BORJUIS DAN PROLETAR
Ditulis oleh Karl Marx dan Engels (1)
Sejarah semua masyarakat yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas. Sejarah perjuangan kelas orang-orang yang diperbudak melawan orang-orang merdeka, plebejer melawan patrisir, hamba melawan tuan bangsawan, buruh magang melawan pemilik gilda, pendeknya: si tertindas melawan si penindas, mereka semua senantiasa ada dalam pertentangan satu dengan yang lainnya, melakukan perjuangan yang tiada putus-putusnya, kadang-kadang dengan sembunyi-sembunyi, kadang-kadang dengan terang-terangan, setiap perjuangan yang bisa saja diakhiri dengan penyusunan-kembali masyarakat umum, atau kelas-kelas yang saling bermusuhan tersebut sama-sama binasa. Dalam zaman permulaan sejarah, hampir di mana pun, kita dapati suatu susunan rumit masyarakat yang terbagi menjadi berbagai golongan, menjadi banyak tingkatan kedudukan sosial, misalnya, di Roma purbakala terdapat kaum patrisir, kaum ksatria, kaum plebejer, dan kaum budak serta, dalam Zaman Tengah, terdapat kaum feodal, kaum vasal, kaum pemilik gilda, kelas buruh magang, kaum malang, dan kaum hamba; dalam hampir semua kelas tersebut terdapat lagi tingkatan-tingkatan bawahannya. Masyarakat borjuis moderen, yang tumbuh dari runtuhan masyarakat feodal, tidak lah menghilangkan pertentangan-pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru, syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru, sebagai pengganti yang lampau. Zaman kita, zaman borjuis, mempunyai sifat yang istimewa: ia telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas. Masyarakat seluruhnya semakin lama semakin terpecah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan satu dengan yang lainnya –borjuis dan proletar.
Dari kaum hamba pada Zaman Tengah timbullah wargakota (dari kota-kota yang paling permulaan) yang berhak-penuh. Dari warga kota-kota ini berkembang lah anasir-anasir pertama borjuis. Ditemukannya benua Amerika dan dikelinginya Tanjung Harapan di Afrika Selatan memberikan lapangan baru bagi borjuis yang sedang tumbuh; pasar-pasar di Hindia Timur dan Tiongkok, kolonisasi atas Amerika, perdagangan dengan tanah-tanah jajahan, bertambah banyaknya alat pertukaran dan barang dagangan pada umumnya, memberikan kepada perdagangan, kepada pelayaran, kepada industri, suatu dorongan yang tak pernah dikenal sebelumnya, dan bersamaan dengan itu mendorong (maju dengan lebih cepat) anasir-anasir revolusioner dalam masyarakat feodal yang sedang runtuh tersebut.
Sistim industri feodal, dalam arti produksi industri yang semata-mata dimonopoli oleh gilda-gilda, sekarang tidak lagi mencukupi kebutuhan-kebutuhan pasar-pasar baru yang semakin bertambah. Sistim manufaktur lah yang kemudian menggantikannya. Pemilik-pemilik gilda didesak keluar oleh kelas menengah manufaktur; pembagian kerja di antara berbagai gabungan gilda hilang dengan lahirnya pembagian kerja di setiap bengkel pertukangan yang memisahkan dirinya masing-masing. Sementara itu pasar-pasar senantiasa semakin meluas, kebutuhan senantiasa bertambah. Sistim manufaktur itu pun tak lagi mencukupinya. Segera sesudah itu uang dan mesin-mesin merevolusionerkan produksi industri. Kedudukan manufaktur diambil alih industri modern raksasa, kedudukan kelas menengah industri digantikan oleh milyuner-milyuner industri, pemimpin-pemimpin kesatuan (lengkap) pasukan industri, kelas borjuis modern. Industri modern telah menciptakan pasar dunia, yang telah dibukakan jalannya dengan ditemukannya Amerika. Pasar tersebut kemudian memberikan kemajuan mahabesar pada perdagangan, pada pelayaran, pada perhubungan darat. Kemajuan ini, pada gilirannya, bereaksi terhadap meluasnya industri. Dan sebanding dengan meluasnya industri, perdagangan, pelayaran, perbubungan kereta api, maka borjuis pun semakin maju, kapitalnya bertambah dan mendesak ke belakang setiap kelas peninggalan Zaman Tengah. Oleh sebab itu, tahu lah kita bagaimana borjuis modern itu sendiri adalah hasil dari perjalanan perkembangan yang lama, dari suatu rangkaian revolusi-revolusi dalam cara produksi dan cara pertukaran.
Tiap langkah dalam perkembangan borjuis diikuti pula oleh suatu kemajuan politik yang sesuai dengan kelas tersebut. Masyarakat yang memiliki ciri-ciri yang kelas tertindasnya berada dibawah kekuasaan bangsawan feodal, yang memiliki suatu perserikatan bersenjata, dan yang memerintah komune Zaman Tengah secara mandiri --dalam hal ini adalah berupa republik-kota yang merdeka (seperti di Italia dan Jerman), di lain tempat berupa 'pangkat ketiga' wajib-pajak dalam monarki (seperti di Perancis)-- kemudian bergerak ke masa manufaktur yang sebenarnya, namun yang masih mengabdi pada monarki setengah-feodal, atau pada monarki absolut. Kekuatan baru pada masa manufaktur tersebut mulai menjadi kekuatan pengimbang terhadap kelas bangsawan --dalam kenyataannya, merupakan batu pijakan titik berangkat monarki-monarki besar pada umumnya-- dan pada pada akhirnya menjadi masyarakat borjuis, sejak berdirinya industri modern dan pasar dunia, karena telah merebut demi dirinya sendiri segenap kekuasaan politik negara konstitusionil modern. Badan eksekutif negara modern hanyalah merupakan sebuah komite untuk mengatur urusan-urusan bersama seluruh borjuis.
Borjuis, secara historis, telah memainkan peranan yang sangat revolusioner.
Borjuis, di mana saja, telah memperoleh kekuasaannya, telah mengakhiri semua hubungan feodal patriarkal, telah mengakhiri hubungan feodal pedesaan. Borjuis dengan tak kenal belas kasih telah merenggut putus pertalian feodal yang beranekaragam, yang mengikat manusia pada 'atasan alamiahnya', dan tak meninggalkan ikatan lain antar manusia selain kepentingan dirinya semata, selain daripada 'pembayaran tunai' yang kejam. Ia telah menghanyutkan getaran-suci damba keagamaan yang paling memabukkan sekalipun, menghanyutkan gairah kekesatriaan, menghanyutkan sentimentalisme filistin, ke dalam air dingin perhitungan egois. Ia telah menukar harga diri dengan nilai-tukar dan, sebagai gantinya, diperoleh lah tumpukan fakta kebebasan yang tak terhitung jumlahnya, yang telah disahkan undang-undang yang tak boleh semena-mena dibatalkan, suatu kebebasan yang tidak didasarkan pada akal sehat—perdagangan bebas. Pendek kata, penghisapan yang diselimuti oleh ilusi-ilusi keagamaan dan politik digantikan oleh penghisapan yang terang-terangan, tak kenal malu, langsung, ganas.
Borjuis telah menanggalkan anggapan mulia terhadap setiap jabatan yang selama ini dihormati dan dipuja dengan penuh ketaatan. Ia telah mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana menjadi buruh-upahannya yang ia bayar.
Borjuasi telah merobek-robek selubung perasaan kekeluargaan, dan memerosotkannya menjadi hubungan-uang belaka. Borjuis telah membongkar makna pertunjukan kekuatan secara kasar pada Zaman Tengah, yang begitu dikagumi oleh kaum reaksioner itu, dengan julukan imbangan: kemalasan yang paling lamban. Borjuis lah yang pertama-tama menunjukkan apa yang dapat dan seharusnya dihasilkan oleh kegiatan manusia. Ia telah melahirkan keajaiban-keajaiban yang jauh melampaui piramida-piramida Mesir, saluran-saluran-air Roma dan katedral-katedral gotik; ia telah melakukan ekspedisi-ekspedisi yang sangat berlainan ketimbang sekadar perpindahan-perpindahan bangsa-bangsa dan perang-perang salib di masa lalu.
Borjuis tak dapat hidup tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas-perkakas produksinya dan, karenanya, merevolusionerkan hubungan-hubungan produksi, dan dengan itu semuanya merevolusionerkan segenap hubungan dalam masyarakat. Sebaliknya, mempertahankan cara-cara produksi lama, dalam bentuknya yang tak berubah, adalah sarat hidup pertama bagi segala kelas industri yang lama. Senantiasa merevolusionerkan produksi, kekacauan segala kondisi sosial yang tiada putus-putusnya, ketiadaan kepastian dan kegelisahan abadi, adalah hal-hal yang membedakan zaman borjuis dengan semua zaman terdahulu. Segala hubungan yang telah ditetapkan, yang telah beku dan berkarat, dengan rentetan prasangka-prasangka serta pendapat-pendapat kuno yang disegani, disapu bersih, segala yang tadinya baru segera bisa dibentuk menjadi usang sebelum membatu. Segala yang padat menguap ke udara, segala yang suci dinodai dan, pada akhirnya, manusia terpaksa menghadapinya dengan hati tenang semua syarat-syarat hidupnya yang sebenarnya, juga syarat-syarat hubungan-hubungannya dengan sesamanya.
Kebutuhan untuk senantiasa memperluas pasar bagi barang-barang hasil produksi merupakan dorongan di kalangan borjuis untuk merangkul muka bumi dengan barang-barangnya. Ia harus berada di mana-mana, bertempat di mana-mana, menjalin hubungan-hubungan di mana-mana.
Melalui penghisapannya atas pasar dunia, borjuis telah memberikan sifat kosmopolitan kepada produksi dan konsumsi di tiap-tiap negeri. Kaum Reaksioner meratap sedih karena borjuis telah menyeret dari bawah kakinya pijakkan bumi industri bangsanya.
Setiap harinya, Semua industri bangsanya yang sudah lapuk dihancurkan atau sedang dalam proses penghancuran. Semuanya diganti oleh industri-industri baru yang pelaksanaannya memang menjadi masalah hidup-mati bagi semua bangsa yang akan menjadi beradab, diganti oleh industri-industri yang tidak lagi mengerjakan bahan mentah dari negerinya sendiri, tetapi bahan mentah yang didatangkan dari wilayah-wilayah-dunia yang paling jauh letaknya sekalipun, diganti oleh industri-industri yang hasil-hasilnya tidak saja dipakai di dalam negeri tetapi di setiap pelosok dunia. Sebagai pengganti kebutuhan-kebutuhan masa lampau, yang hanya dipuaskan oleh produksi negerinya sendiri, muncul lah kebutuhan-kebutuhan baru, yang dipuaskan oleh hasil-hasil dari negeri-negeri serta daerah-daerah beriklim berbeda, yang sangat jauh letaknya. Sebagai pengganti keadaan lama yang terasing, keadaan yang hanya mencukupi-kebutuhan-sendiri secara lokal maupun secara bangsa, muncul lah hubungan ke segala jurusan, keadaan saling-tergantung yang universal di antara bangsa-bangsa. Dan, seperti halnya dengan produksi material, demikian juga lah keadaannya dalam hal produksi intelektual. Ciptaan-ciptaan intelek dari satu bangsa kemudian menjadi milik bersama. Kesepihakan serta kesempitan pandangan kebangsaan menjadi makin tidak mungkin dan, dari sejumlah besar literatur bangsa dan lokal, timbul lah suatu literatur dunia.
Borjuis, dengan perbaikan-cepat segala alat produksi, dengan makin sangat dipermudahnya kesempatan menggunakan alat-alat perhubungan, menarik segala bangsa, sampai yang paling biadab pun, kedalam peradaban. Harga-harga murah barang dagangannya merupakan artileri berat yang memporak-porandakan segala tembok Tiongkok, yang menaklukkan kebencian-kepala batu kaum biadab terhadap orang-orang asing. la memaksakan cara produksi borjuis kepada semua bangsa, dengan ancaman akan musnah; ia memaksakan ke tengah-tengah lingkungan mereka apa yang olehnya disebut peradaban, yaitu, supaya mereka sendiri menjadi borjuis. Pendek kata, ia menciptakan suatu dunia menurut bayangannya sendiri.
Borjuis menundukkan, menaklukan, desa kepada kekuasaan kota, la telah menciptakan kota-kota yang hebat, telah sangat menambah penduduk kota dibanding dengan penduduk desa, dan dengan demikian telah melepaskan sebagian besar penduduk dari kedunguan kehidupan desa. Sebagaimana halnya ia telah menjadikan desa bergantung kepada kota, begitu pun ia telah menjadikan negeri biadab dan setengah-biadab bergantung kepada negeri yang beradab, bangsa kaum tani kepada bangsa borjuis, Timur kepada Barat.
Borjuis senantiasa makin bersemangat menghapuskan keadaan penduduk yang terpencar-pencar dari alat-alat produksinya, dan dari hak pemilikannya. Ia telah menimbun penduduk, memusatkan alat-alat produksi, dan telah mengkonsentrasikan hak pemilikan ke dalam beberapa tangan. Akibat yang seharusnya dari hal tersebut adalah pemusatan politik. Provinsi-provinsi yang merdeka atau yang mempunyai hubungan tak begitu erat dengan kepentingan-kepentingan, undang-undang, pemerintah dan sistim pajak yang berlain-lainan, menjadi terpadu sebagai satu bangsa, dengan satu pemerintah, satu undang-undang, satu kepentingan kelas, satu bangsa, satu perbatasan dan satu tarif pabean.
Borjuis, yang kekuasaannya belum genap seratus tahun itu, telah menciptakan: tenaga-tenaga produktif yang lebih teguh dan lebih besar ketimbang yang telah diciptakan oleh generasi-generasi sebelumnya dijadikan satu. Ditundukkannya kekuatan-kekuatan lama kepada manusia, mesin-mesin, pelayaran kapal api, penerapan ilmu kimia pada industri dan pertanian, jalan kereta api, pembukaan benua-benua untuk tanah garapan, telegrafi listrik, penyaluran irigasi-sungai, semuanya sepertinya (merupakan kekuatan sihir) yang menyeret sejumlah besar penduduk dikeluarkan dari dalam tanah—abad terdahulu manakah yang dapat menduga adanya tenaga-tenaga produktif yang sedemikian dasyat itu, yang tertidur dalam pangkuan kerja masyarakat?
Jadi, tahu lah kita: alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, landasan pijak borjuis untuk berkembang, ditimbulkan di dalam masyarakat feodal. Memang, pada suatu tingkat tertentu dalam perkembangan alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, terdapat syarat-syarat hidup bagi masyarakat feodal, yang juga menghasilkan dan mengadakan pertukaran, suatu organisasi feodal pertanian dan industri manufaktur-kecil, pendek kata, hubungan-hubungan pemilikan feodal yang, namun, tidak lagi dapat disesuaikan dengan tenaga-tenaga produktif yang sudah berkembang; semuanya itu merupakan belenggu-belenggu yang terlalu banyak; semuanya itu harus dipatahkan, dan mereka memang dipatahkan.
Sebagai gantinya, datanglah persaingan bebas, disertai oleh susunan sosial dan politik yang diselaraskan dengannya, oleh kekuasaan ekonomi dan politik kelas borjuis.
Suatu gerakan serupa sedang berlangsung di hadapan mata kepala kita sendiri. Masyarakat borjuis modern, dengan hubungan-hubungan produksinya, dengan hubungan-hubungan pertukarannya, dengan hubungan-hubungan pemilikannya, dan merupakan suatu masyarakat yang telah menjelmakan alat-alat produksi serta alat-alat pertukaran yang begitu raksasa, adalah seperti tukang sihir yang tidak dapat mengontrol lagi tenaga-tenaga alam gaib yang telah dipangil oleh mantera-manteranya. Sudah sejak berpuluh-puluh tahun, dalam sejarah industri dan perdagangan, isinya hanya lah sejarah pemberontakan tenaga-tenaga produktif modern melawan syarat-syarat produksi modern, melawan hubungan-hubungan pemilikan yang merupakan syarat-syarat hidup bagi borjuis dan kekuasaannya. Cukup lah menyebut krisis-krisis perdagangan yang dengan terulang terus secara periodik, setiap kali lebih berbahaya, mengancam kelangsungan hidup seluruh masyarakat borjuis. Krisis-krisis ini tidak saja menimpa sebagian besar barang-barang hasil produksi yang ada, tetapi juga menimpa tenaga-tenaga produktif yang telah diciptakan sebelumnya, semuanya dihancurkan secara periodik. Dalam krisis-krisis tersebut berjangkit lah wabah yang di dalam zaman-zaman terdahulu merupakan suatu kejanggalan—wabah kelebihan produksi. Tiba-tiba masyarakat mendapatkan dirinya terlempar kembali dalam suatu keadaan kebiadaban sementara; nampaknya seakan-akan suatu kelaparan, suatu perang pembinasaan umum yang telah memusnahkan persediaan segala bahan keperluan hidup; industri dan perdagangan seakan-akan dihancurkan; dan mengapa? Karena terlampau banyak peradaban, terlampau banyak bahan-bahan keperluan hidup; terlampau banyak industri, terlampau banyak perdagangan. Tenaga-tenaga produktif yang tersedia bagi masyarakat tidak lagi dapat melanjutkan perkembangan syarat-syarat milik borjuis; sebaliknya, mereka telah menjadi terlampau kuat bagi syarat-syarat ini, membelenggu mereka, dan segera setelah mereka mengatasi rintangan belenggu-belenggu ini, mereka mendatangkan kekacauan ke dalam seluruh masyarakat borjuis, membahayakan milik borjuis. Syarat-syarat masyarakat borjuis terlampau sempit untuk memuat kekayaan yang diciptakan olehnya. Dan bagaimana kah borjuis mengatasi krisis-krisis tersebut? Pada satu pihak, dengan memaksakan penghancuran sejumlah besar tenaga-tenaga produktif, pada pihak lain, dengan merebut pasar-pasar baru, dan menyulap pasar-pasar yang lama dengan cara yang lebih sempurna. Itu artinya, membukakan jalan bagi krisis-krisis yang lebih luas dan lebih merusakkan, dan mengurangi syarat-syarat yang dapat mencegah krisis-krisis itu.
Senjata-senjata yang digunakan oleh borjuis untuk menumbangkan feodalisme sekarang berbalik kepada borjuis itu sendiri.
Tetapi, tidak saja borjuis tersebut memproduksi senjata-senjata yang mendatangkan mautnya sendiri; ia juga telah melahirkan manusia-manusia yang akan menggunakan senjata-senjata itu—kelas buruh modern—proletar.
Dibandingkan dengan perkembangan borjuis, artinya, perkembangan kapital, maka dalam derajat yang sama proletariat, kelas buruh modern, juga berkembang—suatu kelas buruh yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerja mereka memperbesar kapital. Kelas buruh tersebut, yang harus menjual dirinya sepotong-sepotong layaknya suatu barang dagangan seperti semua barang dagangan lainnya, karenanya menyerahkan dirinya mentah-mentah kepada segala perubahan persaingan, kepada segala perguncangan pasar.
Disebabkan oleh pemakaian mesin-mesin secara luas dan, karenanya, pembagian kerja pun semakin meluas, hilanglah segala sifat perseorangan pekerjaan proletar, dan karena itu pula hilang lah segala kegairahan si buruh. Ia menjadi semata-mata lampiran-tambahan dari mesin dan dengan demikian, kecakapannya menjadi paling sederhana, paling menjemukan dan paling mudah didapat --itu lah semua yang dibutuhkan dari dia-- ketimbang mesin. Karena itu, biaya produksi seorang buruh terbatas semata-mata setara dengan nilai bahan-bahan keperluan hidup yang diperlukan untuk hidupnya dan untuk pembiakan keturunannya. Tetapi harga sesuatu barang dagangan, oleh sebab itu, juga harga kerjanya, akan sama dengan biaya produksinya. Oleh sebab itu, sederajat dengan makin tidak menyenangkannya kerja tersebut, turun lah upahnya. Bahkan lebih dari itu, dalam derajat setara dengan pemakaian mesin-mesin dan pembagian kerja yang bertambah, dalam derajat yang itu itu pula beban kerja bertambah, baik dengan memperpanjang jam kerja, dengan menambah banjaknya pekerjaan dalam waktu tertentu, atau dengan mempertinggi kecepatan mesin-mesin, dan sebagainya.
Industri modern telah mengubah bengkel kecil kepunyaan majikan patriarkal menjadi pabrik besar kepunyaan kapitalis industri. Massa kelas buruh yang dikumpulkan dalam pabrik diorganisir seperti serdadu. Sebagai serdadu biasa pasukan industri, mereka diatur di bawah perintah suatu susunan-kepangkatan yang rapi, terdiri dari opsir-opsir dan sersan-sersan. Mereka tidak hanya menjadi budak kelas borjuis dan budak negara borjuis saja; mereka setiap hari dan setiap jam diperbudak oleh mesin-mesin, oleh mandor-mandor, dan terutama sekali oleh tuan pabrik borjuis, orang-seorang itu sendiri. Semakin terang-terangan kelaliman tersebut menyatakan bahwa keuntungan adalah tujuan dan maksudnya, maka semakin dan semakin membencikan dan memarahkan lah borjuis itu.
Semakin kurang kecakapan dan semakin kurang pemakaian tenaga kerja badan yang diperlukan maka dengan kata-kata lain, itu berarti industri modern menjadi semakin sempurna. Semakin banyak kerja lelaki yang digantikan oleh kerja perempuan. Perbedaan umur dan perbedaan jenis kelamin tidak lagi mempunyai arti kemasyarakatan yang penting bagi kelas buruh. Semuanya merupakan perkakas kerja, jenis kelamin mereka sekadar dinilai kurang atau lebih mahalnya mereka dipakai untuk produksi.
Jika penghisapan buruh oleh pengusaha sudah sampai sedemikian jauhnya, sehingga ia menerima upahnya dengan tunai, maka diterkam lah ia oleh bagian-bagian lain borjuis, siapapun borjuis itu, pemilik tanah kah, pemilik toko kah, pemilik pegadaian kah, dan sebagainya.
Lapisan rendahan dari kelas antara/tengah—kaum pengusaha kecil, pemilik toko kelontongan dan tukang riba umumnya, pengrajin dan kaum tani --semuanya berangsur-angsur terjengkang menjadi proletariat, sebagian oleh karena kapitalnya yang kecil, tidak cukup untuk menjalankan industri besar, menderita kekalahan dalam persaingan dengan kelas kapitalis besar, sebagian juga oleh karena keahlian mereka menjadi tidak berharga dalam tiap-tiap produksi yang baru. Begitu lah proletariat terbentuk dari segala kelas penduduk.
Proletariat melalui berbagai tingkat perkembangan. Bersamaan dengan lahirnya, dimulai lah perjuangannya melawan borjuis. Mula-mula perjuangan tersebut dilakukan oleh kelas buruh orang-seorang, kemudian oleh buruh suatu pabrik, kemudian oleh buruh dari satu macam perusahaan di satu tempat melawan burdjuis orang seorang yang langsung menghisap mereka. Mereka tidak mengerahkan serangan-serangannya terhadap syarat-syarat produksi borjuis, tetapi terhadap perkakas-perkakas produksi itu sendiri; mereka merusakkan barang-barang impor yang menyaingi kerja mereka, mereka menghancurkan mesin-mesin, mereka membakar pabrik-pabrik, dengan paksa mereka mencoba mengembalikan kedudukannya sebagai pekerja Zaman Tengah yang telah lenyap itu.
Pada tingkat tersebut kelas buruh merupakan suatu massa lepas yang tersebar di seluruh negeri dan terpecah belah oleh persaingan di kalangan mereka sendiri. Jika di suatu tempat mereka bersatu membentuk badan-badan yang lebih erat terhimpun, hal tersebut belum lah merupakan akibat dari persatuan yang aktif dari mereka sendiri, tetapi karena persatuan borjuis, kelas yang untuk mencapai tujuan politiknya sendiri terpaksa menggerakkan seluruh proletariat, namun hanya untuk sementara waktu saja mereka masih bisa berbuat demikian. Oleh karena itu, pada tingkat tersebut proletar tidak bisa melawan musuh-musuhnya, tetapi melawan musuh-musuhnya borjuis, yaitu sisa-sisa monarki absolut kelas pemilik tanah, borjuis bukan-industri, borjuis kecil. Dengan demikian seluruh gerakan yang bersejarah tersebut berpusat di tangan borjuis; tiap-tiap kemenangan yang dicapai dengan cara demikian adalah kemenangan borjuis.
Tetapi dengan berkembangnya industri, proletariat tidak saja bertambah jumlahnya; mereka terkonsentrasi menjadi massa yang lebih besar, kekuatannya bertambah besar dan ia semakin merasakan kekuatan tersebut. Kepentingan-kepentingan dan syarat-syarat hidup yang bermacam ragam dalam barisan proletariat semakin lama semakin menjadi sama, sederajat dengan dihapuskannya segala perbedaan kerja oleh mesin-mesin dan dengan diturunkannya upah hampir di mana-mana sampai pada tingkat yang sama rendahnya. Persaingan yang semakin menjadi-jadi di kalangan kelas borjuis dan krisis-krisis perdagangan yang diakibatkannya, menyebabkan upah kelas buruh senantiasa berguncang. Perbaikan mesin-mesin yang tidak henti-hentinya itu senantiasa berkembang dengan lebih cepat, menyebabkan penghidupan mereka makin lama makin tidak menentu; bentrokan-bentrokan antara buruh orang-seorang dengan borjuis orang-seorang semakin lama bersifat bentrokan-bentrokan antar dua kelas. Sesudah itu kelas buruh mulai membentuk perkumpulan-perkumpulan menentang kelas borjuis; mereka berhimpun untuk mempertahankan upah-kerja mereka; mereka mendirikan perserikatan-perserikatan yang permanen untuk mempersiapkan diri menyongsong perlawanan sewaktu-sewaktu ini. Di sana-sini perjuangan tersebut meletus—menjadi huru-hara.
Kadang kelas buruh memperoleh kemenangan, tetapi hanya untuk sementara waktu. Buah yang sebenarnya dari perjuangan mereka tidak terletak pada hasil yang langsung, tetapi pada semakin meluasnya persatuan kelas buruh. Persatuan ini dibantu terus oleh kemajuan alat-alat perhubungan yang dibuat oleh industri modern dan yang membawa kelas buruh dari berbagai daerah berhubungan satu dengan yang lainnya. Justru perhubungan inilah yang diperlukan untuk memusatkan perjuangan-perjuangan lokal yang banyak itu, yang kesemuanya itu mempunyai sifat yang sama, menjadi satu perjuangan bangsa antara kelas dengan kelas. Tetapi, setiap perjuangan kelas adalah perjuangan politik. Dan persatuan ini, yang untuk mencapainya warga kota-kota pada Zaman Tengah, dengan jalan-jalan mereka yang sangat buruk, memerlukan waktu yang berabad-abad lamanya, namun berkat adanya jalan-jalan kereta api, dicapai oleh proletar modern dalam beberapa-tahun saja.
Terorganisirnya proletar menjadi kelas, yang dengan demikian akan menjadi partai politik, senantiasa dirusak kembali oleh persaingan di kalangan kelas buruh sendiri. Tetapi ia selalu bangun kembali, lebih kuat, lebih teguh, lebih perkasa. Ia memaksakan pengakuan undang-undang atas kepentingan-kepentingan tertentunya dengan jalan menggunakan perpecahan di kalangan borjuis sendiri. Maka lahir lah undang-undang sepuluh-jam kerja di Inggris.
Kesimpulannya, bahwa bentrokan-bentrokan antara kelas dengan kelas di dalam masyarakat lama, dengan berbagai cara, mendorong maju perkembangan proletariat. Borjuis terlibat dalam perjuangan terus-menerus. Mula-mula dengan aristokrasi; kemudian dengan bagian-bagian dari borjuis itu sendiri, yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan kemajuan industri; dan dengan borjuis negeri-negeri asing, semuanya. Di dalam segala perjuangan tersebut borjuis merasa terpaksa berseru kepada proletariat, meminta bantuannya, dan dengan begitu menarik proletariat kedalam gelanggang politik. Oleh karena itu, borjuis sendiri membekali proletariat dengan anasir-anasir politik dan pendidikan-umumnya sendiri, dengan perkataan lain, ia melengkapi proletariat itu dengan senjata-senjata untuk melawan borjuis.
Selanjutnya, sebagaimana yang telah kita ketahui, golongan-golongan seluruh kelas yang berkuasa, dengan majunja industri, tercampak menjadi proletariat, atau setidaknya terancam syarat-syarat hidupnya oleh syarat-syarat hidup yang ada sekarang ini. Hal ini juga memberikan kepada proletariat anasir-anasir kesedaran dan kemajuan yang segar.
Akhirnya, ketika perjuangan kelas mendekati saat yang menentukan, proses kehancuran yang berlaku terhadap kelas yang berkuasa, atau pada hakekatnya terhadap seluruh masyarakat lama seutuhnya, mencapai watak yang sedemikian keras dan tegasnya, sehingga segolongan kecil kelas yang berkuasa memutuskan hubungannya dan menyatukan diri dengan kelas yang revolusioner, kelas yang memegang hari depan di tangannya. Oleh karena itu, sama seperti ketika zaman terdahulu, saat segolongan kaum bangsawan memihak borjuis, maka sekarang segolongan borjuis memihak proletariat, terutama segolongan ideolog borjuis yang telah mengangkat dirinya sampai pada taraf memahami teori gerakan yang bersejarah tersebut secara menyeluruh.
Dari semua kelas yang sekarang berdiri berhadapan dengan borjuis, hanya proletariat lah satu-satunya kelas yang betul-betul revolusioner. Kelas-kelas lainnya melapuk dan akhimya lenyap ditelan industri besar, hanya proletariat lah yang hasilnya istimewa dan hakiki.
Kelas antara/tengah rendahan, pemilik pabrik kecil, pemilik toko kelontongan, pengrajin, petani, semuanya berjuang melawan borjuis, untuk menyelamatkan hidup mereka sebagai golongan kelas antara/tengah agar terhindar dari kemusnahan. Oleh karena itu mereka tidak revolusioner, konservatif. Bahkan lebih dari itu, mereka itu reaksioner, karena mereka mencoba memutar kembali roda sejarah. Jika secara kebetulan mereka itu revolusioner, maka mereka berlaku demikian itu hanya lah karena melihat bahaya yang sedang mendekat, berupa kehancuran mereka menjadi proletariat, jadi mereka tidak membela kepentingan-kepentingannya yang sekarang, tetapi kepentingan-kepentingannya di masa datang, mereka meninggalkan pendiriannya sendiri untuk menempatkan dirinya pada pendirian proletariat.
Proletariat-gelandangan (lumpen-proletariat), massa yang membusuk secara pasif dari kalangan lapisan terendah masyarakat lama, disana-sini terseret kedalam gerakan revolusi proletar; akan tetapi, karena syarat-syarat hidupnya, menjadikan ia lebih condong melakukan peranan sebagai perkakas yang dapat disuap untuk mengadakan huru-hara reaksioner.
Syarat-syarat hidup masyarakat lama dihancurkan oleh syarat-syarat hidup proletariat. Proletar tidak mempunyai hak pemilikan; hubungannya dengan isteri dan anaknya tidak ada persamaannya dengan hubungan keluarga borjuis; kerja industri modern, penundukan modern di bawah kapital, yang sama saja baik di Inggris maupun di Prancis, di Amerika maupun di Jerman, telah menghilangkan segala bekas-bekas watak bangsanya. Undang-undang, moral, agama, baginya adalah sama dengan segala prasangka borjuis, yang dibelakangnya bersembunyi segala macam kepentingan-kepentingan borjuis.
Semua kelas terdahulu, yang sudah memperoleh kekuasaannya, berusaha memperkuat kedudukan yang telah diperolehnya dengan menundukkan masyarakat keseluruhannya kepada syarat-syarat pemilikan mereka. Proletar tidak dapat menjadi tuan atas tenaga-tenaga produktif masyarakat kecuali dengan menghapuskan cara pemilikannya, dan dengan begitu menghapuskan juga segala cara pemilikan lain yang terdahulu. Mereka tidak mempunyai sesuatu apa pun yang harus dilindungi dan dipertahankan, tugas mereka ialah menghancurkan segala perlindungan dan jaminan yang terdahulu atas milik perseorangan.
Semua gerakan sejarah yang terdahulu adalah gerakan dari minoritas-minoritas, atau untuk kepentingan minoritas. Gerakan proletar adalah gerakan yang sedar-diri dan berdiri sendiri di antara mayoritas yang melimpah, namun juga mengabdi pada kepentingan majoritas yang melimpah. Proletariat, lapisan yang paling rendah dari masyarakat kita sekarang, tidak dapat bergerak, tidak dapat mengangkat dirinya ke atas, tanpa hancur luluhnya seluruh lapisan atas masyarakat yang resmi.
Walaupun tidak dalam isinya, tetapi dalam bentuknya, perjuangan proletariat melawan borjuis adalah mula-mula suatu perjuangan di satu bangsa. Proletariat di masing-masing negeri tentu saja pertama-tama harus membuat perhitungan dengan borjuisnya sendiri. Dalam melukiskan fase-fase paling umum perkembangan proletariat, kita bisa mengurut jejak peperangan di dalam negeri, yang lebih atau kurang tersembunyi, yang bergolak, di dalam masyarakat yang ada, sampai pada titik di mana peperangan itu meletus menjadi revolusi terang-terangan, dan akhirnya penggulingan borjuis dengan kekerasan guna meletakkan landasan bagi kekuasaan proletariat.
Hingga kini, sebagaimana yang telah kita ketahui, segala bentuk masyarakat didasarkan atas antagonisme antara kelas dengan kelas, antara kelas yang menindas dengan kelas yang ditindasnya. Tetapi untuk dapat menindas suatu kelas, harus lah dijamin syarat-syarat tertentunya, setidaknya dapat melanjutkan hidupnya sebagai budak. Si hamba, dalam zaman perhambaan, meningkatkan dirinya menjadi anggota komune, seperti juga halnya dengan si borjuis kecil, di bawah penindasan absolutisme feodal, mengembangkan dirinya menjadi borjuis. Sebaliknya, buruh modern bukannya terangkat naik dengan adanya kemajuan industri, tetapi bahkan senantiasa makin jatuh merosot di bawah syarat-syarat hidup kelasnya sendiri. Ia menjadi orang melarat, dan kemelaratan berkembang lebih cepat dari pada penduduk dan sumber kekayaan. Dan, dengan demikian, menjadi terang lah bahwa borjuis tidak pada tempatnya lagi untuk menjadi kelas yang berkuasa dalam masyarakat, sudah tidak mampu lagi untuk memaksakan syarat-syarat hidupnya kepada masyarakat sebagai undang-undang yang menentukan. Ia tidak cakap memerintah karena ia tidak mampu menjamin penghidupan bagi budaknya di dalam rangka perbudakannya itu, karena ia terpaksa membiarkan budaknya tenggelam ke dalam keadaan yang sedemikian rupa sehingga ia harus memberi makan kepada budaknya, dan bukannja ia diberi makan oleh budaknya. Masyarakat tidak dapat lagi hidup di bawah borjuis seperti ini, dengan perkataan lain, keberadaan borjuis tidak dapat didamaikan lagi dengan masyarakat.
Syarat terpokok untuk hidup dan berkuasanya kelas borjuis adalah terbentuknya dan bertambah besarnya kapital; syarat untuk kapital ialah kerja-upahan. Kerja-upahan semata-mata bersandar pada persaingan di kalangan kelas buruh sendiri. Kemajuan industri, yang pendorongnya dengan tak sengaja adalah borjuis, merubah keterpencilan kelas buruh yang disebabkan oleh persaingan, hingga ia kini bergabung secara revolusioner karena perserikatan. Perkembangan industri besar, karenanya, merenggut dari bawah kaki borjuis landasan borjuis untuk menghasilkan dan memiliki hasil-hasil produksi. Oleh sebab itu, apa yang dihasilkan oleh borjuis ialah, terutama sekali, penggali-penggali liang kuburnya sendiri. Keruntuhan borjuis dan kemenangan proletariat adalah sama-sama tak dapat dielakkan lagi.
****
(1) Karl Marx dan Engels: Manifesto Komunis bagian I.
(Dipublikasikan untuk kepentingan pendidikan)
Minggu, 09 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar