan pembagian kerja—kerjasama teknis yang diperlukan dalam proses produksi—yang menggunakan teknologi khusus, adalah memilah-milah dua hal: tenaga produktif dan hubungan produksi.
Hubungan sosial produksi (ekonomi) adalah suatu hal yang berbeda. Karakter hubungan tersebut tergantung pada bagaimana alat-alat produksi didistribusikan pada masyarakat atau, dengan kata lain, bagaimana, dalam masyarakat tertentu, masalah pemilikan alat-alat produksi utama bisa diselesaikan.
Secara prinsipil, dalam bentuknya yang paling umum, masalah pemilikan alat-alat produksi diselesaikan dengan dua cara: satu, alat-alat produksi diserahkan pemilikannya pada seluruh masyarakat atau, dua, alat-alat produksi diserahkan pemilikannya pada individu-individu, pada sebagian masyarakat, sementara sebagian masyarakat lainnya dienyahkan hak pemilikannya. Dengan kata lain, apakah alat-alat produksi menjadi milik sosial atau menjadi milik pribadi. Pengertian pemilikan alat-alat produksi tidak lah sesederhana pemilikan pribadi (property) sebagaimana yang tertuang dalam hukum. Pengertian pemilikan alat-alat produksi adalah suatu hubungan ekonomi nyata di antara orang-orang, yang dimediasi oleh hubungan tak langsung terhadap benda-benda—alat-alat produksi. Hubungan-hubungan sosial tersebut—yang dimasuki orang-orang dalam rangka kegiatan produksi—bukan lah merupakan hasil dari tindakan yang sadar; hubungan-hubungan sosial tersebut merupakan hasil adaptasi (spontan dan tak sadar) terhadap tenaga-tenaga produktif material dan kadaluarsanya. Tapi, kemudian, saat masuk dalam hubungan-hubungan tersebut, dalam proses produksi, mereka menjadi sadar bahwa mereka butuh diakui secara sosial dan dibutuhkan oleh orang-orang lainnya. Oleh karenanya, dalam kegiatan produksi, kemudian mereka membutuhkan aturan sosial yang bisa mengatur hubungan timbal-balik mereka terhadap alat-alat produksi. Saat itu lah muncul hubungan-hubungan pemilikian pribadi.
Dalam hubungan produksi, alat-alat produksi menjadi milik pribadi berbagai orang atau kelompok. Untuk melanjutkan produksi dan distribusi hasil-hasilnya, perlu dibuat beberapa perjanjian, yang akan mengikat seluruh anggota suatu masyarakat tertentu sehingga, dengan demikian, masyarakat mengerti siapa yang dilibatkan atau berhak mengatur alat-alat produksi dan hasil produksinya (yang diproduksi secara bersama dengan mereka). Hubungan-hubungan pemilikan pribadi, oleh karenanya, merupakan suatu cara yang secara sosial mengatur hubungan-hubungan timbal-balik dalam proses memanfaatkan alat-alat produksi dan pengaturan produksinya, yang mengatur hubungan-hubungan produksi sebagai suatu kewajiban, yang semuanya itu mengikat masyarakat dan angota-anggotanya.
Dengan demikian, kita bisa mendifinisikan hubungan-hubungan sosial produksi sebagai: hubungan-hubungan timbal-balik yang dimasuki orang-orang untuk mengatur proses produksi dan penditribusian hasil-hasil produksinya, dan orang-orang menjadi sadar bahwa yang demikian itu adalah hubugan-hubungan pemilikan pribadi.
Jika alat-alat produksi dimiliki oleh seluruh masyarakat, anggota-anggota masyarakat akan berdiri dalam hubungan yang sejajar saat berhadapan dengan alat-alat produksi, dan hubungan-hubungan kerjasama kolektif serta saling bantu akan bisa dihidupkan di antara mereka. Bentuk-bentuk kerjasama tersebut—dalam arti pemilikan sosial, misalnya—berbeda-beda bentuknya. Misalnya, dalam sejarah pemilikan sosial ditemukan bentuk pemilikan keluarga besar, pemilikan suku bangsa, pemilikan komunal primitif, dan pemilikan kelas buruh secara keseluruhan dalam masyarakat paska-kapitalis, yang deselenggarakan serta diatur oleh negara buruh.
Di sisi lain, jika pemilik alat-alat produksi adalah individu-individu, atau jika alat-alat produksi dikuasai hanya oleh sebagian masyarakat, bukan oleh seluruh masyarakat, maka karakter pemilikan tersebut membutuhkan sifat yang pribadi—sesama manusia ditempatkan dalam suatu hubungan yang tak setara saat memiliki alat-alat produksi, di satu pihak yang menguasai (pemilik alat-alat produksi) dan, di lain pihak, yang dikuasai (bukan pemilik alat-alat produksi), sehingga memunculkan hubungan-hubungan yang eksploitatif.
Apakah yang dimaksud dengan eksploitasi? Waktu perkakas kerja masih primitif, produktivitas tenaga kerja masih rendah sehingga hanya pembagian kerja mendasar (produktif-teknis) saja yang dimungkinkan. Seluruh anggota masyarakt didorong bekerja bersama demi mempertahankan hidup. Cara tersebut menyebabkan alat-alat produksi dimiliki bersama dan, hasil-hasil produksinya, seberapa pun diperoleh, pun dibagikan dengan adil kepada seluruh anggota komunitas, kepada seluruh anggota keluarga besar atau kepada seluruh anggota suku-bangsa. Tapi, saat perkakas kerja telah memiliki kemampuan yang lebih besar maka, konsekuensinya, produktivitas tenaga kerja menjadi lebih besar, atau tenaga kerja bisa berproduksi melebihi dari (kebutuhan pokok) yang diperlukan oleh pra produsernya. Situasi seperti itu memungkinkan atau merangsang sekelompok minoritas, bila berhasil merampas kelebihan (surplus) produksi tersebut, untuk hidup dari kerja orang lain. Kemungkinan tersebut menjadi kenyataan saat minoritas tersebut berhasil mengambil alih alat-alat produksi (yang oleh buruh, sebagai produser, digunakan untuk berproduksi), yakni saat massa produser (buruh) dipaksa menerima ketentuan bahwa alat-alat produksi tersebut bukan miliknya tapi milik pribadi kelompok minoritas tersebut. Bagi produser (buruh), eksploitasi bermakna: bahwa hanya sebagian saja dari total yang dihasilkan oleh tenaga kerja mereka yang bisa mereka peroleh kembali (untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka), sedangkan sisanya dirampas oleh pihak lain, dan itu disebabkan karena pemilikan pribadi atas segala macam alat-alat produksi. Dengan merampas surplus hasil tenaga kerja orang lain, para penghisap bisa hidup lebih baik, lebih sejahtera, tanpa harus bekerja sekali pun.
Eksploitasi bermakna: sebagian kecil, minoritas masyarakat, yang karena memiliki alat-alat produksi secara besar-besaran, bisa hidup (tanpa kerja) dengan merampas hasil tenaga kerja orang lain, hasil tenaga kerja mayoritas.
Pada tahun 1895, dalam kata pengantar pada karyanya, “A Contribution to a Critique of Political Economy”, Marx mendefinisikan tipe-tipe dasar formasi sosio-ekonomi (dengan basis eksploitasi kerjanya masing-masing)—Asiatik, perbudakan, feodal dan kapitalis. Dalam setiap tahap perkembangan formasi sosio-ekonomi tersebut, dihidupkan atau hidup juga pemilikan pribadi dalam skala kecil, seperti pemilikian pribadi kaum tani, pemilikan pribadi pengrajin, tukang, yang berbasiskan tenaga kerja pribadi.
Bentuk pemilikan dalam setiap tipe masyarakat tersebut menentukan cara eksploitasi terhadap para produsernya. Cara produksi Asiatik (15) pertama kali muncul di Irak dan Mesir-kuno pada abad ke-4 (Sebelum Masehi/SM). Dan di sungai Indus pada abad ke-3 SM, di Cina Utara pada abad ke-2 SM. Cara produksi tersebut bisa muncul di atas basis dan ketergantungan pada pertanian yang membutuhkan pekerjaan-pekerjaan umum dalam skala yang besar serta dilakukan oleh komunitas secara keseluruhan. Alat-alat produksi utamanya—tanah dan air—dimiliki secara pribadi oleh para penguasa despotik. Populasi pekerjanya—komunitas desa yang terdiri dari petani-tukang—memiliki perkakas kerjanya sendiri (perkakas kerja dan hewan), namun mereka tergantung pada penguasa (pimpinan agama dan bangsawan-militer) dan aparat-aparat pejabat (yang begitu banyak) yang memimpinnya dalam membangun, memelihara, memperbaiki, konstruksi sistem-sistim irigasi skala besar (kanal, bendungan, waduk). Raja, pimpinan agama, dan bangsawan-militer, mengeksploitasi penduduk pedesaan dengan memaksa mereka ‘menyembahkan’ upeti (baik barang maupun jasa).
Sedangkan tipikal hubungan-hubungan produksi perbudakan (yang muncul di Yunani-Kuno dan Romawi-Kuno): bukan saja perkakas kerjanya, tapi para pekerjanya itu sendiri juga menjadi milik orang lain, yakni pemilik budak. Hasil-hasil produksi (tenaga kerja) para budak dirampas seluruhnya oleh pemilik budak, budak hanya lah mendapatkan sekadar kebutuhannya untuk bertahan hidup.
Sistem hubungan-hubungan feodal (yang muncul di Eropa Barat pada abad pertengahan) didasarkan pada pemilikan tanah dalam skala besar. Untuk mendapatkan izin menggarap sepetak tanah, agar bisa bertahan hidup dan menjalani kehidupan, para petani-tukang (hamba) secara personal tergantung pada bangsawan pemilik tanah. Dengan demikian, memungkinkan bangsawan feodal mengeksploitasi hambanya dengan kewajiban menyediakan layanan tenaga kerja baginya secara cuma-cuma.
Struktur ekonomi kapitalisme didasarkan pada pemilikan pribadi kapitalis atas alat-alat produksi pokok—pabrik-pabrik, pertambangan-pertambangan, dan lain sebagainya—dan didasarkan pada buruh bebas, yakni buruh yang bebas dari ketergantungan personal, bebas untuk memiliki kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan ekonomi memaksa buruh menjual tenaga kerjanya, layaknya barang dagangan (komoditi), pada pemilik kapital, dan hanya dengan cara itu lah buruh bisa menyatukan dirinya dengan perkakas kerja yang ada untuk memulai proses produksi. Kapitalis merampas kelebihan, surplus, tenaga kerja buruh—dengan membeli tenaga kerja buruh sesuai dengan harga pasar (upah minimum rata-rata) yang, padahal, nilainya lebih rendah dari nilai (pasar) barang-barang dagangan yang mereka produksi saat mereka bekerja untuk kapitalis, atau nilainya lebih rendah dari nilai seharusnya (tenaga kerja yang dibutuhkan secara sosial) (sosially necessary labour).
Jadi, hubungan-hubungan pemilikan memiliki signifikasi penting dalam sejarah manusia. Perbedaan dalam seluruh abad sejarah manusia tergantung pada bentuk-bentuk dominan pemilikan. Tentu saja hubungan-hubungan pemilikan tersebut selalu merupakan ekspresi dari satu sistem hubungan-hubungan produksi tertentu. Ikatan-ikatan hubungan-hubungan tersebut ditentukan oleh gerak dari produk material: diawali dalam lingkup produksi material, berlanjut berkisar di lingkaran tertentu dan, kemudian, menjalani pertukaran serta distribusi yang, akhirnya, menjangkau konsumer yang mengkonsumsinya (secara individual). Konsumsi itu sendiri tergantung pada produksi tapi, pada saat yang sama, bertentangan dengan produksi, dalam arti: bahwa konsumsi mengenyahkan produk material keluar dari lingkup hubungan-hubungan produksi.
Konsekwensinya, dalam proses produksi, hubungan-hubungan produksi tidak saja menciptakan bentuk-bentuk yang bisa menyatukan produser dengan perkakas tenaga kerjanya, tapi juga hubungan-hubungan pertukaran aktivitas, hubungan-hubungan produksi aktivitas, dan distribusi barang-barang yang dihasilkannya. Kebutuhan untuk saling-menukarkan aktivitas dan hasil-hasil produksinya disebabkan karena adanya pembagian kerja secara sosial—terbagi menjadi kerja tukang/industri dan kerja pertanian, kerja mental dan kerja fisik dan lain sebagainya.
Karakter distribusi—bentuk-bentuk dan besarnya pendapatan berbagai kelas dan kelompok sosial—juga tergantung pada bentuk pemilikan. Sebagaimana layaknya tenaga produktif, hubungan-hubungan produksi juga termasuk bagian dari sisi material (nyata) kehidupan sosial. Karakter material hubungan-hubungan produksi diekspresikan pada fakta bahwa hubungan-hubungan tersebut eksis secara obyektif, independen dari keinginan dan kesadaran manusia. Eksistensi dan karakternya ditentukan bukan oleh keinginan-keinginan orang-orang, melainkan oleh taraf produksi yang telah dicapai. Lebih-lebih, hubungan-hubungan produksi (atau ekonomi) yang berlaku di antara orang-orang tidak hanya, bukan, ditentukan oleh kesadaran sosial rakyat; bahkan kesadaran sosialnya tak menyadari hubungan-hubungan produksi tersebut secara tuntas.
Tenaga-tenaga produktif dan hubungan-hubungan produksi merupakan dua aspek produksi sosial yang tak bisa dipisah-pisahkan. Hanya dalam abstraksi saja tenaga-tenaga produktif bisa dipandang tanpa melibatkan hubungan-hubungan produksi, atau sebaliknya. Dalam realitas, tenaga-tenaga produktif dan hubungan-hubungan produksi tak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya, baik dalam bentuknya maupun dalam isinya—dalam hal ini, jika kita memandang tenaga-tenaga produktif sebagai isiannya, maka hubungan-hubungan produksi adalah bentuk sosialnya. Secara jeneral, layaknya isi yang menentukan bentuk, demikian pula tenaga-tenaga produktif menentukan hubungan-hubungan produksi. Pada saatnya, hubungan-hubungan produksi juga membantu melancarkan fungsi tenaga-tenaga produktif dengan suatu kwalitas sosial tertentu. Walaupun hubungan-hubungan produksi tergantung pada status dan karakter tenaga-tenaga produktif, namun hubungan-hubungan produksi lah yang menentukan hakikat sosial setiap cara produksi.
4. Dialektika Perkembangan Hubungan-hubungan Produksi dengan Tenaga-tenaga produktif
Setelah mempertimbangkan gambaran tenaga-tenaga produktif dan hubungan-hubungan produksi sebagai dua sisi cara produksi, sekarang kita bisa berlanjut pada analisa mengenai saling-hubungan dan interaksinya.
Interaksi tenaga-tenaga produktif dan hubungan-hubungan produksi patuh terhadap hukum sosial (jeneral) yang telah diuji oleh sejarah, yakni hukum yang mengaitkan hubungan-hubungan produksi dengan karakter dan tingkat perkembangan tenaga-tenaga produktif. Hukum yang bisa memahami karakter obyektif ketergantungan hubungan-hubungan produksi pada perkembangan tenaga-tenaga produktif, dan menyimpulkan fakta bahwa hubungan-hubungan produksi terbentuk serta berubah sesuai dengan pengaruh tenaga-tenaga produktif tersebut.
Menurut Marx, apa yang “membedakan berbagai macam formasi ekonomi masyarakat—misalnya saja, perbedaan antara masyaraklat yang berbasiskan tenaga kerja-perbudakan dengan masyarakat yang berbasiskan pada tenaga kerja-upahan—adalah bentuk (cara) bagaimana, dalam setiap kasusnya, surplus tenaga kerja dirampas dari produsen langsungnya, pekerjanya.” (16) Bentuk perampasan surplus tenaga kerja, bentuk eksploitasi—atau hubungan-hubungan produksi dalam masyarat yang sudah terbagi ke dalam kelas-kelas—ditentukan oleh tenaga-tenaga produktif masyarakat. “Hubungan tersebut, yang selalu merupakan hubungan langsung antara pemilik syarat-syarat produksi dengan produsen langsungnya—suatu hubungan yang secara alamiah (pada hakikatnya) berkaitan dengan suatu tahap tertentu perkembangan metode-metode (tenaga) kerja dan, karenanya, menunjukkan produktivitas sosialnya—bisa mengungkapkan rahasia yang paling dalam: basis, landasan (tersembunyi), seluruh struktut sosial…” (17)
Saat manusia baru saja keluar dari status kebinatangannya, perkakas batu dan perkakas-perkakas lain yang digunakan orang-orang? meskipun perkakas-perkakas tersebut digunakan secara individual? begitu primitifnya dan tidak produktif sehingga individu yang dilengkapi perkakas tersebut tak mampu (sendirian) menghasilkan barang-barang kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya. Orang-orang terpaksa bekerja sama, saling-tolong, karena secara individual mereka lemah dalam menghadapi kekuatan alam yang begitu besar. Jadi, dengan demikian, tenaga produktif yang paling utamanya adalah kekuatan kolektif itu sendiri, dan dengan basis itu lah hubungan-hubungan kolektif primitif terbentuk.
Perkembangan tenaga-tenaga produktif selanjutnya—transisi dari zaman batu ke zaman perunggu, kemudian ke zaman besi, pembuatan dan penggunaan perkakas kerja, dan penggantian cangkul kayu primitif dengan bajak yang ditarik, dihela binatang (yang sudah) diternakkan—bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja, sehingga memungkinkan orang menyelenggarakan aktivitas produksi dengan basis tenaga kerja individual atau keluarga. Itu lah basis, alas, landasan, alasan, yang menghancurkan komune primitif—yang didasarkan pada aktivitas tenaga kerja kolektif dan pembagian bersama hasil produksinya. Perkembangan tenaga-tenaga produktif tersebut juga memungkinkan timbulnya surplus produksi sosial secara regular—kelebihan produk setelah kebutuhan-kebutuhan mendasar produsennya dipenuhi—sehingga memungkinkan pembagian antara tenaga kerja fisik dan tenaga kerja mental. Setelah alat-alat produksi dan surplus produksi sosial dirampas oleh orang-orang yang tak terlibat secara langsung dalam produksi, masyarakat kemudian menjadi terbagi ke dalam kelas-kelas, terbagi menjadi kelas penghisap (exploiters) dan kelas yang dihisap (exploited).
Hukum yang bisa mengaitkan antara hubungan-hubungan produksi dengan karakter dan tingkat perkembangan tenaga-tenaga produktif terwujud dengan sendirinya pada tahap produksi seperti itu: fakta bahwa hubungan-hubungan produksi (yang berbasiskan pemilikan-pribadi-alat-alat produksi) sejalan dengan karakter pribadi tenaga-tenaga produktif. Jelas tergambar: bahwa hanya pemilikan-pribadi kecil-kecilan (yang berbasiskan tenaga kerja personal) sajalah yang sesuai dengan perkakas-perkakas produksi individual. Tapi, bentuk pemilikan-pribadi tersebut tak pernah bisa menghasilkan satu cara produksi khusus karena pemilikan tersebut tidak bisa dengan sendirinya menjamin kemajuan dalam bidang ekonomi dan kebudayaan. Penjelasan tersebut memberikan pengertian: bahwa perkembangan bentuk-bentuk pemilikan-pribadi yang didasarkan pada perampasan hasil-hasil tenaga kerja orang lain, yakni, yang didasarkan pada eksploitasi, menjadi mungkin, bisa direalisir, dengan adanya surplus tenaga kerja dan surplus produksi.
Dalam pengantar “Contribution to the Critique of Political Economy”, Marx menulis:
“Secara garis besar, cara produksi masa purba, asiatik, feodal dan borjuis modern bisa mengindikasikan abad kemajuan formasi ekonomi masyarakat. Hubungan-hubungan produksi borjuis merupakan bentuk antagonistik terakhir proses produksi sosial... tenaga-tenaga produktif yang berkembang dalam rahim masyarakat borjuis itu sendiri lah yang akan menciptakan kondisi-kondisi, syarat-syarat, material untuk menyelesaikan antagonismenya.” (18)
Kemajuan yang yang dimaksud, yakni peningkatan produktivitas tenaga kerja—yang disebabkan oleh taraf perkembangan tenaga-tenaga produktif yang lebih tinggi—juga dimungkinkan oleh hubungan-hubungan produksi dominan setiap cara produksi tersebut. Walaupun setiap cara produksi tersebut didasarkan pada eksploitasi tenaga kerja, tapi hanya cara produksi kapitalis-lah yang mendorong tenaga-tenaga produktif mencapai taraf perkembangan dan karakter sosial yang, secara obyektif, memungkinkan atau bisa mengakhiri eksploitasi.
Dalam proses kemunculan kapitalisme, produsen-produsen langsung diubah menjadi ‘buruh khusus/parsial’ manufaktur dengan berbasiskan perkakas tenaga kerja yang memiliki karakter pribadi. Tapi, secara bertahap, kapitalisme mengembangkan produksi mesin sehingga mendorong proses produksi itu sendiri memiliki karakter sosial. Penggunaan mesin-mesin, secara obyektif, mengharuskan produksi menggabungkan orang-orang ke dalam kolektif yang besar dan mulai menerapkan pembagian kerja dengan skala yang lebih besar dalam masyarakat. Saat itu lah muncul proletariat modern—kelas yang sama sekali dipisahkan dari, tak memiliki hak pemilikan terhadap, alat-alat produksi dan yang, secara ekonomi, dibelenggu kapital.
Semuanya itu memberikan suatu perubahan kwalitatif terhadap karakter tenaga-tenaga produktif. Hasil produk sekarang tak lagi merupakan hasil tenaga kerja produsen yang terpisah-pisah melainkan hasil dari sebuah kelompok kerja, atau hasil dari kolektif tenaga kerja banyak orang. Tapi hasil-hasil poduksinya tak dimiliki oleh orang-orang yang memproduksinya, melainkan dimiliki oleh pemilik alat-alat produksi—sang kapitalis. Di bawah kapitalisme, kontradiksi berkembang karena proses produksi—yang memiliki karakter sosial—bertentangan dengan bentuk pemilikan kapitalis—yang memiliki karakter pribadi. Itu lah landasan bagi kontradiksi dalam masyarakat kapitalis.
Kontradiksi tersebut menunjukkan dirinya dalam bentuk kekacauan spontanitas ekonomi kapitalis, dalam bentuk anarki produksi, dalam bentuk krisis-krisis (akibat kelebihan produksi), dan dalam bentuk perjuangan kelas proletariat.
Dibentuknya monopoli-monopoli kapitalis merefleksikan (dalam bingkai-kerja kapitalisme) hakikat sosial tenaga-tenaga produkstif kontemporer, dan sebagai suatu usaha kapitalisme monopoli untuk menerapkan prinsip-prinsip perencanaan dan aturan-aturan tertentu serta rencana-rencana ke dalam perkembangan spontan produksi kapitalis. Tapi semuanya itu tak akan merubah dan, sekali lagi, tak bisa merubah, hakikat kapitalisme karena alat-alat produksi pokok tetap dimiliki secara pribadi.
Mekanisme kompetisi, mekanisme konsentrasi dan sentralisasi kapital, menghasilkan konsentrasi kekayaan (lebih jauh lagi) ke tangan segelintir kapitalis. Pada saat yang sama, produsen yang dipisahkan dari alat-alat produksinya, buruh-upahan, eksploitasi dan gambaran-gambaran lain hubungan-hubungan kapitalis tetap bercokol dan cenderung berkembang terus. Kontradiksi mendasar tersebut tak bisa diatasi dalam bingkai-kerja kapitalisme karena hanya pemilikan sosial (alat-alat produksi) lah yang sesuai dengan karakter sosial proses produksi. Perkembangan industri dalam skala besar tidak saja menciptakan pra kondisi material bagi pemilikan sosialis atas alat-alat produksi tapi juga merupakan keniscayaan perkembangan dari kapitalisme ke sosialisme.
Kesimpulannya: setiap bentuk hubungan-hubungan produksi bisa eksis selama hubungan-hubungan produksi tersebut menyediakan tempat yang selayaknya bagi perkembangan tenaga-tenaga produktif.
Tapi, bila tenaga-tenaga produktif berkembang terus, maka hubungan-hubungan produksi yang ada, secara bertahap, akan berkontradiksi dengan perkembangan tenaga-tenaga produktif tersebut, dan akan saling memisahkan diri, tak bersesuaian lagi. Menurut Marx, orang tak pernah, secara suka rela, menyerahkan tenaga-tenaga produktif yang telah mereka hasilkan, tapi itu tak berarti mereka tak akan merelakan hubungan-hubungan produksi (yang telah mereka canangkan) diubah untuk melayani bentuk perkembangan tenaga-tenaga produktif tersebut. “Sebaliknya, agar hasil yang telah mereka capai tidak dirampas, dan agar tak kehilangan buah-buah peradaban, mereka wajib, terpaksa—karena cara pengelolaan perdagangan sudah tak sesuai lagi dengan yang disyaratkan oleh tenaga-tenaga produktif—merubah seluruh bentuk-bentuk (sosial) tradisional mereka.” (19)
Jika hubungan-hubungan produksi berubah dikarenakan kemajuan tenaga-tenaga produktif, kemudian, bisa saja muncul pertanyaan, apa kah yangmenyebabkan perkembangan tenaga-tenaga produktif itu sendiri? Jawabannya: kita harus mempertimbangkan tindakan seluruh perangkat yang menjadi berbagai sebab. Setelah menguji interaksi kondisi-kondisi geografis, pertumbuhan penduduk dan produksi, maka terbukti bahwa kondisi-kondisi geografi dan pertumbuhan penduduk memberikan suatu pengaruh yang signifikan terhadap produksi, dan bisa saja mempercepat atau memperlambatnya. Tapi kondisi geografis dan pertumbuhan penduduk bukan lah akar, atau sumber pokok, perkembangan tenaga-tenaga produktif.
Perkembangan tenaga-tenaga produktif memiliki logika internalnya sendiri. Perkakas kerja menjadi lebih kompleks setelah produksinya didasarkan pada perkakas kerja sederhana (yang telah dihasilkan sebelumnya). Dalam ekonomi yang relatif maju, perubahan penting dalam satu industri akan, tak terelakan lagi, mempengaruhi yang lainnya. Misalnya, perkembangan produksi industri akan memperbaiki teknik perkakas pertanian, memajukan mekanisasi konstruksi; intensifikasi pertanian membutuhkan produksi pupuk buatan, yang akan merangsang perkembangan industri kimia dan seterusnya, dan seterusnya. Bila teknologi berkembang, perkakas dan mesin yang baru (yang lebih efisien) bisa diproduksi, sehingga mesin yang ada sekarang menjadi absolut, usang, dan perlu diganti. Masyarakat dipaksa mengakui logika perkembangan produksi tersebut.
Terdapat interaksi dan kontradiksi antara elemen material dan elemen personal tenaga-tenaga produktif. Dengan merubah alam, manusia merubah dirinya sendiri, mengembangkan kemampuan dan meningkatkan taraf kebudayaannya. Pengalaman dan pengetahuan yang mereka peroleh diwujudkan dalam cara-cara kerja yang baru, dengan perkakas kerja dan alat-alat produksi yang baru, namun manusia, pada gilirannya, wajib mengadaptasikan dirinya pada cara kerja yang baru tersebut seketika cara-cara kerja tersebut muncul dan digunakan. Itu lah tenaga penggerak internal perkembangan produksi. Namun, kebutuhan internal tenaga produktif masih belum bisa menjelaskan mengapa produksi berkembang lebih cepat (dalam beberapa kasus), berkembang lebih lambat (dalam beberapa kasus lainnya), berkembang kurang lebih sama (dalam beberapa kasus lainnya lagi), dan menimbulkan kelimpahan-kelimpahan (booms) serta krisis. Penjelasan tersebut juga tak bisa diterapkan guna memahami perkembangan ilmu-pengetahuan. Semua teknologi merupakan pengetahuan yang dimaterialkan, dan tanpa perkembangan pengetahuan manusia tak mungkin ada kemajuan teknik. Penelitian dan pengembangan yang dilakukan sekarang ini merupakan satu sumber yang sangat dahsyat manfaatnya bagi kemajuan teknik. Namun perkembangan ilmu-pengetahuan itu sendiri, taraf aktual pertumbuhannya, sangat tergantung pada pekembangan produksi.
Kebutuhan-kebutuhan masyarakat, kebutuhan-kebutuhan manusia, merupakan faktor yang paling penting dalam perkembangan produksi. Langsung atau tak langsung, produksi selalu melayani tujuan manusia untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan tertentunya, dan saling-keterkaitan dialektis (yang kompleks) antara kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan produksi terbentuk dengan sendirinya dalam masyarakat. Kebutuhan-kebutuhan itu sendiri dirangsang atau sesuai dengan pekembangan produksi, pemuasan atas kebutuhan tertentu akan menimbulkan kebutuhan baru lainnya, dan itu lah batasan yang akan mempengaruhi produksi dengan satu cara atau dengan cara lainnya. Namun, hubungan antara kebutuhan manusia dengan produksi ditengahi oleh hubungan-hubungan produksi: kebutuhan-kebutuhan tidak lah secara langsung mempengaruhi tenaga produktif, namun mempengaruhinya melalui hubungan-hubungan produksi.
Setiap bentuk hubungan-hubungan produksi mengarahkan produksi pada tujuan tertentu dan, tentu saja, tujuan tersebut tidak lah selalu mencerminkan kebutuhan-kebutuhan mayoritas rakyat. Massa populasi dalam masyarakat berkelas, kelas-kelas, dimotivasi oleh berbagai dorongan (stimulus), yang berbeda dalam setiap kasus; masyarakat pemilik-budak didorong oleh suatu cara; dan masyarakat kapitalis didorong oleh cara lainnya. Hakikat aktif hubungan-hubungan produksi dengan sendirinya menunjukkan fakta bahwa mereka terlibat karena dorongan (stimulus) aktivitas tertentu orang-orang.
Dalam masyarakat berkelas, kelas penguasa mengarahkan pekembangan produksi demi kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Karena kelas penghisap lah yang merampas surplus produksi sosial dalam bentuk natura maka, selayaknya, bila kepuasan konsumsi mereka lah yang menjadi dorongan (stimulus) produksi. Namun, bagaimanapun juga, surplus produksi sosial dalam bentuk natura akan membatasi kepentingan kelas penghisap untuk meningkatkan produksi dan produkvifitas tenaga kerja. Sebaliknya, dalam cara produksi kapitalis, surplus produksi sosial yang dirampas tidak dalam bentuk natura, namun dalam bentuk uang, sebagai nilai lebih moneter. Terlebih-lebih, pembagian surplus produksi sosial yang dirampas oleh setiap kapitalis tergantung dari jumlah modal yang mereka tanamkan atau miliki. Oleh karenanya, para kapitalis terus menerus terdorong untuk mengakumulasikan kapital, memaksimalkan keuntungan mereka. Jadi, itu lah hukum-hukum obyektif perluasan produksi dan reproduksi, hukum-hukum produksi untuk memaksimumkan keuntungan, hukum-hukum kompetisi kapitalis, yang telah menentukan, dan masih akan menentukan, tenaga penggerak perkembangan produksi kapitalis, yakni: tenaga-tenaga produktifnya.
Namun, apa yang mendorong (stimulus) tindakan-tindakan massa pekerja, si produsen langsung? Tergantung dari posisi si produsen langsung tersebut dalam sistem hubungan-hubungan produksi yang ada. Bentuk hubungan-hubungan produksi tertentu bisa dikatakan progesif sepanjang memberikan keuntungan bagi massa dibandingkan dengan situasi sebelumnya. Kaum tani dalam cara produksi ‘Asiatik’ atau cara produksi yang berbasiskan ‘upeti’ hanya memiliki insentif yang kecil, tak layak untuk meningkatkan produktivitas kerja mereka, karena semua surplus produksi dirampas (sebagai upeti) oleh kelas penguasa. Demikian pula, kaum budak di zaman Yunai-Kuno dan kerajaan Romawi, tak memiliki kepentingan apa-apa seberapa pun produktivitas kerja mereka meningkat, karena mereka tak mungkin bisa memperoleh manfaat dari hasil tenaga kerjanya—seluruh surplus tenaga kerja budak dirampas oleh pemilik budak. Di bawah feodalisme, produsen langsung—hamba—disediakan sepetak tanah (oleh pemilik tanah feodal) agar bisa hidup dan memproduksi kebutuhan-kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya. Para hamba memiliki perkakas kerja, ternak peliharaan? yang beberapa digunakan dalam produksi?benih, bibit, dan alat-alat produksi lainnya, serta memiliki kepentingan tertentu untuk meningkatkan produktivitas (sepetak) tanah miliknya itu. Sebenarnya, ketika berhadapan, buruh-upahan dan pemilik alat-alat produksi—kapitalis—secara formal adalah sesama pemilik barang dagangan (komoditi). Dalam menjual tenaga-kerjanya, semakin tinggi keterampilan si buruh maka akan semakin tinggi pula upah yang akan diterimanya, sehingga buruh-upahan terpaksa, dengan berbagai cara, harus mengembangkan kapasitas produksi tenaga kerjanya. Namun, bila bekerja pada kapitalis, buruh terpaksa hanya menganggap tenaga kerjanya sekadar untuk mempertahankan hidupnya. Seluruh mekanisme produksi dan reproduksi kapitalis yang kompleks itu ditata sedemikian rupa untuk memaksa buruh agar mencurahkan segenap daya dan kemampuannya. Sistem upahnya pun bertujuan demikian. Ketakutan buruh dibuang dari proses produksi, dipecat, menjadi pengangguran, tak kurang mengerikannya dibandingkan dengan cambuk pemilik budak.
Jadi, segala penyebab pekembangan tenaga produktif tak boleh dianggap terpisah, terisolasi, dari kondisi-kondisi sosial tempatnya berkembang, yakni, tak bisa dipisahkan dari sistim hubungan-hubungan produksi yang ada. Perkembangan teknologi kasar masyarakat primitif dan perkembangan teknologi mesin modern tak bisa dianggap memiliki (sumber) penyebab yang sama. Secara historis, setiap cara produksi memiliki penyebab (sumber) spesifik dan hukum-hukum ekonomi perkembangan tenaga-tenaga produktifnya, sehingga sejalan atau sesuai dengan cara produksi tersebut, dan karakter hukum-hukum tersebut tergantung pada karakter hubungan-hubungan produksinya. Dampak dari hubungan-hubungan produksi akan menjadi positif bila hubungan-hubungan produksi tersebut sejalan atau sesuai dengan tenaga-tenaga produktifnya sehingga mendorong perkembangannya, dan akan menjadi negatif bila sebaliknya, atau hubungan-hubungan produksi akan menjadi penghambat bagi perkembangan tenaga-tenaga produktif.
Peran aktif hubungan-hubungan produksi tidak memberikan makna bahwa bentuk-bentuk pemilikan dengan sendirinya akan mendorong maju atau menarik mundur pekembangan tenaga-tenaga produktif masyarakat. Hanya orang-orang lah yang bisa mengembangkan produksi atau, sebaliknya, justru tak berkepentingan dengan perkembangannya. Mereka mengembangkan dan merubah cara produksi mereka, untuk menentukan basis sejarah mereka. Interaksi antara manusia dengan perkakas tenaga kerja—sebagai elemen-elemen pokok tenaga-tenaga produktif—selalu terwujud dengan sendirinya dalam bentuk hubungan-hubungan produksi tertentu, dan itu lah yang menentukan motif kongkrit yang mendorong orang-orang untuk bertindak.
Hukum yang menyelarasakan hubungan-hubungan produksi dengan karakter dan taraf pekembangan tenaga-tenaga produktif lah yang menentukan bukan saja perkembangan cara produksi yang ada, tapi juga yang menentukan perlunya penggantian dari satu cara produksi ke satu cara produksi lainnya. Bila tenaga-tenaga produktif berkembang dalam rahim masyarakat lama, maka hubungan-hubungan produksi baru akan mengembang sehingga bisa membentuk struktur ekonomi tertentu, yang merupakan cikal bakal (embrio) cara produksi yang baru. Despotisme ‘Asiatik’ dan perbudakan dikandung, berkembang, dan terbentuk dalam rahim sistem komunal-primitif; elemen-elemen perhambaan dikandung, berkembang, dan terbentuk dalam rahim masyarakat pemilik-budak; dan sistem kapitalisme dikandung, berkembang, dan terbentuk dalam rahim masyarakat feodal.
Dalam cara produksi lama terjadi akumulasi kwantitatif elemen-elemen baru, yakni perkembangan struktur ekonomi baru. Tenaga-tenaga produktif yang sedang berkembang tersebut bertentangan dengan hubungan-hubungan produksi lama yang ada dalam masyarakat. Pertentangan tersebut tak bisa diselesaikan, atau, hubungan-hubungan produksi baru tak bisa terbentuk tanpa menyingkirkan hubungan-hubungan produksi lama, yang keberadaannya dibela mati-matian oleh kelas penguasa dan oleh suprastruktur (institusi negara) yang diciptakannya.
Transisi dari hubungan-hubungan produksi lama menuju yang baru tidak lah mungkin terjadi bila sekadar menyadarkan diri pada perubahan kuantitatif yang sederhana. Harus ada perubahan kualitatif, penghancuran revolusioner terhadap bentuk-bentuk ekonomi, sosial dan politik lama yang sudah usang dan kadaluarsa, sehingga bisa membuka jalan bagi pembentukan cara produksi yang baru.
Kemunculan cara produksi sosialis memiliki gambaran yang khusus. Dalam rahim masyarakat lama, dalam rahim kapitalisme, hanya muncul pra kondisi material bagi cara produksi sosialis—dalam bentuk sosialisasi produksi secara masif; penciptaan tenaga-tenaga produktif modern yang berwatak sosial. Namun, hubungan-hubungan produksi soasialime yang baru, yang sejalan dengan tenaga-tenaga produktif yang baru, tidak lah terbentuk dan tak akan bisa dibentuk dengan syarat-syarat atau dalam kondisi kapitalisme.
Kaum oportunis dan revisionis selalu menolak dan masih saja menolak proposisi Marxis tersebut. Mereka tetap mempertahankan pendapat bahwa ‘sejumput’ sosialisme, termasuk, bahkan, hubungan-hubungan produksinya, telah berkembang dalam kondisi kapitalisme, sehingga transisi ke sosialisme akan tergantung dari perkembangannya (secara bertahap) dalam kapitalisme. Artinya, transisi tersebut terjadi secara murni evolutif, tanpa mensyaratkan penggulinggan revolusioner terhadap kekuasaan kapitalis.
Berbeda dengan kaum oportunis, kaum Marxis percaya pada fakta bahwa hubungan-hubungan produksi sosialis, yang didasarkan pada pemilikan alat-alat produksi secara sosial, tak akan bisa dikembangkan di bawah kondisi kapitalisme—yang kerangka-kerjanya merupakan rangkaian dari perusahaan-perusahaan dan unit-unit ekonomi yang terpisah-pisah yang, layaknya kapitalisme, tentu saja, bisa terbentuk dalam rahim feodalisme. Agar hubungan-hubungan produksi sosialis bisa berkembang, harus lah ada sosialisasi alat-alat produksi bagi seluruh masyarakat—hanya kelas buruh lah yang bisa melakukannya, yakni dengan cara mengambil alih kekuasaan politik secara revolusioner. Dengan demikian, sistem sosialis tidak akan bisa terbentuk kecuali dengan cara revolusi, dan oleh masyarakat baru yang terencana dan sadar.
Proposisi Marxis mengenai dampak stagnasi dalam hubungan-hubungan produksi lama jangan lah ditafsirkan dengan penyederhanaan yang berlebihan dan mekanis sebagaimana, misalnya, dampak rem yang bisa menghentikan laju kereta api. Sejak awal abad ke-20, misalnya, hubungan-hubungan produksi kapitalis telah menjadi rem bagi, atau telah menghambat, kemajuan tenaga-tenaga produktif, namun itu bukan lah berarti bahwa perkembangan produksi kemudian terhenti. Yang dimaksud: hubungan-hubungan produksi kapitalis menjadi suatu halangan, pembatas, bagi kemungkinan perkembangan (sepenuhnya) tenaga-tenaga produktif.
Menurut pengamatan Marx, sekali tenaga-tenaga produktif berkembang ke tahap tertinggi, di landasan ekonomi tatanan sosial tertentu—kecuali bila basis ekonominya (yakni, hubungan-hubungan produksinya yang dominan) berubah—maka “perkembangan selanjutnya (tenaga-tenaga produktif) akan menjadi “ajal” bagi cara produksi yang ada. (20) Bagaimana dan kapan hal itu terjadi dalam cara produksi kapitalis? Pada bagian ‘teoritik’ bukunya, “Anti-Duhring”, yang terbit di tahun 1878, Engels memberikan jawaban awal atas pertanyaan tersebut. Dalam buku tersebut, ia menjelaskan bahwa kapitalisme akan mulai membusuk saat tenaga-tenaga produktif—yang secara obyektif memang sudah tersosialisasi—berkontradiksi dengan hubungan-hubungan pemilikan kapitalis, sehingga memaksa kapitalis itu sendiri lah yang mengenalkan bentuk-bentuk pemilikan sosial alat-alat produksi—gabungan perusahaan-perusahaan (trusts) berskala besar yang mencoba mengatur produksi seluruh industri; perusahaan-perusahaan saham bersama (joint-stock company), yang kapitalnya, dalam bentuk alat-alat produksi, tak lagi dimiliki oleh seorang kapitalis; dan bisnis kapitalis-negara:
“Bila krisis (over-produksi) menunjukkan ketidakmampuan borjuis untuk, lebih lama lagi, mengatur tenaga-tenaga produktif modern, maka transformasi besar-besaran dalam produksi dan distribusi—yang diatur oleh join-stock companies, trusts dan pemilikan negara—justru menunjukkan betapa tak bergunanya borjuis dalam mengelola tujuan (produksi dan distribusi—red.). Seluruh fungsi-fungsi sosial kapitalis sekarang dilaksanakan oleh pegawai-pegawai bayaran. Kapitalis tak lagi memiliki fungsi sosial selain mengumpulkan deviden, menguangkan surat berharga, dan berjudi di bursa saham, dalam rangka saling-rampas modal di antara mereka (kapitalis) sendiri.” (21)
Dalam karyanya tahun 1916, “Imperialism, the Highest Stage of Capitalism”, Lenin menunjukkan bahwa, pada awal abad ke-20, gambaran gagalnya, parasitnya, dan sekaratnya kapitalisme sudah matang di negeri-negeri kapitalis maju—bergabungnya sektor perbankan dengan kapital industri (melalui monopoli joint-stock company) ke dalam kapital keuangan—yang menjerumuskan ekonomi nasional ke bawah dominasi parasit oligarki keuangan dan menaklukkan hampir seluruh negeri di dunia ini ke dalam genggaman penghisapan maharaja keuangan sekelompok kecil ‘negeri-negeri maling’.
Bisa saja kita tak setuju: walaupun Lenin bisa menunjukkan bahwa, melalui kapitalisme monopoli-imperialis, masyarakat borjuis sedang memasuki suatu tahapan perkembangan baru dan lebih tinggi, namun ia tak bisa atau gagal menunjukkan bahwa tahapan tersebut merupakan tahapan ‘tertinggi’ kapitalisme yang paling memungkinkan; karena bisa saja kapitalisme berkembang ke tahap yang lebih tinggi lagi. Jawaban terhadap keberatan tersebut: kesimpulan tersebut diperoleh atas dasar asumsi bahwa kemungkinan-kemungkinan perkembangan bisa saja tak terbatas, asalkan kemungkinan-kemungkinan tersebut terbuka terhadap cara produksi yang ada yang, secara historis, memiliki syarat-syaratnya. Seluruh fakta dan proses yang dianalisa Marx, juga oleh Lenin, menunjukkan bahwa, sebaliknya, hanya perkembangan terbatas dan bersyarat khusus lah yang memungkinkan suatu tatanan sosial ditentukan secara historis. Sebagaimana penjelasan Marx:
Sejauh proses tenaga kerja adalah proses sederhana antara manusia dengan alam, maka elemen-elemen sederhananya memang masuk akal, sesuai dengan semua bentuk sosial perkembangannya. Tapi, setiap bentuk sejarah (tertentu) proses tersebut kemudian mengembangkan landasan-landasan material dan bentuk-bentuk sosialnya. Sekali suatu tahap kematangannya telah tercapai, maka bentuk sejarah yang lama akan tercabik-cabik dan memberikan jalan bagi bentuk yang lebih tinggi. Tanda saat krisis telah tiba adalah ketika kontrakdisi dan antitesis telah mendalam dan mendapatkan peluangnya. Yakni kontradiksi dan antitesis antara, di satu sisi, hubungan-hubungan distribusi—yang bersesuaian dengan sejarah spesifik bentuk hubungan-hubungan produksinya—dengan, di lain sisi, tenaga-tenaga produktif, produktifitas, dan perkembangan agen-agennya. Suatu konflik (yang kemudian muncul) antara perkembangan material produksi dengan bentuk sosialnya.” (22)
Dua gejala yang populer: Engels mengindikasikannya sebagai karakteristik kulminasi tahapan kapitalisme; dan Lenin menjeneralisasikannya sebagai tahapan imperialis kaptalisme. Keduanya menjelaskan: pertama, parasitisme; dan, kedua, pengakuan terpisah atas karakter sosial produksi. Masing-masing, atau pun keduanya, membuktikan suatu fakta bahwa, pada tahapan imperialis, konflik antara tenaga-tenaga produktif (yang, secara obyektif memang sudah tersosialiasi) dengan hubungan-hubungan produksi kapitalisme telah matang.
Awal parasitisme menjadi jelas adalah ketika--melalui formasi joint-stock companies, trusts, cartel (23) dan lain sebagainya--seluruh fungsi-fungsi produktif sosial perusahaan-perusahaan kapitalisme dikembangkan oleh borjuis melalui pegawai-pegawai upahan, dan borjuis sepenuhnya telah menjadi kelas parasit, atau perannya, sebenarnya, tak penting lagi dalam organisasi sosial proses tenaga kerja. Proses untuk menundukkan seluruh kegiatan ekonomi di bawah arahan segelintir oligarki keuangan adalah, secara objektif, dengan cara: perusahan-perusahaan spekulatif, sindikat pengembang, trusts investasi, dan lain sebagainya tersebut diluncurkan (dipublikkan) dan dicarikan tambahan dananya di bursa saham. Jumlah kapital yang sangat besar-besaran tersebut—yang dibutuhkan oleh setiap kapitalis-keuangan-monopoli raksasa—diakumulasikan dengan segala macam cara dan alat-alatnya untuk mengumpulkan dana nganggur masyarakat, bahkan dari yang paling miskin sekali pun, sehingga menjadi kapital uang yang semakin raksasa yang, kemudian, oleh oligarki keuangan diubah menjadi kapital aktual untuk dipinjam-pinjamkan dan diinvestasikan pada perusahaan-perusahaan di seluruh dunia. Bukan hanya pada tahapan imperialisme saja kedudukan tersebut, yang dahulunya dikuasai oleh borjuis industri dan perdagangan, sekarang dikuasai oleh borjuis oligarki keuangan—aristokrasi rentenir, yang mata pencaharian satu-satunya adalah mengumpulkan pendapatan dari saham, obligasi dan surat-surat berharga lainnya. Sisi lainnya adalah disubordinasikannya perkembangan tenaga-tenaga produktif dunia, khususnya di wilayah-wilayah kolonial atau semi kolonial, ke dalam dominasi ekspolitasi oligarki keuangan tersebut. Saat menggunakan kekuasaan monopolinya terhadap produksi di tempat asalnyauntuk mengurangi jumlah produksi sampai tingkatan tertentu yang dibutuhkan pasarkapital keuangan terikat oleh kebutuhan dan kerakusannya sendiri untuk semakin memperbesar keuntungan namun, akibatnya, terus menerus merevolusionerkan ekonomi wilayah-wilayah dunia yang lebih terbelakang, walaupun dijaga agar tetap dalam cengkraman kekuasaan monopolinya.
Bukan lah suatu hal yang kebetulan bahwa perkembangan parasitisme menjadi sistem dominan dunia membawa keburukan-keburukan jeneral yang penting untuk diperhatikan: kecerobohan spekulasi dan kecurangan. Perjudian surat-surat berharga telah berkembang menjadi suatu cara (yang diterima dan wajar) untuk memperkaya diri. Karena, dalam perjalanan pertukaran komoditi di antara produsen-produsen (yang relatif) kecil, kecurangan hanya lah dianggap suatu fenomena kebetulan dalam satu porses produksi secara keseluruhan—sebab, katanya, setiap kecurangan, pada akhirnya, bisa digagalkan oleh kontra-kecurangan—dan, dalam tahapan monopolistik kapitalisme, kecurangan (dinaikan martabatnya dengan sebutan ‘manipulasi keuangan’) dikembangkan sebagai suatu sistem dan menjadi cara untuk mengakumulasikan kapital secara teratur dan wajar. Itu lah fakta yang menunjukkan bahwa, dalam tahapan dominasi modal keuangan, kepedulian utama kapitalisme bukan lah serta merta pada perampasan nilai lebih (yang, tentu saja, dirampas dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya) karena pengalihan nilai lebih (yang sudah dirampas) ke dalam cengkeraman parasit yang dominan merupakan bukti jelas bahwa monopoli kapitalisme—terlepas bahwa ia telah memberikan dorongan besar yang diberikan pada akmulasi kapital dan pertumbuhan alat-alat produksi material—adalah dekaden, merusak, bejat, tak ada lain. Lenin mengutip fakta lama: pada tahun 1893, pendapatan para rentenir Inggris, yang diperoleh dari investasi luar negeri, jumlahnya lima kali lipat dari pendapatan yang didapat dari perdagangan luar negerinya—dari ekspor komoditinya—dan itu merupakan contoh perkembangan yang dekaden dan parasit.
Jadi, kapital keuangan menyimpulkan dirinya sendiri dan mengembangkan (dengan akselerasi yang sangat tinggi) seluruh kontradiksi kapitalisme—khususnya kontradiksi antara peningkatan sosialisasi proses produksi material (yang dikembangkan dalam skala dunia) dengan perampasan pribadi hasil-hasil produknya sehingga, karenanya, muncul konsekwensi meningkatnya anarki dalam produksi sosial secara keseluruhan. Modal keuangan pada hakikatnya secara sadar terdorong untuk berusaha mempertahankan anarki dan sosialisasi produksi dalam skala dunia.
Penjelasan Lenin tentang tahap monopoli kapitalisme sebagai tahapan tertinggi-nya merupakan penerapan konsepsi Marx dan Engel, yakni, bahwa sosialisasi proses-tenaga kerja diselesaikan dengan melepaskan fungsi produktif kapital dari pemilik-nya—pelepasan atau pemisahan yang akan menjadi lebih jelas ketika, dalam bentuk rentenir parasitnya, kapitalis hanya bisa mengambil keuntungannya dengan merampas surplus tenaga kerja orang lain, sedangkan pemilik kapital sama sekali terpisah atau dilepaskan dari proses tenaga kerja aktual. Begitu hal seperti itu dijeneralisasikan, maka jelas lah bahwa (a) tak akan ada lagi perkembangan lebih lanjut yang memungkinkan dalam hubungan-hubungan seperti itu; (b) tenaga penggerak antagonisme antara kapital dan buruh upahan, yang akan mengembangkan hal-hal yang tak terhindarkan, akan mempercepat suatu transisi kwalitatif menuju bentuk sosial yang baru yang sesuai dengan sosialiasi produksi; (c) bentuk sosial potensial tersebut memiliki basis materialnya dalam kutub positif dan kutub negatif antagonisme sosialnya sendiri, yakni, dalam produksi gabungan yang diselenggarakan oleh gabungan pemilik alat-alat produksi yang hendak memuaskan kebutuhannya. Kesimpulan tersebut sudah bisa diantisipasi oleh Marx walaupun joint-stock companies masih baru membentuk:
Dalam joint-stock companies, fungsi (manajemen proses tenaga kerja) dipisahkan dari pemilik kapitalnya, jadi, tenaga kerja sama sekali dipisahkan dari pemilikan alat-alat produksi dan pemilikan surplus tenaga kerjanya. Hasil dari produksi kapitalis dalam tahap perkembangan tertingginya tersebut memang merupakan suatu poin transisi yang niscaya, atau dibutuhkan, agar transformasi kapitalnya (sebagai alat-alat produksi) kembali menjadi milik para produsennya, meskipun tak lagi sebagai milik pribadi individu produsen, tapi sebagai milik gabungan para produsen, sebagai milik sosial langsung. Lebih jauh lagi, merupakan suatu poin transisi agar transformasi seluruh fungsi-fungsinya—yang sebelumnya terikat pada pemilikan kapital proses reproduksi—berubah menjadi fungsi-fungsi sederhana gabungan para produsen, berubah menjadi fungsi-fungsi sosial.” (24)
****
(1) Lorimer, Doug, “Fundamentals of Historical Materialism, the Marxist View of History and Politics”, Resistance Books, Sydney, 1999, Bab 4, “Material Production: The Basis of Social Life”, hal. 73-107.
(2) Marx, Karl, “Capital”, Vol. I, hal. 283.
(3) Menurut definisi Benjamin Franklin, yang dikutip Marx dalam “Capital”, manusia adalah “binatang pembuat perkakas”. (ibid, hal. 286).
(4) Marx, Karl, dan Engels, Frederick, “Selected Works” (MESW) (dalam 3 jilid), Progress Publisher, Moscow, 1969-1970., hal. 20.
(5) Lihat Karl Marx, “Capital”, Vol.1, hal. 285.
(6) Lihat ibid., hal. 103, di situ, sebagaimana juga yang ia maksudkan dalam tulisannya, “Capital”, Marx menegaskan (secara gamblang): terdapat “hukum-hukum khusus yang mengatur kelahiran, kehidupan, perkembangan dan kematian suatu organisme sosial yang ada, serta juga penggantiannya dengan yang lain, yang lebih tinggi.”
(7) Mineral CaMg, kandungan Kalsium Magnesium Karbon, yang terdapat dalam kristal dan pada tataran batu padat hasil akumulasi endapan organik seperti batok dan koral. “Merriam Webster’s Collegiate Dictionary”, Tenth Edition (Merriam-Webster, Incorporated: Springfield, Massachusetts, USA, 1996), hal. 344 (—ed.)
(8) Bagian dunia tempat kehidupan bisa eksis; kehidupan yang beradaptasi dengan lingkungannya. “Merriam Webster’s Collegiate Dictionary”, Tenth Edition (Merriam-Webster, Incorporated: Springfield, Massachusetts, USA, 1996), hal. 115 (—ed.)
(9) Lihat Marx, Karl, Engels Frederick, “Selected Correspondence” (MESC), hal.244.
(10) Marx dan Engels mengatakan bahwa prasyarat pertama sejarah adalah “eksistensi kehidupan manusia secara individual. Kemudian, fakta pertama yang harus dibuktikan adalah bentuk fisik individu tersebut dan hubungan-hubungan tak langsungnya dengan alam.” (“MESW”, Vol.1, hal. 20).
(11) Marx, Karl, “Capital”, Vol. 1, Penguin Books, hal. 784.
(12) ibid., hal. 286.
(13) “Perkembangan tenaga-tenaga produktif—yang, pastinya, akan mereduksi sejumlah buruh dan, secara aktual, memungkinkan seluruh bangsa bisa menghasilkan seluruh produksinya dalam periode waktu yang lebih singkat—akan menghasilkan revolusi karena akan menyebabkan mayoritas penduduk bergerak. Sekali lagi, kita akan menemui hambatan karakteristik terhadap produksi kapitalis dan, bagaimana pun juga, itu lah bentuk absolut perkembangan tenaga-tenaga produktif yang, walaupun sanggup menumpuk kesejahteraan namun, dalam perkembangannya, akan menyebabkan konflik.” (Karl Marx, “Capital”, Vol.3, hal.372, Penguin Books, London, 1981.
(14) Marx, Karl, “Grundrise”, hal. 703-704, Penguin Books, Harmondsworth, 1977, (tekanan kami yang tambahkan..
(15) Nyatanya, cara produksi ini juga muncul di luar Asia—di Mesir kuno, di Mexico-kuno dan di Peru-kuno—sehingga orang-orang sering mensalahartikan pengertian kata “Asiatik” tersebut. Marx menggunakan penyebutan (ajektif) tersebut untuk mengindikasikan cara produksi tersebut saat, selama penelitiannya, ia pertama kali sadar akan pengaruh kapitalisme Inggris atas India dan China pada abad ke-18 dan ke-19. Karena cara produksi tersebut didasarkan pada pekerjaan-pekerjaan irigasi secara luas, yang diorganisir oleh sebuah negara despotik (kejam/lalim/bejat) yang mengambil upetinya dengan merampas surplus tenaga kerja komune-komune desa, sering, selanjutnya, kaum Marxis menggunakan sejumlah sebutan (ajektif) berbeda untuk mengindikasikan cara produksi tersebut, misalnya ‘Hidrolik’ (hydraulic), ‘Komunal’ (communal), dan ‘Upeti’ (tributary).
(16) Karl Marx., “Capital”, Vol. 1, Penguin Books, London, 1981, hal. 325.
(17) Karl Marx., “Capital,” Vol. 3, Penguin Books, London, 1981, hal. .927.
(18) Marx, Karl dan Engels, Frederick, “Selected Works” (MESW) (dalam 3 jilid), Progress Publisher, Moscow, 1969-1970. hal. 504.
(19) ibid, hal. 519.
(20) Marx, Karl, “Grundrise”, Penguin Books, Harmondsworth, hal. .541
(21) Frederick Engels, “Anti-Duhring”, Vol. E, hal.330.
(22) Karl Marx, “Capital”, Vol.3, hal. 1023-24.
(23) Cartel: Perusahaan yang menggabungkan perusahaan-perusahaan komersial atau industri yang tak terikat, yang dibentuk untuk membatasi kompetisi di antara mereka dan menetapkan harga. “Merriam Webster’s Collegiate Dictionary”, Tenth Edition [Merriam-Webster, Incorporated: Springfield, Massachusetts, USA, 1996], hal. 176 (—ed.).
(24) ibid, hal..56.
(Dipublikasikan untuk kepentingan pendidikan)