Sulit, Berkomitmen pada Lingkungan
Ditulis oleh Richard Simbolon
Ditengah hingar binger berbagai peristiwa politik, publik luput dari peristiwa amat penting yang sedang berlangsung di sebuah kota penting di Eropa, yaitu Kopenhagen, Denmark. Padahal disana, sedang berlangsung pembicaraan dalam konferensi Perubahan Iklim (Clime Change Summit) tahun 2009. disana, kembali hendak dirumuskan poin-poin penting sebagai lanjutan dari Protokol Kyoto yang akan segera berakhir masa berlakunya. Dunia menanti komitmen baru yang dianggap lebih realistis untuk mencegah bencana dan dampak buruh terhadap keberlangsungan kehidupan manusia dipermukaan bumi ini.
Sekarang ini bencana besar sedang mengancam keberlangsungan hidup manusia. Di luar pemutaran film fiksi 2012 (gejala hempasan partikel-partikel badai matahari)yang pembuatan dan penayangannya mendapatkan kritik dari berbagai pihak baik dari pihak di dalam maupn luar negeri, dengan mulai muncul banyak bencana alam, banjir, longsor, tsunami dan sebagainnya. Bencana itu memang beberapa diantaranya masih berupa perkiraan/prediksi (ramalan dari gejala-gejala alam). Diprediksikan beberapa kota besar di pulau jawa, termasuk Jakarta akan tenggelam diakibatkan oleh naiknya permukaan air laut (Rob). Diprediksikan juga, beberapa pulau-pulau kecil akan tenggelam termasuk juga 43 negara yang berada di pasifik yang terdiri dari pulau-pulau kecil.
Skenario akan tenggelamnya pulau-pulau dan wilayah daratan yang menjorok kelaut (tanjung/teluk) memang kemungkinan masih jauh terlaksananya. Ada prediksi di tahun 2020, 2050, dan 2100. namun ada satu fakta yang ilmiah dan dapat dipertanggung-jawabkan adalah bahwa bencana tersebut diperkirakan akan terjadi. Tenggelamnya pulau dan wilayah daratan memang salah satu perkiraan. Perkiraan yang lainnya adalah semakin langkanya sumber daya pangan, munculnya gagal panen, penyakit pada tanaman dan hewan yang berakibat negatif pada keberlangsungan hidup manusia di permukaan bumi, munculnya banjir dan bencana alam lainnya berupa kekeringan (badai panas elnino), longsor, gunung meletus, tsunami, persoalan gangguan kesehatan (Virus H1N1, Virus H5N1 dan sebagainya) serta berbagai dampak sosial lainnya.
Kenaikan temperatur/suhu permukaan bumi diperkirakan menjadi penyebabnya. Temperatur/suhu permukaan bumi diperkirakan akan semakin meningkat kalau tidak dilakukan sebuah upaya penanggulanan untuk mencegah naiknya temperatur/suhu permukaan bumi ini. Untuk saat ini, skenario terburuk adalah pada kenaikan temperatur di atas 2 derajat setiap tahunnya. Dengan perkiraan tingkat kenaikan temperatur sedemikian, maka kecepatan kerusakan lingkungan menjadi setengah dari kecepatan pada periode sebelumnya.
Membangun komitmen global pada tingkat pemerintahan memang amat sulit. Di Kopenhagen, telah berlangsung pertemuan yang dihadiri oleh kepala-kepala negara dan kepala-kepala pemerintahan baik negara-negara maju/industrial, penghasil emisi gas karbon terbesar—yang hampir 60% diproduksi oleh negara maju tersebut. Maupun negara-negara selatan yang selama ini dituduh telah merusak lingkungannya dengan melakukan penebangan kawasan hutan mereka diluar batas toleransi normal. Yang mana pada pertemuan tersebut dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun menjelang pertemuan tersebut, masih terjadi tarik-ulur secara khusus menyangkut komitmen negara maju/industrial dalam hal ini Amerika Serikat, negara-negara amerika utara, RRC, Jepang, Korea Selatan, Jerman, Inggris dan negara-negara maju/industrial lainnya di wilayah eropa barat. Yang masih dianggap tidak serius dalam hal ikut bertanggung-jawab menanggulangi dampak pemanasan global (global warming)—padahal negara-negara industrial tersebut dianggap ikut serta melepas emisi gas karbon dioksida (CO2) ke permukaan bumi (atmosfir) yang mengakibatkan terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) secara berlebihan dan berdampak sangat negatif terhadap keberlangsungan ekosistem kehidupan dipermukaan bumi.
Konsekuesi kenaikan pelepasan emisi gas ke permukaan bumi (atmosfir) yang mengakibatkan terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) memang cukup besar. Salah satu diantaranya adalah pada menurunnya tingkat ekonomi negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia yang mengakibatkan terjadinya kekeringan (fuso), gagal panen, naiknya permukaan laut, banjir bandang akibat penebangan/eksploitasi sumber daya hutan dalam skala besar dan lain sebagainya. Sayangnya masih besar keinginan negara-negara maju/industrial untuk menurunkan emisi gas mereka secara berlahan-lahan hingga 2030. Tetapi justru menekan dan meminta negara-negara berkembang lainnya seperti Indonesia dan Brasil untuk melakukan tindakan tegas untuk mengatur reboisasi hutan-hutan tropis mereka. Padahal di banyak negara, termasuk di eropa, antisipasi banyak dilakukan, antara lain dengan menggunakan sumber energi alternatif atau mencoba meningkatkan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan melalui penerapan apa yang disebut dengan produk ramah lingkungan atau go green product.
Massifnya produksi emisi gas di negara-negara industrial dan ketakutan-ketakutan terhadap dampak penurunan ekonomi memang masih menjadi sumber persoalan hingga kini—negara-negara industrial masih banyak yang enggan menerapkan Protokol Kyoto. Selama pemerintahan George Bush di masa lalu, Amerika Serikat ngotot tidak ikut di dalam mekanisme penurunan emisi. Di awal pemerintahannya, Barack Obama menyatakan akan menandatangani rencana penurunan emisi secara bertahap. Namun realisasinya kelihatan tidak semudah dari apa yang pernah diucapkan oleh Tuan Barack Obama, Presiden Amerika Serikat. Yang akan menurunkan secara perlahan-lahan emisi gas hingga tahun 2030.
Apakah kita akan berdiam diri, menunggu hingga bumi ini porak-poranda dan timbul kemiskinan dimana-mana, kelaparan serta terjadi peperangan untuk mempertahankan kehidupan ini. Akibat eksploitasi dari sistem ekonomi kapitalisme yang sangat serakah dan tak mengenal perikemanusiaan? Atau kita harus segera melakukan tindakan-tindakan nyata, kongkrit dan progresif. Dengan merubah sistem dan mekanisme kearah yang lebih adil, setara dan tidak saling menghisap dan tidak saling menindas manusia satu dengan manusia lainnya.
Tindakan-tindakan nyata, kongkrit dan progresif yang disarankan:
1. Penggunaan emisi gas karbon dioksida, mobil-mobil yang boros bahan bakar sebaiknya lebih diefisienkan.
2. Mengganti bahan bakar minyak dengan tenaga tata surya yang ramah lingkungan.
3. Reboisasi/penghijauan kembali hutan-hutan yang sudah ditebang untuk mengurangi kadar karbon dioksida.
4. Penganekaragaman bahan bakar minyak, gas, tenaga listrik, bahkan tenaga tata surya.
5. Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia sebaiknya melakukan pemeliharaan kendaraan emisi gas karbon dioksida atau dengan kata lain melaksanakan program Langit Biru untuk mengurangi kadar polusi udara yang sudah di ambang batas – terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.
6. Efek rumah kaca yang tidak terkendali dapat menyebabkan perubahan ekologi yang sulit ditebak, seperti perubahan suhu dan pola hutan yang mengurangi produktivitas pertanian.
7. Kerugian Indonesia di bidang pertanian karena perubahan iklim yang disebabkan oleh dampak efek rumah kaca diperkirakan sangat besar. ANGLAS (Asian Least Gost Greenhouse Gas Abatement Strategy) memaparkan bahwa efek rumah kaca mengakibatkan antara lain: naiknya permukaan air laut, krisis air bersih, meningkatnya frekuensi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, rusaknya infrastruktur daerah tepi pantai, dan menurunnya produksi pertanian.
Dampak Pencemaran Udara Bagi Manusia
Selain mempengaruhi keadaan lingkungan alam, pencemaran udara juga membawa dampak negatif bagi kehidupan makhluk hidup (organisme), baik hewan, tumbuhan dan manusia.
Dampak pencemaran udara bagi manusia, antara lain:
1. Karbon monoksida (CO)
Mampu mengikat Hb (hemoglobin) sehingga pasokan O2 ke jaringan tubuh terhambat. Hal tersebut menimbulkan gangguan kesehatan berupa; rasa sakit pada dada, nafas pendek, sakit kepala, mual, menurunnya pendengaran dan penglihatan menjadi kabur. Selain itu, fungsi dan koordinasi motorik menjadi lemah. Bila keracunan berat (70 – 80 % Hb dalam darah telah mengikat CO), dapat menyebabkan pingsan dan diikuti dengan kematian.
2. Nitrogen dioksida (SO2) -- Dapat menyebabkan timbulnya serangan asma.
3. Hidrokarbon (HC) -- Menyebabkan kerusakan otak, otot dan jantung.
4. Chlorofluorocarbon (CFC) -- Menyebabkan melanoma (kanker kulit) khususnya bagi orang-orang berkulit terang, katarak dan melemahnya sistem daya tahan tubuh
5. Timbal (Pb) -- Menyebabkan gangguan pada tahap awal pertumbuhan fisik dan mental serta mempengaruhi kecerdasan otak.
6. Ozon (O3) -- Menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan terasa terbakar dan memperkecil paru-paru.
7. NOx -- Menyebabkan iritasi pada paru-paru, mata dan hidung.
Dampak Pencemaran Udara Bagi Hewan
Dampak pencemaran udara bagi kehidupan hewan, antara lain:
1. Penipisan lapisan ozon -- Menimbulkan kanker mata pada sapi, terganggunya atau bahkan putusnya rantai makanan pada tingkat konsumen di ekosistem perairan karena penurunan jumlah fitoplankton.
2. Hujan asam -- Menyebabkan pH air turun di bawah normal sehingga ekosistem air terganggu.
3. Pemanasan global -- Penurunan hasil panen perikanan.
Selain membawa dampak negatif pada kehidupan hewan, pencemaran udara juga mampu merusakkan bangunan dan candi-candi. Iklim dunia yang berubah polanya mengakibatkan timbulnya kemarau panjang, bencana alam dan naiknya permukaan laut. Kemarau panjang memicu terjadinya kebakaran hutan dan menurunnya produksi panen, bencana alam (banjir, gempa, tsunami) banyak terjadi dan permukaan laut yang meninggi akan mengakibatkan tenggelamnya pulau-pulau kecil dan daerah-daerah pesisir pantai.
Dampak Pencemaran Udara Bagi Tumbuhan
Dampak pencemaran udara terhadap kehidupan tumbuhan, antara lain:
1. Hujan asam
- Merusak kehidupan ekosistem perairan, menghancurkan jaringan tumbuhan (karena memindahkan
- Zat hara di daun dan menghalangi pengambilan Nitrogen) dan mengganggu pertumbuhan
tanaman.
- Melarutkan kalsium, potasium dan nutrien lain yang berada dalam tanah sehingga tanah akan berkurang kesuburannya dan akibatnya pohon akan mati.
2. Penipisan Lapisan Ozon
- Merusak tanaman, mengurangi hasil panen (produksi bahan makanan, seperti beras, jagung dan kedelai), penurunan jumlah fitoplankton yang merupakan produsen bagi rantai makanan di laut.
3. Pemanasan global
- Penurunan hasil panen pertanian dan perubahan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati dapat berubah karena kemampuan setiap jenis tumbuhan untuk bertahan hidup berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya.
4. Gas CFC
- Mengakibatkan tumbuhan menjadi kerdil, ganggang di laut punah, terjadi mutasi genetik (perubahan sifat organisme).
Dipublikasikan untuk kepentingan pendidikan.
Sabtu, 01 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar