Renungan Seorang Anak Muda tentang Memilih Pekerjaan
Ditulis oleh: Karl Marx
Alam telah menetapkan ruang aktivitas di mana binatang harus bergerak, dan binatangpun menjalani hidupnya di dalam ruang tersebut dengan setianya tanpa berusaha untuk bergerak melampauinya, tanpa ada rasa iri terhadap ruang dari binatang yang lain. Terhadap manusia, Yang Ilahi pun telah menetapkan tujuan yang general kepadanya, yaitu untuk memuliakan umat manusia dan dirinya sendiri. Hanya saja, Yang Ilahi membiarkan manusia untuk menemukan jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Dia membiarkan manusia untuk memilih peran yang cocok buat dirinya di dalam kehidupan bersama, peran yang akan paling bisa memungkinkannya untuk meninggikan derajat dirinya dan kehidupan bersama.
Kesanggupan untuk memilih inilah yang merupakan kelebihan terbesar manusia dibandingkan segenap makhluk lainnya. Namun, pada saat yang bersamaan, kesanggupan itu juga akan bisa menghancurkan seluruh kehidupannya, menggagalkan segenap rencananya, dan menjadikannya tidak bahagia. Oleh karena itulah, tugas pertama dari seorang anak muda yang ingin memulai perjalanan hidupnya dan yang tak ingin membiarkan keputusan-keputusan penting dalam hidupnya ditentukan semata-mata oleh roda nasib ialah memikirkan secara seksama bidang pekerjaan apa yang akan dipilihnya.
Setiap orang pastilah memiliki sebuah tujuan dalam hidupnya, tujuan yang dianggapnya sebagai tujuan yang besar. Tujuan itu sesungguhnya akan menjadi tujuan yang besar manakala tujuan itu karena lahir dari lubuk jiwanya yang terdalam, dari suara hatinya yang terdalam, karena memang Yang Ilahi tak pernah membiarkan manusia yang fana itu sepenuhnya tanpa pedoman. Yang Ilahi senantiasa berbicara kepada manusia secara halus namun pasti.
Namun suara Yang Ilahi ini mudah sekali tenggelam, dan apa yang kita anggap sebagai ihlam bisa jadi adalah produk momen sesaat, yang sesaat kemudian akan lenyap. Imajinasi kita bisa jadi penuh cita, emosi-emosi kita mungkin begitu bergelora, dan di hadapan kita, mungkin melintas bayang-bayang gaib, namun yang terjadi sesungguhnya ialah kita tenggelam sepenuhnya dalam apa yang disuarakan oleh naluri kita kepada kita, dan suara itu kita anggap sebagai petunjuk dari Yang Ilahi, sehingga, apa yang kita rangkul sepenuh hati tak lama kemudian melawan kita dan segenap kehidupan kitapun hancur berantakan.
Karena itu, kita harus memeriksa secara sungguh-sungguh apakah kita memeng telah benar-benar memilih bidang pekerjaan kita berdasarkan ihlam yang disetujui oleh suara batin kita yang terdalam, ataukah ihlam tersebut hanya sebuah penipuan belaka dan yang kita anggap sebagai yang berasal dari Yang Ilahi ternyata berasal dari penipuan diri. Namun bagaimana cara kita mengenali beda di antara keduanya selain lewat melacak asal mula darimanakah ilham tersebut?
Sesuatu yang sangat megah, kemegahannya bisa merangsang ambisi, dan ambisi dengan mudahnya akan melahirkan ihlam, atau yang kita anggap sebagai ihlam. Dan dalam diri orang yang telah tergoda oleh kejahatan ambisi, tak ada kesempatan bagi akal budi untuk melawannya. Orang itupun tenggelam ke dalam apa saja yang dinasehatkan oleh nalurinya. Maka, bukan dia yang memilih peran apa yang dimainkannya, namun roda nasib dan ilusi-lah yang memilih untuknya.
Kita pun tak terpangil untuk memainkan peran yang sesungguhnya akan memberikan kesempatan-kesempatan paling hebat buat kita, yaitu peran yang manakala kita jalani selama bertahun-tahun, tidak akan membuat kita letih, tak akan pernah melemahkan semangat kita. Kita malah menjalani peran yang malah menjadikan harapan-harapan kita tak akan terpenuhi, ide-ide kita tak terpuaskan, dan kita pun lalu akan mencela Yang Ilahi dan mengutuk umat manusia.
Sesungguhnya, bukan hanya ambisi yang bisa merangsang antusiasme sesaat terhadap sebuah bidang pekerjaan tertentu. Kita pun bisa tenggelam dalam imajinasi kita, dan sedemikian tenggelamnya sehingga apa yang kita imajinasikan tampak seperti sesuatu yang tertinggi nilainya dalam kehidupan. Padahal kita belum lagi menganalisanya, belum lagi mempertimbangkan segenap beban yang akan kita pikul, segenap tanggungjawab besar yang akan kita jalani. Kita hanya memandangnya dari kejauhan, dan apa yang terlihat dari kejauhan adalah menipu.
Akal budi kita pun tak bisa jadikan sebagai penasihat kita dalam hal ini karena tak ada pengalaman atau pengamatan yang mendalam yang bisa mendukung akal budi kita, sementara emosi kita menipu, dan fantasi kita buta. Jadi, kearah mana kita harus mencari pedoman? Siapa lagi yang akan kita jadikan harapan di saat akal budi tak sanggup?
Orang tua kitalah, yang telah menjalani perjalanan hidup dan yang telah mengalami betapa beratnya takdir, merekalah suara hati yang akan memberikan petunjuk kepada kita.
Dan jika setelah mengikuti nasehat orang tua, antusiasme kita tetap terus menyala, kecintaan kita akan bidang pekerjaan kita tetap terus hidup dan kita menjadi yakin bahwa kita memang terlahir untuk itu setelah kita merenungkannya dalam-dalam, setelah kita merasakan beban-bebannya dan menjadi akrab dengan kesulitan-kesulitan yang harus kita hadapi selama menjalani bidang pekerjaan tersebut, maka bidang pekerjaan itulah yang harus kita jalani karena antusiasme kita tidaklah menipu dan ketergegabahan kita tak akan menyesatkan kita.
Namun, kita tak selalu menempati peran yang kita anggap sebagai panggilan hidup kita. Kita hidup dalam sebuah masyarakat yang telah menentukan apa yang harus kita lakukan sebelum kita berkesempatan untuk menentukannya.
Kondisi fisik kita sendiri seringkali menjadi rintangan yang mengancam, dan kita tak bisa membantahnya.
Memang benar bahwa kita bisa melawan kondisi fisik kita, namun kita akan runtuh dengan begitu cepat karena kita memang tengah berusaha membangun rumah di atas pondasi yang rapuh. Maka, seluruh perjalanan hidup kita adalah sebuah pertarungan yang tak membahagiakan diantara kepentingan batin dan fisik. Dan jika dia tak sanggup merukunkan anasir-anasir yang saling berperang dalam dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia akan sanggup melawan tekanan hidup yang berat, bagaimana mungkin dia bisa bertindak dalam kedamaian? Dan hanya dari kedamaian sajalah, akan tumbuh kehendak-kehendak yang agung dan murni. Kedamaian merupakan satu-satunya tanah tempat dimana tanaman akan tumbuh subur menghasilkan buahnya.
Meskipun kita tak bisa bekerja untuk waktu yang lama dan kita juga jarang yang bisa merasakan kegembiraan dengan kondisi fisik yang tak sesuai dengan bidang pekerjaan yang harus dijalani, namun pikiran kita sanggup terus menerus mengorbankan kesehatan tubuhnya demi menjalankan tugas, sanggup tetap bertindak secara penuh semangat meskipun tubuhnya lemah. Hanya saja, jika kita harus memilih sebuah bidang pekerjaan dimana kita tak memiliki bakat untuk menjalankannya, maka kitapun tak akan pernah bisa menjalankannya secara bermakna. Kita dengan segera akan merasa tak nyaman dengan ketidakcakapan kita dan dalam diri kita, terbersit pandangan bahwa kita adalah manusia yang tak berharga, anggota masyarakat yang tak cakap menjalankan panggilan tugasnya. Maka, konsekuensi paling alami dari situasi yang sedemikian ialah merasa tak berharga (self-contempt), dan perasaan apakah yang lebih menyakitkan dan paling membuat kita berdaya menghadapi apapun yang dihadapkan oleh dunia luar ke hadapan kita selain perasaan tak berharga? Perasaan tak berharga adalah bagaikan seekor ular berbisa yang mencengkeramkan gigitannya ke dada seseorang, menghisap darah kehidupan dari jantungnya dan mencemari darah itu dengan campuran racun kebencian terhadap diri sendiri dan keputusasaan.
Jika pilihan bakat profesi kita yang telah kita tentukan berdasarkan telaah yang seksama ternyata adalah ilusi, maka ilusi itu akan memukul balik kita. Andaipun kekeliruan ilusi itu tidak sampai membuat kita menjadi bahan celaan oleh dunia, kekeliruan itu akan menciptakan penderitaan batin yang lebih dalam ketimbang yang penderitaan karena celaan dunia.
Manakala kita telah memahami hal ini, dan manakala kondisi-kondisi kehidupan kita memungkinkan kita untuk memilih profesi apapun yang kita suka, maka kita harus memilih satu pekerjaan yang akan memberikan perasaan yang bernilai paling tinggi, pekerjaan yang didasarkan pada ide-ide yang kebenarannya kita telah yakini, dan menawarkan kepada kita pekerjaan dengan jangkauan terluas bagi umat manusia, dan bagi kita, pekerjaan itu akan mendekatkan kita lebih dekat pada tujuan besar dimana setiap pekerjaan adalah sarana untuk mencapainya, yaitu kesempurnaan diri.
Yang bernilai itu ialah yang terutama sanggup memuliakan manusia, yang menjadikan tindakan-tindakan dan segenap usaha manusia lebih kokoh, dikagumi oleh khalayak luas dan mencapai kemuliaan yang lebih tinggi lagi.
Namun yang bernilai itu hanya bisa dicapai oleh sebuah pekerjaan dimana didalam mengerjakannya, kita bukanlah sekedar alat yang tak bernilai, namun dimana didalamnya kita bisa bertindak secara merdeka dalam ruang kerja kita. Yang bernilai itu hanya bisa dicapai oleh pekerjaan yang tidak menuntut kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang tercela, meskipun yang tercela itu tidak sungguh-sungguh. Yang bernilai itu hanya bisa dicapai oleh sebuah pekerjaan yang bisa dijalani dengan penuh rasa kemuliaan, dan sebuah pekerjaan yang membuat kita bisa mencapai yang bernilai ini dalam tingkatannya yang tertinggi tidaklah harus selalu pekerjaan yang paling tinggi posisinya, namun yang paing kita sukai.
Sebagaimana sebuah pekerjaan yang tak menjadikan kita bisa mencapai yang bernilai akan memerosotkan diri kita, kita juga akan menjadi hancur berantakan jika memikul beban-beban pekerjaan yang didasarkan pada apa yang kelak baru kita sadari sebagai ide-ide yang keliru.
Pekerjaan-pekerjaan yang tidak sedemikian melibatkan kita dalam kehidupan, namun berurusan dengan kebenaran-kebenaran yang abstrak, merupakan pekerjaan-pekerjaan yang paling berbahaya bagi anak muda yang prinsip-prinsip hidupnya belum lagi kokoh dan masih mudah goyah.
Pada saat yang bersamaan, pekerjaan-pekerjaan tersebut mungkin terlihat sebagai pekerjaan-pekerjaan yang paling luhur jika pekerjaan-pekerjaan itu talah berakar kuat dalam hati kita dan jika kita sanggup mengorbankan kehidupan kita dan segenap daya upaya kita untuk mewujudkan ide-ide yang terkandung di dalam pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Pekerjaan-pekerjaan itu akan menebarkan kebahagiaan bagi umat manusia yang memang terpanggil untuk itu, namun akan menghancurkan dia yang menjalaninya secara gegabah, tanpa refleksi, dan berdasarkan pada impuls sesaat.
Disisi lain, tingginya penghargaan yang kita berikan kepada ide-ide yang menjadi dasar dari pekerjaan kita, akan memungkinkan kita untuk mencapai posisi yang lebih tinggi dalam, meninggikan rasa berharga dalam diri kita, dan menjadikan tindakan-tindakan kita tak tergoyahkan.
Dia yang memilih sebuah pekerjaan yang dia anggap bernilai tinggi, tidak akan bersedia menganggapnya sebagai pekerjaan yang hina. Dia akan bertindak mulia hanya semata-mata karena posisinya dalam masyarakat merupakan sebuah posisi mulia.
Namun yang harus menjadi pedoman utama bagi kita saat memilih sebuah pekerjaan ialah kemakmuran umat manusia dan kesempurnaan diri kita. Kedua hal tersebut tak bisa dipandang sebagai sesuatu yang bertentanganm sesuatu yang akan saling menghancurkan, karena justru sebaliknya, kodrat manusia itu sedemikian rupa sehingga dia hanya bisa mencapai kesempurnaan dirinya dengan bekerja demi kebaikan sesama manusia.
Jika dia bekerja hanya demi dirinya semata, dia mungkin akan menjadi seorang pemikir yang terkenal, menjadi seorang bijak yang besar, menjadi seorang penulis puisi yang hebat, namun dia tak pernah menjadi seorang manusia yang sungguh-sungguh sejati dan sempurna.
Sejarah menggelari mereka yang mengabdikan dirinya untuk bekerja demi kebaikan bersama sebagai Manusia-manusia Besar; dan pengalaman memperlihatkan bahwa mereka yang berusaha menciptakan kebahagiaan bagi banyak orang adalah manusia yang paling berbahagia; dan agama menggelari mereka yang berjuang mengabdikan dirinya demi kepentingan umat manusia sebagai manusia sejati, dan adakah yang bisa membantah semua penilaian itu?
Saat kita telah memilih peran dalam kehidupan dimana dalam peran tersebut kita bisa mengarahkan hampir segenap pekerjaan kita bagi kepentingan umat manusia, maka tak akan ada beban yang bisa melemahkan diri kita karena beban tersebut memang adalah pengorbanan yang harus kita jalani demi kebaikan segenap manusia. Kitapun mengalami kegembiraan yang tak dangkal, terbatas dan egois sifatnya, karena kebahagiaan kita terletak dalam kebahagiaannya jutaan manusia. Semangat kita akan terus menyala secara halus namun abadi dalam bekerja, dan saat kita telah meninggalkan bumi ini, tetesan air mata dari manusia-manusia yang mulia akan menemani abu kita.
Ditulis: antara 10 dan 16 Agustus 1835
Sumber: www.marxists.org/archive/marx/works/1837-pre/marx1835-ref.htm
Judul asli: Reflections of a Young Man on The Choice of a Profession
Selasa, 27 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar